Berburu Jackpot di Bulan Ramadhan

Alhamdulillah kita masih diberi tambahan limit kehidupan oleh Allah hingga saat ini yang terhitung telah melewati “pertengahan” Ramadhan akhir. Meski Ramadhan kali ini kita semua -khususnya umat Islam- terjerumus dalam kubang pandemi covid-19, namun hal itu tak menyurutkan gelombang ketaqwaan.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna melandaikan kurva pandemi ini, bahkan sampai beraliansi dengan para tokoh agama agar rakyat mau diam sami’na wa atha’na. Mulai dari kampanye sosial distancing, lockdown dan saat ini psbb diberlakukan pada tempat atau daerah yang terpapar zona merah.

Sekalipun sekolah, madrasah, pondok pesantren, masjid, surau maupun tempat kegiatan agama lainnya ditutup, bukan berarti semangat beragama lantas meredup. Kita bisa saksikan bersama bagaimana para kyai, ulama, cendekiawan, ustadz² hingga guru madin-pun membuat media sosial (medsos) sebagai ladang untuk bercocok tanam keilmuan mereka agar bisa dinikmati oleh kalangan netizen yang ingin memanennya.

Baca Juga: Menjalankan Budaya Agama di Masa Pandemi

Ramadhan yang dikenal sebagai pendidik “sejati” masih terasa kewibawaanya ditengah carut marut musibah yang menimpa negeri. Ibadah puasa makin terasa ringan dijalankan kalau sekedar menahan lapar dahaga, karena kebanyakan kegiatannya berada #dirumahaja. Namun terasa berat dengan puasa mata, telinga dan jari (efek terpengaruh sisi negatif gadget) dari hal-hal yang bikin nilai ibadah puasa menjadi luntur melebur.

Menilik kegiatan rutin ibadah di malam harinya, berbagai amalan sunnah Ramadhan -yang menurut ulama bernilai pahala ibadah wajib ketika di luar Ramadhan- masih hidup meski tak semarak tahun² sebelumnya. Tarawih berganti posisi bersama keluarga, tadarus berganti lokasi via online, kajian kitab berganti kondisi live streaming maupun kegiatan lainnya yang selalu saja bisa berakulturasi dengan berbagai situasi tetap menyala menghiasi malam-malam mulia bulan suci ini.

Diantara malam-malam mulia itu terdapat malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Lailatul qadr (malam kemuliaan) namanya. Mengenai kapan waktu atau datangnya itu masih menjadi misteri ilahi. Namun beberapa riwayat memberi petunjuk bahwa lailatul qadr hadir di malam-malam ganjil sepertiga (sepuluh) Ramadhan akhir. Bahkan diantara ulama kita dengan senang hati menceritakan pengalaman kasyaf nya dalam mendeteksi jatuhnya lailatul qadr yang berubah-ubah tak menentu.

Dari pada bengong dan menunggu hal yang belum jelas kepastiannya, mari sama-sama kita hidupkan semua malam-malam Ramadhan yang masih tersisa ini dengan memperbanyak ibadah, kalau bisa ditingkatkan lagi (istiqamah). Dengan begitu, harapan mendapatkan malam istimewa yang terjadi setahun sekali itu automatis telah berada digenggaman, meski tanpa kita disadari.

Beruntunglah hamba mendapatkannya, ia tak ubah seperti mendapat jackpot bulan Ramadhan Kareem.

Avatar

Ahmad Haryanto

Penulis adalah Alumni  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Santri PP. Al Khidmah, Damardjati Kalingkrik Magelang dan penggiat Jamaah Misbahul Munir Mbadong Tenggeles Mejobo Kudus.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *