Press "Enter" to skip to content

Analisis Semantik: Makna Kata Syaithan Dalam al-Quran

Kata “syaithan” menurut para ulama, asal katanya mempunyai makna yang berbeda-beda.

Pertama, kata “syaithan” berasal dari kata شطن (syathana) yang berarti jauh, karena setan jauh dari kebenaran atau jauh dari rahmat Allah. Setan disebut jauh dari kebenaran karena kesombongan dan kedurhakaannya. Dengan demikian setiap makhluk yang sombong dan durhaka baik dari kalangan jin dan manusia disebut dengan setan. Kedua, kata syaithan berasal dari kata يشيط  – شاط yang berarti binasa dan terbakar. Dalam al-Quran, kata “syaithan” disebut sebanyak 87 kali dalam 78 ayat 36 surat.

Beberapa makna kata syaithan.

  1. “Thaghut”, yaitu segala sesuatu yang memalingkan dan menghalangi seseorang dari pengabdiannya kepada Allah dan rasul-Nya. Dalam Q.S. an-Nisa’ ayat 60 dijelaskan bahwa thaghut yaitu pemimpin orang-orang kafir atau sindikat kejahatan.
  2. Para pemimpin kejahatan atau kekafiran.
  3. Setiap mahluk yang mempunyai karakter buruk yang menyebabkan manusia jauh dari kebenaran dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Setiap ayat yang menyebut kata syaiṭhan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi makna ataupun pemilihan katanya. Namun kata syaiṭhan dapat diklasifikasikan dengan mengacu pada kedudukan kata tersebut dalam susunan redaksi ayat :

Kata syaiṭān sebagai subjek.

Subjek di sini tidak seutuhnya sama dengan istilah fāʻil untuk menyebut “pelaku” dalam gramatikal bahasa Arab.  Kata tersebut menjalin hubungannya dengan objek-objek tertentu dalam al-Qur’an, di antaranya: 

  1. Allah sebagai objek. Kata syaiṭhan menjadi subjek yang kaitannya dengan Allah sebagai objek.
  2. Manusia sebagai objek. Kata syaiṭhan memiliki hubungan dengan dua karakteristik manusia. Pertama, orang-orang beriman termasuk juga para Nabi. Kedua, kata syaithan sebagai subjek kaitannya dengan objek manusia adalah orang-orang yang tidak beriman atau manusia secara umum.
  3. Objek selain Allah dan manusia. Objek ini dapat dikelompokkan dalam tiga macam; pertama, objek yang dimiliki syaiṭhan atau syaiṭhan yang lain. Kedua, kata syaiṭhan sebagai subjek berhubungan dengan sesuatu yang dimiliki manusia sebagai objeknya, seperti amal-amal manusia yang diredaksikan dengan kata aʻmālahum atau merusak hubungan di antara manusia diredaksikan dengan kata bainahum. Ketiga, kata syaithan sebagai subjek memiliki hubungan dengan objek yang dijaga Allah seperti al-Qur′an.

Kata syaithan sebagai objek

Dalam posisinya sebagai objek, kata syaiṭān memiliki hubungan tertentu dengan subjeknya. Hubungan ini dibagi menjadi empat macam:

  1. Syaithan sebagai objek ciptaan Allah. Kaitannya dengan Allah, syaithan merupakan salah satu ciptaan-Nya.
  2. Syaithan sebagai objek yang diikuti, disembah dan dijadikan kawan. Syaithan di jadikan sebagai sesembahan, kawan serta pelindung oleh manusia.
  3. Syaithan sebagai objek yang harus dijauhi atau dihindari.

Kata yang menyertai kata syaithan

Kata syaithan, memiliki hubungan dengan kata lain yang berada di depan atau di belakang kata tersebut. Hubungan ini dapat memberikan beberapa makna yang berbeda antara satu tuturan ayat dengan ayat lain. Secara umum makna yang lahir dari kata syaiṭān dalam tuturan al-Qur’an dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: 

  1. Mengganggu iman dan akidah. Makna ini dihasilkan dari hubungan kata syaithan dengan beberapa kosakata, di antaranya: wa‘ada, kafara dan zayyana. Sebagaimana QS. An-Nisa’ : 120.
  2. Mengganggu diri manusia . Yang dimaksud dengan mengganggu diri manusia adalah mengganggu yang merusak di mana dampaknya diterima manusia secara langsung. Seperti menjadikan manusia merasa tertekan, merasa takut, menjadi lupa, dan sebagainya. Secara umum ayat yang mengandung makna ini dihasilkan dari hubungannya dengan kata nazagha, massa dan ansa.
  3. Menjadi prajurit Nabi Sulaiman. Hal ini merupakan pengecualian dari sekian banyak perbuatan yang dilakukan syaithan dalam penjelasan al-Qur’an. Apabila dari dua kelompok ayat sebelumnya kata syaithan mengacu pada sisi rohani, pada kelompok ayat yang ketiga ini kata syaithan mengacu pada sisi materi atau nyata. Yang termasuk dalam kelompok ayat ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan tentang setan-setan yang menjadi prajurit Nabi Sulaiman seperti pada QS. Al-Anbiya’ : 82.

Toshihiko Izutsu menyederhanakan analisis semantik historis kata syaitan dalam tiga periode waktu, yaitu: Pra Qur’anik, Qur’anik dan Pasca Qur’anik.

  1. Periode pra quranik. Kata syaiṭān dikonsepsikan orang Arab pra Islam sebagi makhluk halus yang mengajak kepada kesesatan atau jin jahat.
  2. Periode Quranik. Kata syaitan telah mengalami pergeseran konsep makna “jauh”. Dan lebih kepada makna menjauhkan manusia dari kebenaran dan ketuhanan.
  3. Periode Pasca Quranik. Pada masa ini, kosakata al-Qur’an banyak digunakan dalam sistem pemikiran Islam. Masing-masing sistem ini mengembangkan konseptualnya sendiri. Apabila dahulu orang menyebut setan dengan menunjuk pada makhluk halus yang suka menakut-nakuti atau mencelakai manusia, maka saat ini kata setan memiliki konsep yang lebih luas lagi, yaitu mengarah pada segala sesuatu yang menjadi penyebab keburukan, termasuk hewan, yang merupakan makhluk yang tidak berakal.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *