Press "Enter" to skip to content

Dari Insecure Menuju Bersyukur

Waktu Baca:3 Menit, 10 Detik

Di era modern seperti saat ini, segala aspek kehidupan kita tidak pernah luput dari  modernisasi, mulai dari pakaian, budaya, hingga perkataan. Bahkan dari segi percakapan, anak-anak zaman sekarang tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka mulai mencampuri bahasa Indonesia dengan bahasa modern atau yang sering dikenal dengan istilah ‘bahasa gaul’. Salah satu contoh kata yang tengah popular saat ini adalah kata insecure. Kata insecure sendiri berasal dari Bahasa Inggris yang memiliki arti ‘tidak aman’.

Dalam konteks bahasa Indonesia, kata insecure sering dikaitkan dengan rasa tidak percaya diri yang muncul dari pengalaman tertentu yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, dan malu kepada orang lain. Sehingga menganggap dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain, dan selalu memiliki rasa kurang percaya diri terhadap diri sendiri.



Ada beberapa penyebab mengapa seseorang sering merasakan insecure atau rasa kurang percaya diri terhadap diri sendiri, yaitu:

Pertama, takut terhadap kegagalan. Salah satu penyebab timbulnya rasa insecure adalah takut untuk gagal. Padahal dalam hidup kita pasti  pernah mengalami fase kegagalan dan kesuksesan. Dan apabila datang fase kegagalan kita tidak boleh menyerah atau yang lebih parah lagi merasa minder atau malu untuk mengikuti perlombaan lagi karena pernah merasakan kegagalan. Justru yang harus kita lakukan adalah  harus lebih semangat untuk mencapai kesuksesan. Karena ada pepatah yang mengatakan, ”kegagalan adalah awal dari kesuksesan”. Selain itu Allah juga berfirman dalam surah As-Syarh: 1 yang berbunyi:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Bukanlah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad) (QS As-Syarh: 1)

Ayat di atas  mengandung pesan  yang tersirat bahwa apabila kita berkompetisi dan  merasakan gagal atau sukses, kita hendaknya selalu berlapang dada dan jangan sampai ada rasa putus asa di dalam diri.

Kedua, sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Orang yang memiliki rasa insecure yang tinggi pasti sering membandingkan dirinya terhadap orang lain dengan menganggap dirinya lebih rendah. Bisa dilihat dari faktor ekonomi, fisik, penampilan dan lain-lain. Sebagai contoh, di sebuah desa ada seseorang yang memiliki pendapatan ekonomi yang rendah  atau orang miskin dan ada pula seseorang yang memiliki pendapatan yang tinggi atau orang kaya. Hampir bisa dipastikan orang miskin di desa tersebut, yang memiliki rasa insecure yang tinggi, akan membandingkan dirinya dengan orang kaya yang ada di desa itu dengan menganggap dirinya lebih rendah.



Mereka yang memiliki rasa insecure yang tinggi dan tidak percaya  terhadap dirinya sendiri sama saja mereka tidak mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh Allah swt. Padahal belum tentu orang kaya lebih baik derajatnya di hadapan Allah dibandingkan orang miskin. Sebaliknya, belum tentu orang miskin lebih baik dari pada orang kaya derajatnya di hadapan Allah, karena Allah swt. tidak melihat dari harta benda melainkan dari amal ibadah yang sudah dibuat oleh manusia.

Maka dari itu mari kita bersama-sama hilangkan rasa insecure yang ada di dalam diri kita masing-masing lalu mengubahnya dengan rasa bersyukur terhadap Allah swt. Sebab barang siapa yang selalu bersyukur kepada Allah maka akan dilipatgandakan nikmatnya sesuai janji Allah swt. yang terdapat pada surah Ibrahim ayat ke 7 yang berbunyi:

‎وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, “Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Ayat di atas memberikan pesan kepada kita agar selalu bersyukur kepada Allah swt. dan selalu percaya diri terhadap apa yang kita punya dan jangan sekali-sekali mengeluh terhadap diri sendiri. Sejatinya rencana Allah itu lebih baik dari pada rencana manusia.



Facebook Comments
Latest posts by Sepana Virqiyan (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *