Aku Mengajarinya Ngaji

Aku adalah seorang wanita hina, siapa bilang suci, sholihah, burungpun mungkin tak sudi melihatku, pohon-pohonpun tak sudi memberi kesejukan untukku. Kaki ini melangkah, melaju mengikuti arus pikirannya. Menolak hal-hal yang bukan menjadi idealismenya. Ya, wanita ini tinggi, bukan tinggi badannya, namun tinggi mimpinya. Aibnya tak dapat dimaafkan lagi, namun Allah berkehendak lain.

Wanita ini, dijadikannya seorang guru, guru anak-anak yang merah akan agama. Taksudi. Pasti, untuk apa aku mengajari, sedang aku kurang ajar begini. Batinku, Allah dekatkan aku dengan teman-teman yang tinggi akan ilmu agama, baik laki-laki ataupun wanita, dikepungnya ia dalam selimutan suci. Hatinya semula memang keras, semakin lama, lembut seperti ulat sutra.

Besok kamu ngajar ya, bantu saya mengelola pondok pesantren.” Pinta ustadz Hida

Ha? Mboten pak, saya hanya ingin mengkhatamkan Qur’an saya mawon, ndak lebih. Kalau hanya bantu bantu dikit, insyAllah ndakpapa.

Ya, dikit aja kok.

Pikiran ini adem, beban tidak seton setidaknya. Hari pertama masuk. Kok sepi, aih ini seperti kos. Batinku. Gampanglah. Beban ini, amanah ini menggangu fikiranku. Keberadaanku kemari tak mungkin hanya numpang tidur gratis, aku ajari mereka sholat berjamaah, layaknya pak yai, guruku dulu ajarkan ke aku.

Dimulai dari satu orang. Alhamdullilah nurut, tidak berontak. Ucap syukurku. Mereka melihatku. Aku selalu tidak membersamai keputihan selama sholat. Itu najis, aku selalu melepaskan barang apaun itu jika terkena atau tersentuh keputihan. Mereka melihat dan mereka bertanya. “Kenapa?” Ku jawab “itu najis hukumnya. Coba aja cium.” Mereka mengguguku dan meniruku.

Aku selalu meninggalkan mereka pagi hari dan pulang menjelang maghrib. Mereka menungguku, membukakan pintu untukku. Berlanjut hari ke -10. Aku diamanahi memegang santri sebanyak 13 orang, dan tinggal bersama mereka. Rata-rata mereka berusia 19 tahun selisah  4 tahun dariku. Aku datang ke komplek bercat hijau itu. Disambutnya aku, mereka keluar menarik barangku dan membawakannya kedalam, disediakannya kamar khusus untukku, aku masih melihat diantara mereka keluar komplek tidak berhijab.

Adzan magribpun tiba, kupinta mereka wudu, dan bergegas berjamaah. Mereka mengikuti arahanku. Tidak ada yang membangkang satupun. Semoga ini istiqomah. Akan menjadi hadiah terindah untukku jika mereka benar terbentuk selayaknya santri pada umumnya sekaligus hafal jus’amma.

Kupimpin sholat malam pertamaku dengan mereka, indah rasanya, hati ini menangis melihatku yang di depan. Ku ajari mereka dzikir, kuajari mereka sholawat tibil qulub, kuajari mereka Asmaulhusna. Kulihat jam, masih lama. Ku bentuk lingkaran, ku ajari mereka surah al-Fatihah. Mereka bisa mengaji, hanya satu orang yang cocok dengan bacaanku. Ku pinta satu persatu mengaji dihadapanku.

Aku terkesima karena semangatnya. Beda sekali denganku sewaktu mondok dulu, diakhir sesi kutanya, “kalian suka dengan mengaji?” mereka serentak menjawab “sukaaa.” Jawaban berjamaah itu membuatku luluh, tak kuasa untuk tidak menolak untuk mengajarinya. Aku pinta mereka, pagi setelah subuh untuk setoran hafalan. Mereka menurutiku.

Tengah malam tiba, kudengar mereka membaca asmaul husna, mengaji alfatihah untukku besok. Pipi merah ini menjadi semakin merona, mata ini bengkak bercampur merah, deras air matanya. Sendirian ia dalam kamar, memohon agar dikuatkan dan diampuni segala dosa-dosanya, diterimanya amal kebaikannya disisi-Nya.

Avatar

Zidni Muflikhati

Penulsi adalah mahasiswi Universitas Sebelas Maret

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *