Hukum Istimna (onani) di Bulan Ramadhan, batalkah?

Al-‘adatu al-Sirriyah”, “Al-Istimna'” dalam bahasa Arab atau istimna, masturbasi dan onani dalam bahasa Indonesia adalah kegiatan mengeluarkan sperma dengan sengaja menggunakan tangan atau alat bantu seksual. Dan istimna biasanya terjadi ketika seseorang berada dalam puncak syahwatnya dan tidak bisa menafan nafsunya.

Pada umumnya, timbulnya syahwat untuk melakukan istimna dikarenakan ada hal yang memantik. Bisa karena ada visual yang merangsang libido pada tubuh, imajinasi atau juga terjadi di dalam alam bawah sadar, mimpi basah. Dan ini bisa terjadi pada perempuan ataupun laki-laki.

Pada umumnya orang yang melakukan masturbasi adalah anak remaja yyang sudah memasuki masa pubertas. Hal ini tentu berefek negatif dalam tumbuh kembangnya baik secara psikis ataupun fisik. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui informasi terkait dengan istimna.

Pertama, bagaimanakah hukum istimna atau masturbasi dalam kaca mata Islam?

Ulama ahli fiqih memandang bahwa onani adalah suatu penyakit. Ia akan memberi muhdarat kepada tubuh dan juga berefek jiwa pelakunya. Dan dalam pandangan mazhab fiqih yang 4 dan kesepakatan jumhur ulama, istimna adalah haram hukumnya dan dosa besar bagi pelakunya. Hal ini didasarkan pada ayat al-Quran surat al-Mukminun ayat 5-7:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya”,”Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki,  maka sesungguhnya mereka dalam keadaan tercela”,”Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”.

Dalam ayat ini jelas dikatakan bahwa semua orang mukmin diwajibkan menjaga kemaluannya dari perbuatan kotor, yaitu zina dan juga termasuk istimna. Kemudian dalam ayat ke tujuh dikatakan bahwa “mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”, yang dimaksud dengan melampaui batas adalah akan dihukum berdosa. Dari sini jelas keharaman melakukan istimna.

Baca juga: 3 Adab dalam Berpuasa Ramadhan

Kedua, apa hukum masturbasi ketika puasa Ramadhan?

Hukum masturbasi itu asalnya haram dan merupakan dosa besar. Dalam berpuasa, melakukan dosa kecil saja dapat mengurangi pahala puasa bahkan terancam puasanya sia-sia, apalagi dengan melakukan dosa besar dan dan jelas keharamannya?

Menurut Ibnu Qudamah, Imam an-Nawawi dan Imam besar lainnya berkata, bahwa “orang yang mengeluarkan air mani dengan sengaja, adalah haram dan jika dalam keadaan puasa maka akan batal puasanya”. Terkecuali yang mimpi basah ketika berpuasa, maka tidak dihukumi batal, karena bukan sebuah kesengajaan, berdasarkan pendapat Grand Syaikh al-Azhar, Syaikh Ali Jum’ah.

Sudah jelas, bahwa hukum masturbasi, baik perempuan ataupun laki-laki itu adalah dosa dan membatalkan puasa. Karena istimna adalah perbuatan merusak psikis dan fisik. Dan semua mazhab fiqih dan jumhur ulama bersepakat atas keharamannya.

Keempat, bagaimana hukum menonton porno dalam Ramadhan?

Melakukan istimna erat hubungannya dengan menonton porno. Salah satu penyebab timbulnya syahwat adalah karena terangsang visual yang berbau pornografi. Ini bisa terjadi dengan sengaja dan juga tidak disengaja. Bisa secarang langsung ataupun melalui alat seperti gadget dan sejenisnya.

Kemudian bagaimana hukumnya? dan sudah barang tentu, hal ini sangat kontras dengan makna puasa Ramadhan itu sendiri. Pada hakikatnya, puasa Ramadhan itu untuk menahan hawa nafsu, tidak hanya untuk menahan makan dan juga minum saja. Ini tertuang dalam hadis Qudsi yang berbunyi:

“Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya”. (HR. Bukhari, No. 7492)

Begitu juga ada disebutkan di dalam al-Quran, yang terdapat pada surat al-Isra ayat 36;

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.

Menonton porno yang kemunian akan menjerumuskan pada perbuatan istimna adalah prilaku kotor, kontras dengan makna puasa Ramadhan, dan di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya.

Jika ini dilakukan dalam masa puasa Ramadhan, maka setidaknya ia akan mendapat tiga dosa sekaligus. Pertama; dosa menonton video porno, kedua; melakukan istimna, dan ketiga; membatalkan puasa wajib Ramadhan. Ia harus bertanggung jawab akan matanya, akan mata dan kelaminnya dan diharuskan mengganti puasanya.

Kemudian, bagaimana cara menghindari masturbasi atau istimna?

Banyak sekali cara menghindari perbuatan buruk ini. Selain dengan menyibukkan diri dengan beraktifitas yang positif, seperti olahraga, membaca buku, menulis, melakukan ibadah, menonton film yang positif atau bahkan hanya sekedar bermain game dapat menjauhkan pikiran untuk berbuat istimna.

Selain itu ada dua cara lain yang bisa dilakukan: Pertama, menjauhkan diri dari semua fasilitas yang dapat menimbulkan syahwat. Caranya, bisa dengan membatasi penggunaan gadget, yaitu dengan cara menyaring hal yang akan diakses di dalamnya.

Kedua, yaitu berpuasa. Ini sesuai dengan hadis nabi

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). (HR. Bukhari)

"Wala tamutunna illa wa antum katibun" - Janganlah engkau mati sebelum menjadi seorang penulis.

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.