Press "Enter" to skip to content

Fast Fashion dan Sikap Abai Terhadap Maqashid al-Syari’ah

Waktu Baca:4 Menit, 23 Detik

Pada dasarnya fungsi pakaian atau populernya kita sebut fashion adalah sebagai pelindung tubuh dari gangguan dan bahaya. Misal dari terik matahari, cuaca dingin, serangan serangga, gesekan kulit dengan benda tidak aman, debu dan yang lainnya. Sehingga pakaian dibuat dengan bahan yang berkualitas baik agar tidak menimbulkan bahaya bagi kulit atau tubuh si pemakai. Dalam Islam fungsi utama pakaian adalah menutup aurat sebagaimana tercantum dalam surah al-A’raf [7]: 26 yang artinya; Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Maka dari itu fashion merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari.

Waktu tidak berjalan mundur, pola hidup manusia semakin berkembang dan terus maju, termasuk cara berpenampilan. Fashion telah lebih jauh dari sekedar kebutuhan, melaikan menjadi tren, gaya hidup dan alat komunikasi untuk menyampaikan identitas pribadi. Bukan hanya kalangan orang dewasa, bahkan juga anak-anak. Minimal ada tiga hal yang harus terpenuhi bagi mayoritas orang ketika berpakaian saat ini, yaitu memberi rasa percaya diri, memberikan daya tarik, dan membuat bahagia.

Bersamaan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, informasi tekait model fashion sangat mudah didapat.  Media sosial setiap detiknya tak pernah henti meng-update model terkini dari berbagai kota, negara dan benua. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada meningkatnya kecenderungan pola konsumsi masyarakat terhadap produk-produk fashion, apalagi adanya perdagangan bebas yang dibarengi dengan gaya hidup masyarakat yang mengarah pada modernisasi dan brand minded.

Di masa pasca revolusi industri, membuat fashion dalam jumlah yang besar bukanlah suatu masalah. Industri tekstil menawarkan berbagai model silih berganti  dalam waktu yang begitu singkat mengikuti tren dan dengan harga yang murah, hal ini dikenal dengan istilah fast fashion. Namun burukya, industri fast fashion ini abai terhadap dampak buruk pada lingkungan. Agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dan bisa dijangkau oleh hampir semua kalangan, maka kemudian fast fashion dibuat dengan bahan baku yang berkualitas buruk, sehingga produk-produknya pun tak bertahan lama (cepat rusak), meyebabkan limbah pakaian bekas yang terus meningkat dalam perputaran waktu yang begitu cepat. Sementara penguraiannya begitu lambat.

Dilansir dari zerowaste (dot) id bahwa dampak dari fast fashion tidak hanya terhadap lingkungan, tapi juga  manusia sendiri. Apa saja?

Industri fast fashion biasanya menggunakan pewarna tekstil yang murah dan berbahaya, sehingga dapat menyebabkan pencemaran air dan beresiko terhadap kesehatan manusia. Poliester adalah salah satu bahan baku yang banyak digunakan industri fast fashion yang berasal dari bahan baku fosil, sehingga saat dicuci akan menimbulkan serat mikro yang meningkatkan jumlah sampah plastik. Bahan katun yang digunakan biasanya dicampur dengan air dan pestisida dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga membahayakan para pekerja dan meningkatkan resiko kekeringan, menciptakan tekanan besar pada sumber air, menurunkan kualitas tanah, serta berbagai masalah lingkungan lainnya. Industri fast fashion biasanya juga menjadi penyebab menurunkan jumlah populasi hewan, karena kebanyakan dari mereka juga memanfaatkan kulit binatang sebagai bahan baku dan tentunya akan dicampur dengan berbagai zat kimia. Seperti ular, macan, dan hewan lainnya.

Lingkungan merupakan unsur penting yang sangat terkait dengan proses keberlangsungan  hidup manusia dan makhluk lainnya di muka bumi. Kemampuan bumi dalam menyediakan sumber daya bagi manusia semakin berkurang. Alih-alih menjaga dan melestarikan, kita justru merusak dan terus mengancam kestabilan bumi dan kelangsungan hidup banyak sekali spesies lainnya. Akhirnya, banjir, longsor, kekeringan, pemanasan global dan sebagainya menjadi bukti nyata bahwa bumi seakan sudah tidak mampu menampung gaya hidup manusia yang menghuninya.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin mencakup segala aspek. Tidak ada hal dalam kehidupan yang luput dari pembahasan Islam, termasuk permasalahan lingkungan. Islam menekankan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan berlaku arif terhadap alam (ecology wisdom). Ambil contoh dalam pelaksanaan ibadah haji. Orang-orang yang sedang  ihram dilarang membunuh hewan atau mencabut tumbuhan yang ada. Sekilas kita menganggap bahwa itu hanya dikhsuskan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji saja. Padahal pesannya juga untuk kita secara umum, membunuh hewan dan menebang pepohonan tanpa adanya keperluan atau hanya untuk memuaskan hasrat itu merupakan tindakan yang tidaklah dapat dibenarkan. Bahkan ketika perang, salah satu undang-undang yang ditetapkan oleh Rasulullah yaitu tidak boleh memotong dedaunan dan pepohonan.

Fiqh al-bi’ah  (fiqh ramah lingkungan) yaitu, fiqh yang menjelaskan sebuah aturan tentang perilaku ekologis masyarakat muslim berdasarkan dalil-dalil yang terperinci, untuk mencapai kemaslahatan dan melestarikan lingkungan. Menjaga lingkungan sama halnya dengan menjaga lima tujuan dasar Islam (maqashid as-syari’ah), dijelaskan oleh Yusuf Qardhawi dalam Ri’ayah al-Bi’ah fi Syariah al-Islam. Dalam kitabnya yang berjudul al-Tafsir al-Maqashidiy, Prof. Abdul Mustaqim justru memasukkan hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan) sebagai salah satu dari maqashid as-syari’ah yang juga harus diperhatikan. Wacana lingkungan ditempatkan sebagai doktrin utama, bukan lagi sebagai cabang (furu’). Karena tidaklah akan tercapai kelima tujuan dasar terseebut jika kondisi lingkungan dan alam semesta tidak mendukung.

Membendung fast fashion sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari lemari masing-masing. Membangun kesadaran serta megatur kembali pola konsumsi terhadap apa yang benar-benar kita butuhkan. Bukankah kesederhanaan merupakan sebagian dari iman? (Sunan Ibn Majah/1379). Janganlah kita menjadi orang yang kufr dengan melakukan perusakan dan pemerkosaan terhadap alam hanya demi kepuasan nafsu semata. Dalam mengatasi permasalahan ini tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan agama saja, melaikan juga ekonomi, politik dan dan budaya sosial. Mejaga lingkungan adalah kewajiban tiap-tiap individu.



Facebook Comments
Latest posts by Zuyyinah (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *