Press "Enter" to skip to content

Fmininisme dan Problematika Wanita Karir dalam Keluarga

Waktu Baca:3 Menit, 58 Detik

Sebuah pasangan suami istri dengan istri sebagai seorang wanita karir telah banyak ditemui di kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, terutama di daerah perkotaan. Tuntutan kehidupan ekonomi yang tinggi membuat para istri ikut turun tangan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga juga didukung dengan banyaknya gerakan feminism atau kesetaraan gender yang membuat para wanita ingin ikut tampil ke berbagai bidang profesi.

Hal ini menyebabkan munculnya konsep peran ganda perempuan pada dua ranah sekaligus, yakni ranah domestik dan publik. Fenomena tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pranata dan struktur sosial di dalam keluarga dan masyarakat. (Utaminingsih, 2017: 94)

Wanita yang bekerja di luar rumah harus siap menanggung resiko untuk berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah.

Sisi positif menjadi wanita karir yang sudah berkeluarga adalah meningkatkan kesejahteraan keluarga. Namun, hal itu dapat tercipta jika seorang wanita karir dapat menjaga keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dengan lingkungan keluarga juga didukung dengan pengertian, kesadaran, dan pengorbanan suami. (Utaminingsih, 2017: 102-103)

Meskipun demikian, sebaik-baik rencana dan komitmen, sering pada kenyataannya tidak semudah itu. Wanita karir mungkin dapat menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan menyetrika pakaian juga membersihkan rumah dengan membayar tenaga asisten rumah tangga. Namun, untuk memenuhi peran seorang istri dan ibu tidak mungkin hal itu dapat digantikan oleh orang lain.

Saat bekerja, mungkin anak memang dapat dititipkan kepada orang tua, sanak saudara, atau jasa pengasuh, tetapi kasih sayang seorang ibu dan pendidikan pertama dari seorang ibu kepada anaknya tidak dapat dipenuhi oleh orang lain.

Wanita karir sering tidak menyadari bahwa dibandingkan dengan penghasilan yang memang mencukupi keluarga karena bekerja di luar (contohnya sebuah perusahaan), kehadirannya di rumah adalah hal yang paling dibutuhkan oleh keluarga. Jika sang suami telah pulang kerja dan lelah, di waktu yang bersamaan sang istri yang wanita karir pun baru pulang dari kerja, keduanya sama-sama lelah. Orang yang lelah mudah sekali naik emosinya hanya dengan disulut oleh hal-hal kecil, oleh karena itu tidak dapat dipungkiri sangat mungkin terjadi percekcokan jika tidak ada yang dapat mengalah. Hal ini dapat menggeser peran wanita sebagai istri dan ibu menurut adat masyarakat sehingga munculah istilah emansipasi laki-laki yang mengambil alih tugas domestik. (Utaminingsih, 2017: 105)

Dampak negatif dari wanita yang bekerja di luar rumah yaitu dapat timbulnya fitnah, maka menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, lahan pekerjaan perempuan di rumah atau di bidang pengajaran sudah cukup tanpa harus memasuki pekerjaan yang menjadi tugas laki-laki. (Utaminingsih, 2017: 95)

Menurut Imam Qardhawi, secara hukum Islam, perempuan boleh bekerja di luar rumah apabila adanya tuntutan, tidak mengesampingkan tugas-tugasnya sebagai seorang istri dan ibu, dan diperbolehkan oleh suami serta terjamin keamanan dan keselamatannya. Pendapat Qardhawi tersebut disimpulkan menjadi syarat-syarat wanita karir dalam Islam: bebas dari hal-hal yang menyebabkan kemungkaran, pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utama dalam urusan rumah, harus dengan izin suaminya, menerapkan adab-adab Islami (misal: menjaga pendangan, berpakaian sopan, tidak memakai wewangian berlebihwa), pekerjaannya sesuai dengan sifat wanita (misal: mengajar, melatih, dokter, perawat, penulis), dan tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya.

Peran seorang wanita dijelaskan pada suatu hadis Rasulullah di bawah ini.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi’ dari Abdullah ia berkata:
….والمرأة راعية على بيت زوجها وهي مسئولة….
“…Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan ia pu akan dimintai pertanggungjawabannya…” (HR. Bukhari 4789).

Wanita yang telah berkeluarga menanggung amanah sebagai pemimpin bagi keluarganya. Ia yang menjadi penjaga harta dan martabat suami serta keluargnya. Ia adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tidak ada larangan untuk seorang wanita bekerja di luar rumah jika memang kebutuhan keluarga tidak terpenuhi hanya dengan penghasilan sang suami. Tetapi hal itu jangan menjadikan ia mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri yang taat dan melayani sang suami, mendidik anak-anaknya, dan menyiapkan segala kebutuhan keluarga. Seringkali para wanita mengatakan ia dapat membagi peran tapi seiring berjalannya waktu, tanpa disadari sedikit demi sedikit kewajiban-kewajiban utamanya terabaikan.

Jika memang ingin membantu ekonomi keluarga, tanpa membuat sang suami khawatir dan menimbulkan fitnah, juga agar pekerjaan rumah tidak terbengkalai, wanita dapat berkarir dari rumah. Sudah banyak sekali saat ini usaha yang dibangun di dunia maya tanpa perlu adanya gedung atau karyawan dan pengelolaan hanya dilakukan dari dalam rumah.

Selain itu, dapat juga membuka usaha di rumah, sangat banyak sekali produk yang menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Keseteraan gender antara wanita dan pria memang menjadi angin segar bagi perempuan untuk berekspresi. Tetapi segala sesuatu harus dikembalikan kepada ajaran Islam yang pada dasarnya hanya ingin menjaga dan memuliakan wanita.

Seorang wanita yang telah berkeluarga maka sebisa mungkin dapat kreatif untuk mengembangkan diri dan membantu suami dengan cara-cara yang memang tidak melanggar kodratnya sebagai seorang istri dan ibu dalam keluarga. Wanita pekerja baik dan jika sekaligus menjadi seorang istri dan ibu yang salihah itu lebih baik.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *