Press "Enter" to skip to content

Cabang dalam Kajian Hadis

Waktu Baca:3 Menit, 25 Detik

Defenisi Hadis

Hadis, secara bahasa diartikan “siroh” atau “toriqoh” yang memiliki makna “sejarah” atau “perjalanan”. Secara istilah, hadis adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw., meliputi ucapan, perbuatan, sifat maupun ketetapan. Ucapan berupas semua yang pernah diucapkan Nabi, perbuatan berupa semua hal yang pernah dilakukan Nabi, sifat merupakan hal yang berkaitan tentang fisik Nabi dan ketetapan adalah yang tidak dilarang dan dibolehkan oleh Nabi.

Istilah Sunnah dan Hadis

Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menyebut hadis adalah kata “sunnah”. Sunnah sendiri dipakai dalam dua objek keilmuan, yaitu fikih dan hadis. Dalam istilah fikih, sunnah adalah apa-apa yang dipakai dan disandarkan kepada Nabi dan digunakan untuk hukum Islam, seperti wajib, sunah, haram, mubah dan sebagainya. Untuk bisa membedakan istilah sunnah dalam artian hadis atau sunnah dalam artian hukum fikih, dapat dilihat dari konotasi kata sunnah itu sendiri.

Contoh Jenis-jenis Hadis

Sebagaimana dijelaskan di atas, hadis terbagi menjadi empat macam; ucapan, perbuatan, sifat dan ketetapan. Contoh hadis ucapan bisa ditemukan seperti hadis niat, “Innama al-a’malu bi al-niyah”, contoh untuk hadis perbuatan seperti hadis nabi, “shollu kama roaitumuni usholli”, untuk hadis sifat contohnya seperti panjang rambut nabi, warna rambut Nabi dan ciri fisik Nabi. Sementara itu untuk ketetapan, contohnya adalah seperti diamnya Nabi ketika dihidangkan dhab (biawak Arab) ketika dijamu di salah satu rumah sahabat. Ketika dihidangkan biawak, Nabi diam, tidak menolak dan juga menerima. Nah, diamnya Nabi ini menunjukkan kebolehan. Kenapa diamnya Nabi dihukumi kebolehan? karena nabi tidak mungkin membiarkan kemungkaran atau keharamkan dibiarkan di depan beliau.



Peran Hadis dalam Hukum Islam

Peran hadis dalam menghukumi suatu perkara dalam Islam dibagi menjadi dua, yaiu peran hadis secara struktural dan funghsional:

Secara struktural, hadis menjadi sumber hukum kedua setelah al-Quran. Dalilnya terdapat dalam al-Quran “athi’u Allaha wa athi’u al-Rosula” (an-Nisa 59). Ini juga merupakan keputusan dari ijmak para sahabat. Logikanya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk menyampaikan risalah dan mengikuti wahyu-Nya, secara logika Nabi Muhammad tidak mungkin menyampaikan selain yang diperintahkan Allah.

Secara fungsional, hadis terbagi menjadi 4 fungsi. Pertama, hadis menjadi penjelas al-Quran. Kedua, hadis menjadi penguat apa yang ada dalam al-Quran. Ketiga, hadis bisa dijadikan sebagai penasask al-Quran (menurut mazhab Syafi’I). Dan terakhir, hadis merupakan tambahan atau penjelas dari hal yang belum dibahas oleh al-Quran, seperti takhsis ayat yang global atau belum rinci.

Ruang Kajian Hadis

Sementara itu, untuk ruang lingkup kajian hadis sendiri dibagi menjadi tiga; kajian mustalah al-hadis atau kajian ulumul hadis, kajian takhrij hadis dan kajian pemahaman hadis;

Perama, kajian mustalah hadis. Kajian ini meruapakan kajian paling dasar dalam ruang kajian hadis. Kedua, kajian takhrij hadis. Dalam kajian ini sudah muhaddis sudah mulai bersentuhan langsung dengan teks-teks hadis dan bisa melacak sumber hadis di kitab-kitab mu’tabarah. Kajian takhrij hadis ini sudah termasuk meneliti sanad dan rawi hadis. Ketiga,kajian pemahaman hadis. Pada tahap ketiga ini nanti akan dikenalkan dengan bagaimana cara memahami hadis yang benar, termasuk di dalamnya terdapat kajian ilmu maanil hadis dan juga ilmu living hadis.

Secara umum kajian hadis terbagi pada 3 kajian, tiga kajian ini harus dipelajari untuk mendapatkan kesimpulan yang benar dan kontekstual pada hadis. Itulah kenapa, semua hadis untuk bisa sampai pada titik diamalkan melalui banyak proses, tidak mudah dan lebih rumit dari kajian al-Quran.

Sebagai contoh, hadis tentang niat. Hadis ini dijadikan dasar hukum dan menjadi rukun pada shalat dan wudhu. Sebelum pengamalan ini, prosesnya tidak instan. Diteliti dulu hadisnya melalui takhirj hadis, apakah bisa ditemukan di kitab mu’tabarah atau tidak? Hukum hadisnya apa? Kemudian kalau ada di Sunan at-Tirmizi nanti harus diteliti terlebih dahulu. Dari sini nanti dihukumi hadisnya. Setelah diketahui statusnya, kalau sohih lanjut, kalau maudhu’, ditinggalkan. Kalau sohih dilihat dulu, pahami isinya, apakah bertentangan dengan hadis atau ayat quran yang lain atau tidak? Kalau berbenturan, ditinjau dulu, apakah bisa digabungkan, dilihat sisi nasikh mansukhnya, hadis mana yang menasakh dan mana yang dinasakh. Kalau tidak bisa, kemudian, dilihat lagi dari kualitasnya, mana yang lebih kuat. Setelah melewati jalan panjang tersebut, hadis itu baru kemudian bisa diamalkan.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *