Press "Enter" to skip to content

Al-Mabadi al-‘Asyrah: Sepuluh Prinsip dalam mempelajari Ilmu Hadis

Waktu Baca:4 Menit, 8 Detik

Tidak seperti al-Quran yang sudah pasti kebenarannya dan dijaga langsung oleh Allah. Hadis adalah pusaka Islam kedua setelah Quran yang harus dijaga dan dipelihara oleh para muhaddis. Siapakah muhaddis itu? Mereka adalah para akademisi, santri, cendekiawan, kiyai dan semua orang yang belajar hadis serta ilmunya adalah muhaddis. Mereka inilah yang kelak akan memelihara hadis, memisahkan hadis yang sahih dan maudhu’, menjelaskan pemahaman hadis yang benar dan meluruskan penggunaan yang salah.

Menjadi muhaddis bukan hal yang sederhana. Tanpa latar belakang yang jelas, tidak semua orang bisa menyentuh teks-teks suci hadis. Ibarat orang yang memanen madu lebah, ia harus tahu tata cara dan alat yang perlu digunakan. Seperti mempersiapkan sarung tangan, baju lindung, termasuk juga tahu teknik-teknik pengambilannya. Orang yang tidak tahu ilmu, teknik dan alatnya, alih-alih bisa mendapatkan madu lebahnya, orang awam itu malah bisa membahayakan dirinya, atau bahkan orang lain yang disekitarnya.

Begitu juga dalam memahami teks teks suci hadis. Orang yang tidak tahu dasar untuk memahami hadis, tidak akan bisa memahami sari-sari teks hadis Nabi Saw,. Memiliki niat baik mempelajari hadis tidak cukup, sebelumnya harus tahu dasar untuk belajar hadis. Salah satu dasarnya adalah tahu ulumul hadis, ilmu alat, bahasa Arab dan sebagainya. Orang yang tidak paham dasarnya akan berakibat fatal dalam memahami hadis Nabi Muhammad Saw, bahkan bisa membahayakan orang disekitarnya. Alih-alih mendapatkan pemaknaan hadis yang benar, bahkan ia bisa jatuh di jurang pemahaman yang salah. Bisa sesat, dan menyesatkan.



Dalam setiap disiplin keilmuan, terdapat istilah “al-Mabadi al-‘Asyrah” atau sepuluh prinsip dalam mempelajari suatu ilmu. Sepuluh prinsip ini berlaku di semua ilmu, termasuh Ilmu Hadis. Dalam konteks ini, akan dijelaskan al-mabadi al-asyrah dalam ilmu hadis. Apa saja prinsip sepuluh sebelum mempelajari Imu Hadis? berikut pembahasannya;

Pertama, Ta’rif (pengertian). Ilmu hadis adalah ilmu tentang aturan-aturan yang mempelajari status sanad dan matan dalam suatu hadis. Dengan begitu akan diketahui status hadis yang dikaji, apakah hadis itu Sahih, Hasan, Dhaif atau Maudhu’.

Kedua, Maudhu’ (tema atau objek kajian). Objek kajian ilmu hadis adalah kondisi sanad dan matan suatu hadis dari segi statusnya, seperti Sahih, Hasan, Dhaif atau Maudhu’.

Ketiga, Tsamaruhu (manfaat). Manfaat mempelajari ilmu hadis adalah dapat mengetahui status suatu hadis dari segi kealayakannya untuk bisa diterima atau ditolak. Dengan paham status suatu hadis akan menetapkan hati untuk mengamalkannya dengan lebih yakin.

Keempat, Fadhluhu (keutamaan). Keutamaan ilmu hadis adalah merupakan alat untuk memahami kitab suci kedua setelah al-Quran. Mempelajari hadis dan ilmunya, tidak hanya diniatkan mencari ilmu, namun juga diniatkan agar bisa mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw,. Amin ya rabbal ‘alamin.

Kelima, Nisbatuhu (penisbatan). Ilmu hadis itu merupakan bagian dari syariah. Sehingga para muhaddis jika ingin mengaplikasikan syariat dengan baik harus tahu hadis dan ilmunya. Ilmu hadis juga merupakan bagian dari ilmu alat, karena dipakai untuk menilai dan memahami hadis.

Keenam, Wadhi’uhu (penggagas). Penggagas awal ilmu hadis adalah Abu Muhammad al-Ramahurmuzy (wafat 346, abad ke-4). Sebenarnya, sebelum beliau, para ahli hadis dan istilah-istilah dalam ilmu hadis sudah ada. Namun, yang pertama kali memulai pendukumentasian istilah-istilah hadis menjadi suatu ilmu, yang memulai adalah Imam Ramahurmuzy. Sebelumnya masih dalam bentuk yang terpisah-pisah, belum dituliskan dalam ilmu khusus.

Ketujuh, Istimdaduhu (landasan ilmu). Landasan ilmu hadis ini terdapat dalam al-Quran dan hadis Nabi Muhammad. Dalam al-Quran dikatakan, “Wahai orang beriman, jika datang kepada kamu orang fasik dengan kabar maka bertabayyunlah untuk mencari kejelasan” . Makna dari kata al-Naba’ dalam ayat ini bermakna umum. Artinya termasuk juga hadis atau kabar yang disandarkan kepada Nabi. Kabar itu juga perlu ditabayun untuk memastikan kebenaran dan validitasnya. Jika al-Quran hanya perlu ilmu untuk memahaminya, namun hadis terlebih dahulu perlu untuk dipastikan otentisitas teksnya, baru kemudian memahami makna teksnya.

Dalam suatu hadis, Nabi sendiri juga pernah berkata, “Barang siapa yang meriwayatkan hadis dariku, dan diketahui hadis itu adalah hadis palsu, maka orang tersebut menjadi salah satu orang yang berbohong”. Dalam hadis lain, “Barang siapa yang berbohong (dalam meriwayatkan hadis dariku), maka dia telah menyiapkan tempatnya di neraka”.

Kedelapan, Ismuhu (nama ilmu ini). Nama ilmu ini adalah Ulumul Hadis atau Ilmu al-Mustalah al-Hadis. Kenapa Ulumul Hadis (ilmu-ilmu hadis) dalam bentuk jamak? Karena yang dipelajari memiliki banyak cabang dan materi. Begitu juga dengan istilah Ilmu al-Musthalah al-Hadis (ilmu istilah-istilah hadis), yang dipelajari adalah istilah-istilah yang terdapat dalam hadis, bukan hanya satu istilah saja.

Kesembilan, Hukmuhu (hukum mempelajarinya). Hukum mempelajari lmu hadis adalah fardhu kifayah. Artinya dalam suatu daerah jika ada satu orang yang mempelajarinya, maka hukum fadhunya gugur untuk orang lainmya. Namun, hukumnya akan menjadi fardhu ‘ain jika sudah mulai belajar.

Kesepuluh, Masailuhu (topik-topik yang dipelajari). Topik yang dipelajari adalah istilah-istilah dalam ilmu hadis seperti Sahih, Hasan, Dhaif atau Maudhu’. Termasuk juga ilmu jarah dan ta’dil (penilaian terhadap suatu rawi) untuk menimbang bagaimana suatu hadis dapat dihukumi. Dan untuk pengembangan yang lebih luas lagi, terdapat juga yang namnya ilmu al-Ma’ani al-Hadis dan Ilmu Living Hadis.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *