Press "Enter" to skip to content

3 Adab dalam Berpuasa Ramadhan

Sama halnya dalam bemuamalah, ibadah puasa Ramadhan juga bentuk muamalah manusia dengan tuhannya. Ia adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah, sesuai dengan hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah;

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amalan manusia adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa itu untukku dan aku yang akan memberikan pahalanya”. (HR. Bukhari, No. 5472)

Dalam bermuamalah sesama manusia ada adab dan etikanya, begitu juga dalam berpuasa, karena memiliki hubungan transendental langsung dengan Allah. Banyak sekali hadis yang membahas tentang adab dan etika, setidaknya ada tiga adab yang bisa kita praktikan dalam menjalankan puasa Ramadhan.

Pertama, menjaga lisan dan tingkah laku.

Dari lisan orang bisa diangkat derajat dan muru’ahnya, dan dari lisan juga orang dapat terjerumus dalam dosa dan kehinaan. Begitu juga dengan tingkah laku atau akhlak yang buruk. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasul bersabda;

 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan berbuat keji, Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari, No. 1770)

Dalam hadis lain juga dijelaskan, orang-orang yang berpuasa tapi tidak bisa menahan lidah dan perbuatannya dari berbuat maksiat, maka puasanya hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Puasanya kering dari makna dan keberkahan.

Kedua, mempercepat berbuka puasa.

Adab kedua dalam berpuasa adalah mempercepat berbuka puasa. Selain dianjurkan berbuka dengan makanan yang manis, mendahulukan berbuka daripada shalat maghrib juga dilakukan sahabat dan Nabi di bulan Ramadhan. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. (HR. Bukhari, No. 1821)

Di dalam Sunan Tirmizi juga terdapat hadis keutamaan orang yang mendahulukan berbuka puasa. Hadis itu diriwayatkan dari Abu Hurairah;

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَحَبُّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

“Allah berkata: orang yang paling aku cintai adalah orang yang mendahulukan buka puasanya” (HR. Tirmizi, No. 636)

Ketiga, mengakhirkan sahur.

Selain mendahulukan berbuka, adab ke tiga adalah mengakhirkan sahur. Hal ini sesuai dengan ajaran nabi dan banyak sekali hadis yang berbicara tentang ini. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mengakhirkan sahir dan mempercepat berbuka puasa”. (HR. Ahmad, No. 20530)

Hadis lain yang serupa diriwayatkan dari Anas bin Malik:

كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

“Berapakah lama antara sahur dan masuknya waktu shalat? Rasul berkata; sebanyak 50 bacaan ayat al-Quran”. (HR. Bukhari, No. 542)

Tiga adab di atas adalah sunah dari Nabi. Kita dianjurkan melaksanakan semua sunah Nabi agar dapat mendapatkan keberkahan dan manfaat dari puasa Ramadhan tahun ini. Semoga kita semua dapat menjalankan seluruh perintah Allah dan sunah Nabi-Nya.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *