Press "Enter" to skip to content

Dakwah; di mana & kepada siapa?

Belakangan ini kerap kita jumpai baik kawan, sejawat, atau bahkan keluarga kita sendiri, aktif ‘berdakwah’ dengan menggunakan media sosial; me-repost/men-share postingan dari Ustadz-Ustadzah Sunnah, mengcopy-paste postingan dari website-website sunnah, dan lain sebagainya. Uniknya, hal ini bersifat masif serta cenderung terstruktur.

Nah, yang saya cermati pada fenomena ini adalah, bahan-bahan dalam ‘dakwah’ mereka ini dilemparkan begitu saja kepada masyarakat tanpa mempertimbangkan unsur sosial-budaya, bahkan cenderung abai terhadap faktor kemajemukan dan toleransi beragama.

Dengan retorika berbalut dalil-dalil syar’i, mereka mengajak masyarakat untuk mendekat dan bersedia ‘hijrah’ bersama mereka menuju pemahaman Qur’an dan Hadits.

Memang, kita semua semestinya ambil bagian dari sebuah perlombaan dalam berbuat kebaikan, namun dalam prosesnya, ada banyak hal yang tidak boleh kita nafikkan. Memperjuangkan nilai-nilai kebaikan harus dengan cara yang baik pula, supaya visi rahmatan lil ‘alamiin terwujud secara paripurna.

Baca Juga: Menyemai Nilai Positif di Masa Wabah Corona

Seorang Da’i sebelum melakukan dakwah, seyogyanya dan/atau setidak-tidaknya memahami 2 hal; apa yang mereka dakwahkan dan kepada siapa mereka berdakwah.

Jika satu saja timpang, maka niat baik dalam berdakwah akan cacat karena metode dakwah yang keliru. Jangan sampai dakwah yang mustinya penuh keberkahan, malah mengundang banyak kemudharatan. Seperti halnya analogi; ingin mencuci pakaian supaya bersih nan suci, namun yang digunakan untuk mencuci adalah air kencing.

Alih-alih mendapatkan perhatian, yang ada malah kesangsian (dari masyarakat atau obyek dakwah). Bahkan yang lebih jauh, menimbulkan rona-rona kecemburuan sosial dari mereka yang berbeda pandangan.

Ajaklah mereka dengan baik, dengan cara yang santun, dan yang paling utama adalah tunjukkan, bukan sekedar bacakan. Inti dari dakwah adalah menunjukkan akhlak mulia seorang Da’i itu sendiri, tidak melulu mengumbar dalil. Bukankah yang disampaikan dari hati (yang jernih), akan sampai ke hati pula?

Ghiroh keagamaan yang tinggi di dalam hati hendaknya tetap harus terkontrol oleh akal, supaya tercermin dalam perkataan dan tindakan. Jangan malah disandingkan dengan hawa nafsu. Yang perlu kita ingat, manajemen nafsu inilah yang bisa menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat atau lebih hina daripada binatang.

Baca Juga: Daftar Universitas Terbaik di Turki 2020

Obyek dakwah kita musti kita cintai, jangan malah dianggap salah, hina, atau bahkan dijauhi dan perlu dimusuhi, sekali lagi jangan. Berdakwalah tanpa harus menunjukkan kesalahan orang lain, berdakwalah seakan-akan orang lain tidak sedang merasa di bawah atau kita yang di atas, berdakwalah kepada siapa pun tanpa harus membuat mereka merasa sedang didakwahi.

Tantangan bagi seorang Da’i tak lain adalah sikap ujub, riya’, dan semacamnya. Bom waktu berupa kesinisan atau bahkan kesombongan (terhadap obyek dakwah) yang tersembunyi inilah yang menjadi pangkal dari sebuah egoisme, kekerasan, permusuhan dan bahkan bisa lebih buruk menjadi sebuah tindakan radikalisme.

Berdakwah itu baik, namun alangkah baiknya jika memahami tempat dan kepada siapa kita berdakwah. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 

Semoga kita senantiasa diberikan nikmat dan rahmat oleh-Nya untuk bisa lebih memahami setiap apa yang didakwahkan kepada kita dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Wallahu’alam bish shawab.

Latest posts by M. Thoyib Achmad Salim (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *