Hikmah Mempelajari Bahasa Arab dari Lagu ‘Ya Tabtab’

Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang sangat membawa berkah bagi seluruh umat muslim diseluruh dunia. Nuansa bulan suci ini pun sangat terasa dalam berbagai aspek. Walau Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya karena wabah covid-19 yang sedang melanda seluruh dunia. Namun tidak mengurangi kekhidmatan umat muslim dalam beribadah.

Berbagai macam siaran yang berbau Ramadhan pun banyak ditampilkan di berbagai acara televisi. Baik berupa kajian, kontes da’i, bahkan kontes menyanyi lagu religi yang bertajuk Ramadhan sekalipun.

Yang sangat menarik perhatian dan sedang ramai diperbincangkan netizen Indonesia pada pertengahan bulan Ramadhan ini adalah lagu “Ya Tabtab” yang dibawakan oleh salah satu grup musik gambus yang sangat terkenal di acara TV yang bertajuk islami.

Banyak viewers yang tersihir dengan lantunan lagu Arab yang dibawakan oleh grup musik tersebut. Nah, yang menjadi perdebatan oleh masyarakat setelah acara ini tayang adalah banyak netizen yang menyadari bahwa isi dari sya’ir-sya’ir lagu Arab ini sama sekali tidak mengandung muatan lagu religi dan Islami. Awalnya banyak yang tidak menyadari dikarenakan lirik lagu ini menggunakan dialekMesir yang banyak memiliki perbedaan dalam pengucapan dengan bahasa Arab fushah yang banyak dipelajari di Indonesia.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan lagu ini, yang salah adalah masyarakat Indonesia sering dibuat “latah” dengan lagu-lagu Arab yang sebenarnya tidak semua bait-baitnya bernafaskan Islami.

Baca Juga: Universitas Terbaik di Turki 2020

Banyak lagu-lagu Arab yang isinya tentang percintaan antara dua insan, hampir sama dengan kebanyakan lagu-lagu bertemakan cinta yang berasal dari Indonesia. Mungkin yang membuat perdebatan disini adalah lagu ini dinyanyikan di acara yang harusnya memuat lagu lagu shalawatan dan Islami. Nah mungkin kalau lagu ini dibawakan di acara musik biasa gak bakal seheboh ini ya.

Dari peristiwa ini saya kembali teringat dengan cerita Gus Dur yang saya baca ketika MA dulu tentang rombongan jamaah haji yang tiba di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Pada saat itu mereka langsung didatangi oleh para kuli angkut yang merupakan orang Yaman yang sedang berebut untuk membawa barang-barang para jamaah haji.

Waktu itu mereka berakhir dengan percekcokan serius, yang pastinya menggunakan bahasa Arab. Anehnya para jamaah haji malah datang bergerombol mengerubungi para kuli tersebut sambil mengucapkan Aaamiin, Aaamiin, Aaamiin disela-sela perdebatan mereka. Sambil keheranan Gus Dur pun menghampiri mereka dan bertanya apa yang sedang terjadi. Jamaah haji Indonesia menjawab bahwa mereka sedang mengamini doa yang sedang dibacakan oleh para kuli angkut tersebut yang jelas-jelas sedang berdebat. Alasannya karna bahasa arab mereka yang terdengar sangat fasih seakan sedang berdoa ditambah dengan pakaian mereka yang bersorban layaknya pakaian Kiai di Indonesia.

Dari cerita diatas sangat terlihat bahwa atribut keislaman di Indonesia hanya dilihat dari pakaian yang berjubah dan bersorban serta bahasa arab yang fasih. Padahal sorban dan jubah adalah pakaian sehari-hari yang memang biasa dipakai oleh orang Arab tidak hanya ketika shalat.

Lagi-lagi masyarakat Indonesia menjadi “latah” akan hal-hal yang berbau Arab. Padahal tidak semua yang identik dengan Arab adalah sesuatu yang mengandung nilai keislaman. Seperti halnya lagu “Ya Tabtab” diatas. Namun tidak ada yang salah dengan penggunaan berbagai macam atribut di atas. Yang menjadi point penting disini adalah kita sebagai kaum ‘ajam (non Arab) penting untuk mempelajari bahasa Arab agar tidak kecolongan lagi. Terlepas dari berbagai macam jenis bahasa Arab yang ada diseluruh dunia. Intinya sedikit banyaknya kita paham sehingga tidak salah kaprah yang pada awalnya berniat untuk bershalawat malah jadi nyanyi lagu cinta.

Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.