Belajar Anti Korupsi dan Memahami Hukum Potong Tangan

“Kalau mau saling mengerti, kita harus merasakan hal yang sama”, lebih kurang begitulah makna kata-kata Yahiko, tokoh kartun dalam manga (animasi) Naruto chapter 372. Meskipun berasal dari tokoh kartun, namun kata-kata “ini” sangat bagus menjadi pegangan bagi orang-orang yang mungkin akan melakukan korupsi atau para koruptor dalam menjalani hukuman.

Para ahli berkata, korupsi merupakan penyalahgunaan kepercayaan masyarakat untuk menguntungkan secara sepihak yang dilakukan oleh penjabat pemerintah dan pihak lain yang terlibat di dalamnya. Sederhananya korupsi itu sama dengan pencurian. Pencurian itu adalah apabila seseorang mengambil hak orang lain yang bukan miliknya.

Dalam Islam, bila merujuk pada al-Quran hukum bagi pencuri adalah potong tangan lihat surat al-Maidah [5] ayat 38. Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini, banyak ulama salaf mengartikan pencuri memang harus dipotong tangannya. Namun sekarang ada pakar yang mengartikan cegah ia melakukan untuk kedua kalinya. Beliau juga mengarisbawahi yang disebutkan dalam al-Quran adalah pencuri bukan yang mencuri, sama dengan halnya seseorang yang menyanyi, namun dia bukan penyanyi. Oleh karena itu, bisa dikatakan pencuri adalah orang yang sudah berulang-ulang mencuri.

Pencuri memang tidak tahu malu dan juga tidak tahu diri. Orang yang diambil haknya bisa saja telah mengumpulkan harta “itu” sejak lama, mencari dikit-demi sedikit, dan berusaha bersusah payah dengan/ bahkan mengangkat beban yang tiga kali lipat berat badannya untuk mendapatkan sejumlah uang. Kemudian tiba-tiba ada yang merampas darinya, tentu hal ini dapat menimbulkan rasa yang sakit di hati yang teramat dalam.

Apalagi pencurian itu dilakukan kepada negara. Sebagaimana diketahui, dalam kas (uang) negara terdapat banyak sekali hak orang lain, seperti hak fakir miskin, hak anak yatim, hak janda, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, koruptor (pencuri besar dalam istilah M. Quraish Shihab) patutlah diberikan hukuman potong tangan. Orang yang tidak merasakan bagaimana rasanya bersusah payah mencari harta, maka tidak akan merasakan bagaimana sakitnya jika haknya diambil orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kata-kata Yahiko di atas yaitu rasa untuk saling mengerti satu sama lain.

Seseorang akan mengatakan pantas koruptor mendapatkan hukuman potong tangan, jika hartanya yang dirampas. Namun tidak mengatakan itu pantas jika terjadi pada harta orang lain. Sebagaimana diketahui bahwa tangan setelah dipotong tentu tidak bisa tumbuh lagi, berbeda dengan kuku yang setelah dipotong akan tumbuh kembali. Sebagian orang yang berpikir bahwa potong tangan tidak manusiawi, mereka hanya melihat dari sisi orang yang dihukum, bukan melihat dari sisi orang yang diambil hak miliknya. Bahkan sangat manusiawi hukuman bagi koruptor potong tangan jika dilihat dari sisi orang yang diambil hak miliknya.

Satu yang masih menjadi pertanyaan, yaitu bagaimana dengan negara (baca: Indonesia) yang tidak menjalankan hukuman potong tangan bagi koruptor? Hukuman potong tangan bisa saja diterapkan di negeri ini bila hukum yang ada sekarang tidak bisa mengatasi dan memberikan solusi, tapi malah memotivasi timbulnya pelaku korupsi. Bagaimana tidak, bila dilihat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura. Indonesia masih berada pada angka 40 sementara Malaysia dan Singapura berada pada angka rata 90. Begitulah pernyataan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Alexander Marwata pada Detik.com (6/5/2020). Belum lagi dengan bebagai kasus korupsi dan Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK yang terjadi di Indonesia pada tahun 2020 ini.

Jika dilihat efek jera yang diberikan kepada koruptor saat ini, bisa dibilang bahwa hukuman yang telah diterapkan belum cukup maksimal. Padahal koruptor-koruptor sebelumnya sudah dipenjara sesuai dengan berat korupsi yang dilakukannya. Kemudian disiarkan di berbagai media massa dan elektronik. Nama keluarganya cacat di masyarakat, bak pepetah mengatakan, sekali arang tercoreng di dahi seumur hidup orang akan ingat. Namun tetap ada juga timbul koruptor-koruptor baru di setiap tahunnya.

Oleh karena itu, hukum potong tangan bisa dibilang sebagai hukuman yang tepat bagi koruptor. Hukum potong tangan tidak bisa dibilang tidak manusiawi, karena untuk menilai sesuatu manusiawi atau tidak, harus melihat dari kedua sisi. Bahkan bisa dibilang sangat manusiawi bagi pencuri (orang yang sudah berulang-ulang mengambil hak milik orang lain).

Semoga tulisan ini menjadi pencegah untuk kita semua agar tidak mengambil hak milik orang lain. Wallahu a’lam.

Doli Witro

Penulis adalah Alumni Institut Agama Islam Negeri Kerinci, Jambi

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *