Analisa Karakteristik Praktek Keagamaan Islam di Indonesia, Budaya atau Agama?

Berbagai negara, suku, dan bangsa di dunia tentu telah bersentuhan dengan agama Islam. Penyebaran yang begitu masif dan sporadis membuat agama ini menjadi salah satu agama dengan penganut terbesar di dunia. Agama ini eksis hampir di setiap ujung dunia. Adanya perbedaan kondisi geografis hingga keadaan geopolitik dari wilayah-wilayah yang didatanginya menjadikan agama Islam memiliki banyak ‘warna’ baik secara ajaran maupun prakteknya. Akan ditemukan perbedaan-perbedaan yang mungkin cukup mencolok antara praktek dan paradigma berpikir dari penganut Agama Islam di seluruh penjuru dunia.

Menurut Azyumardi Azra, terdapat 8 corak dari peradaban Islam di dunia, dan Islam di Indonesia sendiri memiliki karakter rileks, akomodatif dan flowering (seperti dikutip Darajat, Jurnal at-Turas, 1, Januari 2015: 78). Karakteristik yang demikian memiliki perbedaan dengan praktek-praktek keislaman yang ada di belahan dunia lain. Paradigma berpikir dalam beragama membentuk karakter masyarakat. Agama seringkali dikaitkan dengan budaya masyarakat setempat.

Adanya pengaitan tersebut dikarenakan terdapat beberapa aspek kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama. Pengaruh tersebut tentu berdampak pada posisi agama di tengah masyarakat dan bagaimana masyarakat memandang agama. Hal yang demikian dapat dilihat melalui reaksi yang timbul saat terjadi konfrontasi dengan suatu fenomena yang ada di luar kebiasaan.

Baca juga: Imam Fakrul Razi Berbicara Esensi Dirahasiakannya Malam Lailatul Kadar

Pandemi yang terjadi pada tahun 2020 berhasil mengubah hampir seluruh aspek dari kehidupan manusia di seluruh dunia. Dampak dari adanya pandemi ini juga dirasakan di Negara Indonesia, baik dari aspek ekonomi, kesehatan, hingga kehidupan beragama. Pekerjaan dilakukan dari rumah, kegiatan transfer ilmu dilakukan secara dalam jaringan, serta perkumpulan-perkumpulan yang melibatkan banyak orang dilarang.

Setidaknya 3 hal tersebut merupakan perubahan pokok yang terjadi akibat adanya pandemi ini. Larangan adanya perkumpulan banyak orang tentu sangat berpengaruh terhadap praktek keagamaan yang dijalankan oleh Umat Muslim di Indonesia. Basis dari praktek keagamaan, khususnya agama Islam, di Indonesia adalah praktek yang bersifat kolektif dan masif.  Larangan perkumpulan manusia dengan jumlah banyak tersebut membuat Majlis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa yang menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan salat lima waktu, salat jumat, salat tarawih, dan salat idul fitri secara berjamaah di masjid.

Fatwa yang dikeluarkan oleh otoritas keagamaan Islam di Indonesia tentu memiliki basis yang kuat dari segi keilmuan usul fikih maupun kaidah-kaidah fikih. Fenomena ini tentu menunjukkan bahwa terdapat kebenaran dalam karakteristik umat Islam nusantara yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra yang mana bahwa praktek keagamaan di Indonesia bukanlah hanya sekedar praktek berbasis kebiasaan yang bersifat turun temurun, menahun bahkan menjadi tradisi melainkan Islam di Indonesia dijalankan dengan cara yang rasional dan akomodatif sesuai dengan perkembangan keadaan.

Baca juga: Dakwa di mana, kepada siapa?

Walaupun Islam kerap dipandang sebagai agama yang telah menjadi budaya di Indonesia, namun faktanya Islam bukanlah agama yang diberlakukan hanya sebagai budaya dan kebiasaan melainkan ia memiliki posisi sebagai agama dan memiliki tempat untuk berdiri sendiri di tengah masyarakat. Adanya pengaruh dari agama Islam dalam budaya masyarakat merupakan sebuah keniscayaan karena budaya merupakan keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, tradisi, hingga keyakinan. Secara praktek telah terbukti bahwa Islam bukanlah agama yang menjadi budaya. Pernyataan tersebut turut didukung juga dengan analisis definitif bahwa budaya merupakan hasil budi daya yang merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia.

Praktek keagamaan yang dijalankan oleh umat muslim di Indonesia tidak diposisikan sebagai praktek dari kebudayaan oleh masyarakat. Hal yang demikian tentu dapat dilihat dengan sikap masyarakat yang tunduk pada himbauan otoritas untuk meninggalkan sementara praktek keagamaan yang melibatkan perkumpulan orang banyak, bukan malah membabi buta melawan anjuran otoritas keagamaan dengan dalih bahwa kebiasaan yang berlaku adalah demikian dan demikian.

Untuk dapat dikategorikan sebagai budaya, diperlukan beberapa unsur yang harus dipenuhi, yang setidaknya dapat dikategorikan menjadi 3 hal, yaitu sistem gagasan, sistem tindakan, dan hasil karya. Apa yang hendak disampaikan penulis di sini ialah bahwa, praktek keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat Islam di Indonesia bukanlah praktek yang memosisikan praktek keagamaan hanya sebagai kebiasaan atau bahkan budaya atau tradisi melainkan praktek keagamaan dilaksanakan sebagaimana layaknya ia diberlakukan sesuai dengan aturan agama itu sendiri saat timbul keadaan di luar kebiasaan yang mengganggu kebiasaan-kebiasaan praktek keagamaan yang berlaku di masyarakat.

Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.