Press "Enter" to skip to content

Hari Bumi 2020 di Masa Pandemi Corona Virus

Waktu Baca:1 Menit, 48 Detik

Sejarah Hari Bumi

Hari Bumi pertama kali dirayakan pada tahun 1970. Pada mulanya peringatan ini dicanangkan untuk mengenalkan isu-isu lingkungan yang sedang terjadi saat itu. Embrio gagasan Hari Bumi oleh Gaylord Nelson ini sudah dimulai semenjak tahun 1960. Berbagai usaha untuk meyakinkan pemerintah dan masyarakatpun tidak sia-sia.

Setelah bertahun-tahun mempropagandakan gagasan ini, pada tahun 1969, banyak aktivis peduli lingkungan mulai bermunculan dan terus bertambah hingga saat ini. Dan puncaknya Gaylord Nelson yang juga sebagai Senat Amerika Serikat saat itu mengumumkan konsep Hari Bumi untuk pertama kalinya. Ia mengenalkan konsep ini dalam sebuah konferensi pers pada 1969 di Seattle, Amerika Serikat.

Selaku pejabat pemerintah, ia juga mengupayakan adanya aturan yang mengatur gagasan ini. Dan pada tahun 1970 sudah banyak undang-undang lingkungan yang dibuat. Undang-undang ini dibuat untuk menjaga kesehatan alam dan juga keberlangsungan hidup manusia di bumi. Semenjak saat itu peringatan Hari Bumi dikenal dunia.

Dan pada tahun 1990 sudah lebih dari 140 negara dan 200 juta orang mengikuti perayaan ini. Pada perayaan ke-50 Hari bumi ini, diperkirakan tahun 2020 ini sudah lebih dari 1 miliar orang merayakannya dari seluruh penjuru dunia. Namun, semenjak tahun 2018 lalu, konsep Hari bumi lebih difokuskan untuk mengurangi polusi plastik. (EDN)

Hari Bumi di masa Pandemi

Semenjak munculnya wabah Corona di awal tahun ini, hampir semua alat transportasi dihentikan. Menurut M. Darvish, Dewan Keamanan Nasional untuk lingkungan, perayaan hari bumi tahun ini merupakan perayaan hari bumi dalam kondisi terbaiknya.

Ia mengatakan bahwa sekitar 3,5 miliar orang yang berpergian setiap harinya. Dengan berhentinya alat transportasi, ini memberi dampak pengurangan polusi udara saat ini. Sehingga ini berdampak pada kondisi bumi yang mirip seperti keadaan bumi pada tahun 1990-an.

Salah satu efek signifikan yang dapat dirasakan adalah membaiknya iklim dan ozon bumi. Semenjak wabah Corona muncul, berbagai aktivitas yang merusak ozon seperti penerbangan pesawat, tes rudal dan pergerakan satelit telah berkurang, sehingga baik untuk kesehatan ozon bumi.

Selain itu, efek lain yang ditimbulkan dari Corona adalah meningkatnya keanekaragaman hayati. Masih manurut M. Darvish, peningkatan populasi satwa liar dapat dilihat semenjak pecahnya wabah Corona. Hal positif lainnya juga terkait dengan menurunnya intensitas wisatawan di habitat alami bumi.

*dirangkum dari berbagai sumber

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *