Press "Enter" to skip to content

Didong Gayo sebagai Mediasi Dakwah di Aceh

Waktu Baca:4 Menit, 4 Detik

Hampir semua elemen kehidupan dipengaruhi oleh agama. Bagaiamana tidak, agama di sini menjadi nilai yang terdekat dalam melakukan tindakan. Teori Antropologi Simbolik Interpretatif, dihubungkan dengan sebuah konsep yang disebut dengan simbol. Menurut Clifford Geertz, simbol adalah objek, kejadian, bunyi bicara, atau bentuk-bentuk tertulis yang diberi makna oleh manusia . Bentuk primer dari simbolisasi manusia adalah bahasa. Timbul pertanyaan terkait teori ini, bagaimanakah hubungan antropologi simbolik dengan pendekatan interpretif?

Dalam tradisi pendekatan dalam penelitian ilmu komunikasi, teori interaksi simbolik berakar pada komunikasi dan fenomenologi (berkaitan dengan pengetahuan sebagaimana ia mempengaruhi kepada seseorang yang menggambarkan apa yang dipikirkan, dirasakan dan diketahui oleh seseorang). Sehingga dapat dikatakan bahwa interaksionisme simbolik merupakan sebuah teori yang paling berpengaruh dalam sejarah bidang studi komunikasi. Salah satu bentuk dari interpretasi teori ini adalah dalam bentuk bahasa, tarian, seni maupun budaya lainnya yang mengarah pada simbol-simbol verbal ataupun non verbal.

Setiap daerah memiliki kebudayaan dan ciri khas masing-masing untuk dapat dilestarikan oleh anak-cucu kita nantinya. Dibuat semenarik mungkin agar diminati oleh masyarakat luas. Contohnya adalah didong gayo. Didong Gayo ialah suatu kesenian yang menjadi salah satu warisan budaya di Tanoh Rencong, Aceh. Disamping itu ada beberapa kesenian lainnya seperti Saer (Sya’ir/puisi islami), Kekitiken (teka-teki), Kekeberen (prosa berbentuklisan), Melengkan (pidato adat), Sebuku (puisi bertema sedih), dsb.

Kesenian ini berkembang di masyarakat Gayo yang berdomisili di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Arti kata “Didong” sendiri tidak mempunyai kata dasar yang jelas, namun masyarakat sekarang menganalisa kata “Didong” tersebut adalah “Dendang” atau yang biasa kita sebut sebagai nyanyian. Biasanya didong dimainkan secara berkelompok sekitar 10-30 orang atau bahkan lebih dari itu. Adapun isi dari didong tersebut bukan hanya sekedar syair-syair sebagai nyanyian, akan tetapi mengandung makna sebagai mediator dakwah kala itu yang digunakan oleh para petue (petua), para imem (imam) dan ataupun reje (gechik) yang menjabat. Ini termasuk kepada unsur-unsur kebudayaan pada masyarakat gayo.

Baca juga: Hermeneutika Pesantren

Para seniman didong ini biasa disebut dengan ceh-ceh didong. Seni pertunjukkan tradisional yang menjadi kebanggan masyarakat gayo mampu bertahan di tengah era yang semakin canggih ini. Dimainkan dengan ekspresi bebas samnil duduk bersila, manabuh gendang, bantal, panci dan bertepuk tangan secara bervariasi, sehingga muncul suara gerak yang indah dan menarik

Dalam didong ini terjadilah komunikas yangi substansinya adalah mengirim dan menerima pesan yang disampaikan antara dua orang atau lebih. Sehingga pesan yang disampaikan pun dapat dipahami dengan baik. Komunikasi ini akan mempengaruhi perubahan perilaku, cara hidup kemasyarakatan, serta nilai-nilai yang ada. Kesenian ini dimanfaatkan dalam acara-acara penting. Misalnya, upacara keagamaan, upacara kedinasan, upacara perkawinan, dsb. Hal ini banyak disukai dan diterima oleh masyarakat sebagai acuan untuk mengamalkan nilai-nilai keislaman yang ada atau dengan kata lain kesenian ini adalah sebagai pengingat untuk terus melakukan kebaikan di setiap nafas kehidupan.

Salah satu contoh dari bait didong yakni,

Sara ketike pada sara saat (Suatu ketika pada suatu saat)

Bewene lat batat hancur binasa (Semua makhluk hancur binasa)

Langit nge gelep bumipe nge seput (Langit kian gelap dan bumipun seput)

Nge kalang kabut umet atan donya (Sudah kalang kabut umat manusia)

Bewene si moripnge murasa takut (Semua yang hidup merasa ketakutan)

Bait ini merupakan representasi dari keadaan pada hari kiamat nanti, bagaimana keadaan umat manusia saat itu mampu digambarkan secara ringkas oleh para pemain didong tersebut. Dengan kata lain kita memiliki kewajiban untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Selaras dengan firman Allah swt dalam Q.S. Al-Qari’ah ayat 4-5

(5) يوم يکون االناس کالفراش المبثوث(4) و تکون الجبال کالعہن المنفوش

Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar,ia berkata: Allah swt. melipat langit-langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: Aakulah raja! Manakah orang-orang berkuasa yang suka menindas? Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu berfirman: Akulah raja! Manakah orang-orang penguasa yang suka menindas? Manakah orang-orang yang sombong? (Shahih Muslim No. 4995).

Baca juga: Mengubur Belakang Dapur – Cerpen

Melestarikan kebudayaan yang ada dan menjaga kearifan lokal adalah salah satu bentuk mengimani Allah swt. Didong gayo memberikan gambaran terhadap kehidupan masyarakatnya sendiri yang mencerminkan sejarah budaya masyarakat pendukungnya dan termasuk dalam bentuk kepada mendalami ilmu Allah swt.

Dilansir dalam artikel yang ditulis oleh Sofyan Abdi yang berjudul “Konsep Nilai Islam dalam Nilai Mukemel dalam Sitem Budaya Suku Gayo” dikatakan bahwa nila-nilai penting dalam adat dan budaya masyarakat gayo dikenal dengan prinsip “Edet kuet muperala agama, rengang edet benasa nama, edet munukum bersifet ujud, ukum munukum bersifet kalam.” Maksudnya adalah adat itu berjalan dituntun oleh hukum agama, adat yang tidak kuat maka binasa nama, adat menhukum bersifat wujud, hukum agama itu adalah pasti. Rasa mukemel (rasa malu) mendorong seseorang untuk menjauhkan diri dari perbuatan dan sikap yang buruk. Ia berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu yang jika seseorang mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari harga diri dan lingkungan juga akan semakin meninggi karena mampu menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi maupun yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *