Press "Enter" to skip to content

Fenomena Simbol Salib di Masyarakat Indonesia

Waktu Baca:3 Menit, 48 Detik

Cliffort Greetz, seorang antropolog pernah berkata, “Manusia adalah hewan yang terkurung dalam jaring-jaring makna (simbol) yang mereka buat sendiri”.

Akhir-akhir ini, sensitifitas publik terhadap simbol agama tertentu atau simbol yang berbentuk tertentu meningkat. Semua orang menjadi sangat sensitif jika melihat simbol salib, simbol mata satu, segitiga dan simbol yang dianggap satanis. Publik mudah sekali terpancing emosi dengan informasi yang mengawang-awang di dunia maya.

Penulis selalu bertanya-tanya, apa yang menyebabkan sensitifitas simbol itu? Apakah ini memang simbol itu yang menyulut emosi? Atau memang manusianya yang menkonstuksi dirinya sendiri untuk membenci? Mari kita bahas penyebabnya di tulisan singkat ini.

Sensitifitas publik terhadap simbol yang paling hangat terjadi beberapa minggu yang lalu. Tepatnya setelah peluncuran logo peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-75. Logo resmi yang diterbitkan pemerintah itu kemudian dicerca dan dikomentari dengan negatif di media sosial habis-habisan. Dalihnya, menyerupai lambang salib. Ya, mirip lambang salib yang kemudian diartikan sebagai serangan kepada umat Islam.

Sebelum itu, pada pertengahan tahun 2019 lalu, Masjid al-Safar yang didesain oleh gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil) juga menjadi sasaran celoteh jahat netizen di twitter. Netizen yang maha benar menggap desain masjid itu sebagai implementasi simbol illuminati. Dan menuduh Ridwan Kamil memiliki hubungan dengan kelompok illuminati dunia. Lagi-lagi tuduhan itu dengan dasar, “mirip, menyerupai, dianggap” sebagai simbol illuminati.

Jika ditarik lebih jauh lagi, pada tahun 2016 yang silam, fenomena seperti ini juga pernah terjadi. Suatu kelompok masyarakat di Indonesia juga menuduh simbol Bank Indonesia (BI) di pecahan uang seratus ribu yang baru diterbitkan sebagai simbol dari PKI alias Partai Komunis Indonesia. Dan lagi, atas dasar “mirip, menyerupai, dianggap” sebagai simbol PKI.

Para netijen yang maha benar itu menafsirkan bentuk logo HUT, logo Bank Indonesia, hingga desain masjid sebagai simbol musuh, simbol setan dan simbol illuminati dan harus dimusnahkan. Tuduhan-tuduhan merekapun juga selalu atas dasar asumsi yang tidak berdasar, “mirip, menyerupai, dianggap”. Dan semua itu dituduhkan tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Meskipun setelah diberikan penjelasan, mereka masih ngeyel, nyiyir dan masih saja tidak terima kalau asumsi kosong mereka terjawab dengan argumen ilmiah dan logis.

Inilah realita masyarakat kita, dimana hawa nafsu menyalahkan, menuduh dan argumen asumsi-asumsi lebih benar daripada argumentasi ilmiah, logis dan jelas akarnya. Fenomena ini pernah disinggung di dalam al-Quran. Dikatakan dalam surat al-An’am ayat ke 119:

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan”.

Melihat fenomena ini, saya teringat perkataan Buya Hamka yang masyhur itu. “Kita ini memang hanya dipertemukan dengan apa yang kita cari”. Kata bijak Buya Hamka dapat kita artikan sebagai ajakan untuk kita semua agar selalu berfikir positif. Apa yang kita fikirkan, itu jugalah yang akan kita temukan. Kritis perlu, tapi jangan sampai menumpulkan hati.

Kalau kata Gus Nadir, orang-orang yang menafsirkan simbol-simbol tersebut dan menjadikannya api kemarahan adalah orang-orang yang bersumbu pendek. Beliau mengatakan, orang yang memiliki pikiran yang negatif, akan memandang sesuatu dari prespektif negatif juga, sehingga, mau diapakan juga outputnya pun juga akan selalu negatif.

Gus Dur memanggil orang-orang seperti ini dengan istilah orang yang keras hatinya. Suatu ketika Gus Dur ditanya, “Gus, apa tanda-tanda keras hati?”, beliau menjawab “Saat melihat gereja kau takut imanmu runtuh. Tapi saat membaca Quran tak sedikitpun hatimu tersentuh”.

Benarlah kata beliau, orang di zaman sekarang sangat takut dengan simbol salib, simbol illuminati dan sebagainya. Bahkan mereka lebih memilih mengurus, mengomentari, mengutamakan simbol itu daripada memperbaiki keimannannya sendiri. Jika ada hal seperti ini, mereka berani berotot dan maju di baris pertama.

Semangat kegamaan mereka ditujukan untuk memperjuangkan nafsu dan menyerang orang lain. Bukan untuk memperbaiki diri. Membela agama dengan cara yang salah, tidak pernah dibenarkan dalam agama itu sendiri. Semangat membara itu suatu saat akan membakar diri mereka sendiri.

Itulah negeri kita, berani berceloteh atas nama agama, bermodal google dan pandai berorasi mejadi ahli agama bak ustaz yang sudah mengaji berpuluh-puluh tahun. Ya, meskipun belum bisa membedakan yang mana idgham bi gunnah dan yang mana idgham bila ghunnah. Miris.

Pada dasarnya ini semua terletak pada perspektif masing-masing. Contonya sederhananya simbol melipat jari manis, jari tengah dan ibu jari. Kemudian mengacungkan dua jari lainnya. Orang-orang di atas akan mengartikan simbol ini dengan simbol El Diablo atau simbol Iblis Bertanduk, alias simbol setan. Yang artinya “Aku mencintaimu, Satan!” kata mereka.

Hal ini akan memiliki makna lain kalau dibawa ke Turki. Simbol acungan dua jari ke atas ini memiliki arti “serigala” bagi pendukung Erdogan, alias simbol partai Pergerakan Partai Nasionalis di Turki. Hmm, jangan jangan presiden Turki juga bagian dari… Ah sudahlah, asumsi kosong tidak pernah berbuah kebenaran.

Facebook Comments
Latest posts by Redaksi (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *