Press "Enter" to skip to content

Fungsi Agama Bagi Individu dan Masyarakat

Waktu Baca:4 Menit, 0 Detik

Agama merupakan sebuah sistem keyakinan yang mengatur antara hubungan manusia dengan sang penciptanya. Agama juga mengatur hubungan antar-sesama manusia yang setiap orang bebas menentukan pilihannya apa yang diyakini. Fungsi agama akan terlihat ketika dilihat dari berbagai bentuk pengamalan atas kepercayaan yang diyakini, atau dapat pula dilihat dari sikap dan perilaku para penganutnya. Jika berbicara mengenai persoalan agama, semua orang harus faham dan mengerti tentang agamanya. Setiap orang beragama harus mempunyai pedoman dalam menjalankan agamanya, baik dengan cara belajar atau menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan.

Individu adalah satuan terkecil dari suatu kelompok yang sudah tidak bisa dibagi lagi menjadi yang lebih kecil. Setiap individu memiliki tingkah laku yang bersifat bebas dan mandiri, serta tidak berdampingan dengan yang lain. Dalam konteks beragama, setiap individu juga memiliki kebebasan beragama ataupun berkeyakinan sesuai dengan apa yang ia percayai. Untuk masalah keyakinan tidak ada paksaan pada setiap individu, dan ia bebas melakukan kewajiban yang ada pada agama masing-masing.

Masyarakat adalah gabungan dari berbagai unit terkecil (individu) yang terdiri beberapa orang atau kelompok. Mereka hidup saling berdampingan antara yang satu dengan yang lainnya. Masyarakat hidup bahu-membahu untuk menjalankan kehidupan dengan cara saling membantu, saling berbagi, dan berbagai hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan demi terciptanya kehidupan yang damai dan rukun. Setiap masyarakat memiliki sifat dan karakter yang berbeda tergantung bagaimana mereka beradaptasi maupun bersosialisasi dengan baik.

Dalam kacamata sosiologi-antropologi, fungsi agama bagi individu terdiri dari 3 aspek, yaitu: sebagai identitas agama; sebagai jalan hidup; dan sebagai kepercayaan atau perasaan dalam pikiran. Ketiga aspek tersebut dapat dilihat realisasinya dalam sebuah Pondok Pesantren di Sembego yang berada di Kecamatan Depok yang memiliki santri sekitar 150 orang (putra dan putri). Santri di Pondok Pesantren Diponegoro memiliki aturan-aturan yang bersifat keagamaan yang berdampak akan kedisiplinan santri, baik yang berkaitan dengan peribadahan ataupun yang lainnya. Tetapi pada awalnya mereka cenderung melakukan itu semua hanya berdasarkan peraturan yang ada di Pondok Pesantren, bukan kesadaran setiap individu untuk melakukan kewajiban yang diperintahkan dalam agama.

Baca juga: Mengubur Belakang Dapur

Untuk identitas diri sudah sangat terlihat dari kita hidup di lingkungan Pondok Pesantren yang semuanya pasti beragama muslim dan lingkungan sekitar yang juga beragama muslim. Cara berpakaian yang kesehariannya memakai jilbab itu juga merupakan identitas seorang muslim. Karena berada di lingkungan pesantren harus lebih menonjolkan akhlak atau kepribadian yang nilai-nilai agamanya lebih dari orang yang tidak berada di pesantren. Sebenarnya itu yang menjadi tantangan terberat untuk menonjolkan perilaku yang baik bagi seorang muslim yang beragama.

Untuk fungsi agama dari aspek sebagai jalan hidup, penerapannya dalam kehidupan santri Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro dapat dilihat dari sikap mereka terhadap orang yang lebih tua ataupun yang lebih muda, cara mereka bermasyarakat, dan cara mereka menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan kebersihan diri. Ini semua pada dasarnya telah diterangkan secara jelas di dalam al-Qur’an dan Hadis. Tetapi kenyataannya, tidak semua santri sadar dan faham tentang itu. Semuanya butuh proses, waktu, pengarahan, bimbingan, serta contoh dari para Pembina pondok yang menjadi orang tua kedua di pondok. Perubahan sikap menjadi tidak baik terjadi karena adanya pengaruh dari luar pondok dan dari anak yang tidak berada di pondok, tetapi masih bertemu ketika sekolah. Anak yang tidak berada di pondok akan bebas melakukan kegiatan di luar yang bisa memengaruhi fikiran dan perilaku anak Pondok Pesantren.

Adapun fungsi agama menurut sosiologi-antropologi bagi masyarakat adalah sebagai sistem aktivitas yang diimplementasikan dalam sebuah system ritual dan system etika. Saya melihat fungsi ini pada warga masyarakat sekitar Pondok Pesantren yang memiliki nilai religius yang berlahan memiliki peningkatan, karena ada sebuah tokoh masyarakat yang berpengaruh di desa tersebut. Bisa dilihat dari sistem ritual yang ada misalnya banyaknya masyarakat yang memiliki kebiasaan-kebiasaan keagamaan yang berfungsi mempertahankan moral dan melestarikan tradisi yang ada di Desa Sembego.  Meskipun dulu adanya kesulitan untuk mengajak hal-hal yang berkaitan dengan ritual keagamaan, tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat pun perlahan sadar. Mereka mulai memahami bagaimana fungsi agama bagi masyarakat, bagaimana cara hidup bermasyarakat, serta bagaimana berperilaku baik terhadap tetangga yang sesuai tuntunan agama.

Ketika ada seorang tokoh masyarakat yang mengajak masyarakatnya untuk mengikuti pengajian disertai ada makanannya, itu secara perlahan akan menarik perhatian masyarakat. Mungkin niat awal sebagian orang mengikuti pengajian adalah untuk mencari makanan yang disediakan. Namun secara perlahan mulailah muncul kesadaran tentang kebutuhan beragama untuk meningkatkan iman dan taqwa yang ada pada diri masyarakat Sembego. Proses peningkatan dapat dilihat baru-baru ini ketika bulan Ramadhan akan berakhir. Seorang kyai desa mengajak masyarakatnya beriktikaf (berdiam diri di masjid) yang dilakukan sepertiga malam yang dimulai pada awal Ramadhan dan sampai bulan Ramadhan berakhir. Di sana telah disediakan makanan dan minuman untuk sahur agar masyarakat lebih bersemangat melakukan ibadah I’tikaf.

Semua praktek ini merupakan bentuk penanaman nilai religious ke dalam diri setiap pemeluk agama, yang awalnya dilakukan dengan pendekatan persuasif, namun selanjutnya mampu memunculkan kesadaran penuh tentang fungsi agama terhadap diri masyarakat itu sendiri.

Facebook Comments
Latest posts by Isfina Lu’luul Amanah (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *