Press "Enter" to skip to content

Ayah kenapa aku bermazhab Syafi’i?

Waktu Baca:3 Menit, 4 Detik

Suatu ketika seorang santri yang tidak lama baru naik ke kelas 2 madrasah sanawiyah datang ke ayahnya. Dengan raut wajah gembira ia berlari kecil dari gerbang sekolah sambil berteriak memanggil ayahnya. Ia langsung memeluk dan mencium tangan ayahnya. Dengan tiba-tiba, ia bertanya pada ayahnya, “Ayah, kenapa Nadia harus bermazhab?”. Namanya Nadia, di jumat siang itu ia baru saja selesai belajar ilmu fiqih dengan ustazah kesayangannya.

Ayahnyapun tersenyum kecil karena pertanyaan gadisnya. “Nak, kamu tahukan untuk mejadi Muslim yang baik, kita harus berpedoman kepada al-Quran dan Sunnah”, jawab Sang ayah sambil memegang bahu Nadia. Perlahan-perlahan membawanya berjalan di sekitar taman pesantren itu.

Tapi, tidak semua orang bisa memahami al-Quran dan Hadis, karena al-Quran dan hadis menggunakan bahasa Arab. Dan untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan membaca terjemahannya saja”, tambahnya sambil mengelus kepala anaknya. “Itulah kenapa ayah pondokkan kamu, agar kamu bisa belajar bahasa arab, belajar agama dengan baik, dan bertemu guru yang tepat untuk bisa memahami al-Quran dan Hadis”, cletuk ayah Nadia sambil melihat wajah lugunya.

Ayah, tapi kata ustaz, orang Indonesia itu kebanyakan mazhabnya Imam Syatibi, kok bisa ya yah?”, tanya Nadia dengan manja. Sambil tertawa kecil ayah gadis bermuka merah itu menjawab, “Bukan Imam Syatibi nak, tapi Imam Syafii”, ayahnya membenarkan kata anaknya.

Jadi dulu, banyak sekali yang belajar agama setelah Nabi meninggal, ada ulama ahli hadis, ahli tafsir, ahli fiqih dan baaanyaak sekali ulama di zaman dahulu”, jelas ayahnya dengan menggunakan gestur tangan. “Nah di antara ulama yang beratus ribu itu, ada ulama yang dalam sekali ilmunya, hebat hafalannya, luar biasa sekali perjuangannya… nah namanya Imam al-Syafii, bukan imam Syatibi ya…”, sang ayah tertawa kecil tidak tahan melihat raut muka penasaran anaknya kemudian mencubit pipi merah Nadia.

Imam Syafii ini dulu belajar sangat giat, hingga paham semua pelajaran agama, bahasa Arab, Tafsir, Hadis, Ushul Fiqih dan Ilmu Fiqih. Beliau mempelajari semua itu dari guru-gurunya”, kata ayah Nadia. Sampailah Nadia dan sang Ayah di ujung taman pondok dan melihat tempat duduk kosong di taman itu. Mereka berdua duduk dan Nadia dipangku di kaki ayahnya.

Kemudian Nadiaa..” sambil memangku gadisnya, “Imam Syafii menulis semua yang ia pelajari menjadi buku-buku panduan untuk murid-muridnya, dan itulah yang diajarkan untuk generasi-generasi selanjutnya sampai ke Nadia”. Nadia memandangi wajah ayahnya dengan serius.

Buku-buku yang ditulis Imam Syafii dan kemudian dipelajari oleh murid-muridnya sampai sekarang merupakan ajaran Imam Syafii, nah semua murid yang mempelajari bukunya, dan mengamalkan isinya disebut dengan Syafiiyyun, atau pengikun ajaram Imam Syafii”, “Dan ajaran-ajaran Imam Syafii ini disebut dengan Mazhab, jadi… Santri, ustaz, guru, siapapun yang mengamalkan ajaran dari buku yang ditulis imam Syafii adalah murid Imam Syafii, dan mereka disebut Bermazhab Syafii…”, Nadia mencoba memahami kata-kata ayahnya sambil mengerutkan dahinya.

Kemudian Nadia mengangguk sambil menggaruk-garukkan kepala, seolah paham apa yang dijelaskan ayahnya. “Yah, tapi kenapa kita harus Imam Syatibi yah?”, Nadia bertanya lagi dengan raut wajah yang menggemaskan.

Sekali lagi ayahnya mecubit pipi Nadia, kali ini kedua belah pipi merahnya. “Kenapa di Indonesia banyak bermazhab Syafii, karenaaa… dulu ulama-ulama yang datang ke Indonesia merupakan murid-murid Imam Syafii”, jelas ayah Nadia dengan sabar.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, waktu orang tua untuk menjenguk anaknya sudah habis. Sebelum ayah Nadia membawa ke pondok lagi untuk berpisah, ayah Nadia berpesan; “Nak, untuk mempelajari agama Islam itu tidak mudah, itulah kenapa semenjak kecil kamu ayah pondokkan, biar paham agama dengan baik. Nanti kalau sudah besar jadi anak yang pintar dan bisa mendoakan ayah dan bunda kalau sudah tiada. Belajar yang baik ya, bulan depan ayah datang ke sini lagi ya..”, sambil mencium kening si kecil Nadia sang ayah pelahan-lahan berjalan menjauh dari gerbang sekolah.



Facebook Comments
Latest posts by Redaksi (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *