Press "Enter" to skip to content

Dalam Pandemi, Tuhan Jangan Dinegasi

Waktu Baca:2 Menit, 56 Detik

Rasa-rasanya masyarakat Indonesia sudah mulai gerah, sumpek, atau pun lelah dengan pandemi yang sedang melanda masyarakat global. Atau malah sebaliknya, ada yang sudah merasa terbiasa dengan kondisi dan suasana kenormalan yang baru, sehingga semuanya berjalan biasa-biasa saja, seperti tak ada bencana.

Berita-berita tentang Coronavirus menjadi konsumsi setiap hari, sehingga dirasa sebagai musibah kecil bagi masyarakat, sangat jauh berbeda dengan hari-hari awal di mana Covid-19 baru masuk ke Indonesia. Ketika itu, media massa tidak hanya diributkan oleh berita kapan dan bagaimana Covid-19 masuk ke Indonesia, atau siapa yang membawanya, yang diberitakan dengan lebay sehingga membuat kepanikan luar biasa di masyarakat.

Media massa juga sempat dihebohkan dengan berbagai teori tentang asal-usul mau pun tujuan diciptakannya virus tersebut, jika memang virus tersebut sengaja dibuat-buat. Akhirnya, masyarakat global yang suka akan teori konspirasi menjadi sasaran empuk bagi media. Bahkan, banyak pihak yang memanfaatkan kegemparan global tersebut dengan beragam tujuan, baik membuat diri terkenal, memperkaya diri sendiri, atau pun tujuan lainnya.

Namun, di tengah-tengah kegemparan berita-berita tersebut, tak banyak yang menyampaikan bagaimana peran Tuhan terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat global ini. Atau, setidaknya berita-berita tentang Corona sebagai ujian dari Tuhan, misalnya, jauh kalah masif dibandingkan berita-berita teori konspirasi dan lainnya. Dan memang begitulah dunia sekarang.

Melihat keadaan yang demikian menyesekkan hati, Emha Ainun Nadjib, atau yang lebih akrab disapa dengan Cak/Mbah Nun, menulis sebuah buku berjudul Lockdown 309 Tahun. Judul tersebut terinspirasi dari kisah Ashabul Kahfi yang dilockdown oleh Tuhan selama 309 tahun untuk menyelamatkan mereka dari kezaliman raja dan azab Tuhan. Namun, itu hanya merupakan satu chapter cerita.

Sebagai buku yang dihasilkan dari refleksi pandemi covid-19 dalam kurun waktu dua bulan pertama sejak Corona masuk ke negeri tercinta kita ini. Buku tersebut memuat banyak chapter, yang secara garis besar mengkritik masyarakat juga pemerintah tentang tindakan-tindakan yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi pandemi.

Salah satu yang kritiknya terdapat pada chapter Muhasabah Corona. Dalam chapter tersebut Cak Nun menyebut bahwa segala hilir ada hulunya. Segala akibat ada sebab. Segala produk ada produsennya. Dan karena Corona adalah makhluk, maka tentu ada Khaliq-nya. Dia mengajak masyarakat untuk melakukan muhasabah tentang berbagai hal; Siapa yang menciptakannya? Apa tujuannya? Apakah Corona adalah “sebab” sehingga harus kita temukan “akibatnya”? Dengan demikian, tentu masyarakat beragama akan menyadari bahwa ada peran Tuhan dalam segala hal, termasuk musibah global. Karena siapa pun yang menciptakan atau apa pun yang membuat virus ada, tentu atas izin Tuhan.

Di sisi lain, banyak juga orang yang beragama menyatakan, “takut hanya kepada Tuhan, jangan takut Corona”. Sikap ini, menurut Cak Nun, justru akan membawa masyarakat pada musibah. Merasa diri dilindungi, merasa sehat, merasa dekat kepada Allah justru membuka pintu takabbur dan kesombongan, bahkan kezaliman karena mencelakakan orang lain, misalnya dia menjadi pembawa virus dan menyebarkannya kepada orang yang bersentuhan fisik dengannya.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa bala, sebagaimana sering disebut dalam istilah “bala bencana”, tidak hanya diturunkan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Bala juga ditimpakan kepada orang baik sebagai bentuk ujian. Sebagaimana yang dijelaskan Imam al-Suddiy, “kata al-balā digunakan untuk kebaikan dan keburukan”. Karenanya, kita anggap saja Coronavirus sebagai sebagai balasan dan ujian Tuhan sekaligus, tanpa perlu menentukan siapa yang ditimpakan balasan dan siapa yang sedang diuji, karena itu bukan tugas manusia.

Tentu saja kita berharap agar pandemi global segera dapat diatasi agar kita tidak lagi hidup dalam sangka buruk terhadap siapa pun yang batuk atau sesak napas, dan mengira mereka terjangkit virus Corona. Dan tentunya semua itu dengan izin Tuhan. 



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *