Press "Enter" to skip to content

Aku Jatuh Cinta Lagi pada Mantan Suamiku

Waktu Baca:2 Menit, 49 Detik

Istinbat hukum fikih menjadi semakin kompleks dengan adanya kasus-kasus baru dan spesifik di era kini. Tidak seperti di zaman Nabi yang seketika semua kasus bisa diadukan dan mendapatkan solusi di waktu yang sama. Itulah kenapa, istinbat hukum selalu berkembang bersama zaman dan masalah yang timbul bersamanya.

Untuk menasir kesimpulan hukum dari suatu masalah baru dan belum pernah dibahas oleh Nabi, kita mengenal banyak sekali metode, salah satunya adalah Qiyas. Qiyas adalah mengukur suatu dengan sesuatu yang lain untuk mencari kesamaan hukum di antara keduanya. Sederhananya mencari hukum suatu kasus dengan mencari titik kesamaan dengan hukum yang lain.

Contoh mudahnya seperti hukum menggunakan ganja. Tidak ada dalam hadis atau ayat yang secara spesifik menerangkan tentang hukum menggunakan ganja. Sebab itu perlu alternatif untuk menjelaskan hukumnya. Berijtihadlah ulama dengan metode Qiyas, mencari kesamaan hukum ganja dengan hukum yang lain.

Berkaitan dengan ganja. Ganja sendiri adalah tanaman psikotropika yang dapat membuat orang fly, lupa diri atau tidak sadarkan diri. Ini memiliki efek yang berbahaya, dapat merusak tubuh dan pada dosis tertentu bahkan bisa mematikan.

Di sisi lain, terdapat khamr atau minuman keras. Hukum mengkonsumsi minuman keras jelas, haram. Sebagaimana riwayat Ibnu Umar, “Setiap yang memabukkan –menghilangkan kesadaran, lupa diri, atau ngefly- adalah khamar, dan setiap khamar adalah haram”. Kemudian karen ada kemiripan efek dari ganja –berbahaya, membuat tidak sadarkan diri, nge-fly–, maka di-Qiyas-kan ganja mirip dengan khamar. Kemudian ditariklah hukum mengkonsumsi ganja disamakan seperti mengkonsumsi khamr.

Begitu juga dengan istinbat hukum pada kasus yang lebih kompleks lainnya. Contoh lain seperti pertanyaan “bagaimana hukum perempuan yang melakukan interaksi atau silaturrahmi dengan mantan suami yang sudah beristri lagi?”

Tentu kasus yang spesifik seperti ini tidak mudah dicari dasar hukumnya di dalam quran dan hadis. Oleh karena itu perlu penangan yang spesifik juga.

Dalam kehidupan bersosial manusia tidak bisa terlepas dari naluri alami untuk berkomunikasi. Dalam agama Islam sendiri berkomunikasi disebut juga dengan silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan. Jika diartikan secara leterlek, artinya menyambung kasih sayang.

Dalam kasus ini nilai positif silaturahmi dibenturkan dengan kasus “kalau saya bersilaturahmi –komunikasi via daring/langsung– dengan mantan suami saya, bisa beresiko tumbuh rasa lagi dengannya, sementara dia sudah menikah lagi”. Jadi bagaimana cara mengatasinya?

Pertama, kita lihat dari kacamata sosial. Secara sosial tentu melakukan silaturahmi itu wajib hukumnya, karena memutus silaturahmi itu haram. Sesuai dengan hadis Nabi yang berbunyi “tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi” (HR. Muslim, No. 2556).

Kedua, kalau memang menjaga silaturahmi itu wajib, bagaimana hukumnya melakukan silaturahmi yang memiliki potensi mafsadah (merusak)?

Dalam suatu kaidah kitab ushul fiqih dalam buku mabadi al-awwaliyah karya Abdul Hamid Hakim, beliau mengatakan: دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ yang artinya, “meninggalkan hal yang berkemungkinan dapat membuat kerusakan, lebih diutamakan daripada melakukan maslahat (kebaikan)”.

Dari kasus diatas dapat kita simpulkan, bahwasanya meninggalkan komunikasi atau silaturahmi dengan mantan suami yang sudah beristri itu lebih diutamakan. Begitu juga sebaliknya, jika dengan bersilaturahmi atau menjalin komunikasi memiliki kemungkinan untuk merusak rumah tangga orang lain maka hukumnya bisa haram.

Jika dilihat dari sudut pandang lain, komunikasi mantan istri dan suami dalam kasus ini akan berdampak besar pada istri baru sang suami.

Terus, apakah harus meninggalkan komunikasi sepenuhnya atau memutus silaturahmi? Jawabannya, tidak. Komunikasi istri dengan mantan suami tetap bisa dilakukan dengan catatan “tidak memberikan muhdarat atau tidak memberi kesempatan untuk menimbulkan hal yang bermudharat”.

Facebook Comments
Latest posts by Redaksi (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *