Hukum dan Lafaz Niat Puasa Ramadhan

Terhitung bakda maghrib malam ini sudah masuk bulan Ramadhan. Shalat tarawih juga sudah bisa dilakukan malam harinya. Namun, sayang sekali, ramadhan ini harus kita lakukan di rumah masing-masing. Tidak boleh dilakukan berjamah di masjid, sesuai dengan fatwa ulama dan anjuran pemerintah.

Ada hal yang penting untuk diketahui bersama terkait dengan hari-hari pertama bulan ramadhan. Hal ini terkait dengan niat puasa Ramadhan. Apa humum berniat puasa Ramadhan dan lafaz niatnya seperti apa yang diajarkan guru-guru kita.

Kita akan melihat bagaimana niat dan lafaz yang benar dan waktu pelaksanaannya. Karena niat dan masalah waktu ini masuk dalam ranah kajian fiqih, kita akan membahasnya sesuai dengan kacamata 4 mazhab fiqih yang sudah disepakati kredibilitasnya oleh ulama ahlu sunnah wal jamaah.

Hukum niat puasa ramadhan dan waktunya.

Tidak ada perbedaan pendapat ulama atas kewajiban niat puasa Ramadhan. Keputusan ini disandarkan pada hadis nabi dari Hafshah yang berbunyi:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Dari Nabi Muhammad beliau bersabda “Barang yang tidak berniat puasa pada malam hari (sampai) sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya (tidak sah)” (HR. al-Nasai; No. 2291)

Dari teks hadis di atas sudah jelas dikatakan bahwa, puasa ramadhan tidak akan sah jika dilakukan tanpa niat, semua mazhab fiqih tidak ada perbedaan pendapat.

Adapun waktu pelafazan niat puasa, jatuh pada masuk waktu maghrib awal ramadhan sampai terbit fajar. Dan seperti itu seterusnya.

Pelafazan niat puasa bisa dilakukan dalam hati saja, juga bisa dilakukan dengan pelafazan dengan suara. Jika tidak bisa dilakukan dalam bahasa Arab, bisa dilakukan dengan bahasa Indonesia atau bahasa yang bisa dipahami.

Niiat puasa dan lafaz niat berpuasa menurut 4 mazhab

Para ulama memiliki perbedaan pendapat untuk lafaz dan pelaksanaan waktu niat puasa.

Pendapat imam Syafi’i. Niat puasa Ramadhan harus dilafazkan setiap kali hendak berpuasa. Artinya, setiap malam diharuskan memperbarui niat puasa. Lafaz yang diajarkan adalah seperti berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

“Saya berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”.

Niat dan lafaz ini dibaca setiap hari. Pengulang niat puasa setiap hari juga diikuti oleh Imam al-Nawawi dan juga Imam Ibnu Qudamah. Imam Hambali dan Imam Hanafi juga memiliki pendapat yang sama dengan pemikiran Imam Sayfi’i.

Pendapat Imam Malik. Niat puasa cukup dijamak satu kali di awal puasa Ramdahan saja. Di hari selanjutnya tidak ada kewajiban mengucapkan ulang niat puasa lagi. Lafaz niat puasa yang diajarkan adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku berniat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini, fardu karena Allah ta’ala.”.

Namun pada praktiknya, walaupun mayoritas masyarakat Indonesia bermazhab pada Imam Syafi’i, banyak juga Kyai yang mengajarkan ini ke masyarakat. Setiap bakda shalat tarawih diucapkan bersama dan dipimpin langsung oleh imam.

Dengan adanya niat ini di awal ramadhan, bukan berarti tidak boleh berniat di hari selanjutnya. Tetapi, langkah ini diambil untuk bersikap hati-hati. Jikalau di hari-hari selanjutnya ada yang lupa membaca niat, puasa tetap sah dan bisa dilanjutkan sampai akhir Ramadhan.

Bonus: lafaz niat dalam bahasa Jawa

Lafaz niat dalam bahasa jawa. Biasanya dibaca setelah shalat tarawih di tempat-tempat tertentu di komunitas orang jawa. Berikut lafaz niat dalam bahasa jawa:

“Niat ingsun poso tutuko sedino sesuk, saking anekani fardhune wulan ramadhan iki taun, krono ninda-akke, dawuhe Gusti Allah ta’ala”

Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.