Ijazah Doa untuk Kecerdasan dari KH. Ali Maksum

Ilmu itu suci, ia akan bermanfaat jika didapatkan dengan cara suci pula. Ilmu itu ibarat air yang bersih dalam wadah tuang, sementara penuntut itu ibarat gelasnya. Jika gelas itu kotor, sebersih apapun air yang dituangkan air akan menjadi kotor dan tidak akan bisa diminum.

Begitu pula layaknya ilmu, ia akan bermanfaat jika dituntut dengan niat dan cara yang baik. Letak ilmu berada di dalam jiwa (nafs), ia tidak akan mau memasuki relung jiwa jika masih ada kotoran di dalamnya. Karena itu, jiwa harus dibersihkan terlebih dahulu.

Para penuntut ilmu harus memperbarui niatnya agar senantiasa bersih hatinya dan lurus maksudnya. Salah satu cara untuk mencapai itu semua ada tiga aspek yang harus dipenuhi; aspek rohaniah, aspek ilmiah dan dan aspek lillah.

Pertama, dari aspek rohahani. Setiap penuntut ilmu harus memberi makan jiwa agar selalu kuat dan kokoh untuk menuntut ilmu. Salah satunya dengan bisa dengan memperbanyak membaca al-Quran, bershalawat, dan berdoa. Salah satu doa yang paling mashur adalah doa yang diijazahkan oleh KH. Ali Maksum, pengasuh pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ijazah doa tersebut berbunyi:

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ، وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ، وَإِلْهَامَ الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْن بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمْيِنََ

“Ya Allah, anugerahkan kami pemahaman para nabi hafalan para rasul, dan ilhamnya para malaikat yang dekat (dengan-Mu), sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Mahapengasih.”

Doa ini setidaknya dibaca setiap selesai shalat fardu, bisa juga ditambah dengan shalawat badawiyah, membaca rattibul hadad, dan akan semakin sempurna jika ditambah dengan shalat hajat menuntut ilmu.

BACA JUGA : PENTINGNYA ILMU BAHASA ASING

Kedua, dari aspek ilmiah. Ilmu tidak datang dengan sendirinya. Berdoa dan melakukan ibadah yang disebutkan di atas tidak akan cukup tanpa adanya “usaha”. Ibarat air dalam wadah tuang dan gelas tadi, meskipun gelas tadi sudah bersih, kalau tidak ada usaha untuk menuangkan air tadi ke dalam gelas, ia akan tetap kosong.

Artinya, dalam menuntut ilmu harus seimbang antara doa dan usaha. Aspek rohaniah jalan, pun juga aspek ilmiahnya. Caranya bagaimana? Caranya dengan tidak bermalas-malasan, terus berusaha dan istikamah bekerja keras. Ingat, dalam sejarah orang yang sukses, bahwa keberhasilan hanya bisa diraih dengan kerja keras. Tidak ada jalan lain.

 Terakhir, adalah lillah. Setelah melakukan kedua hal di atas, yang perlu dilakukan adalah bertawakkal kepada Allah. Jika Allah berkehendak, kita akan dimasukkan bersama orang yang tafaqquh fil ilm, orang yang dalam ilmu pengetahuannya. Jika tidak, terus rayu Allah dengan memaksakan diri dengan bedoa dan berusaha. Rayu Allah dengan tangisan dalam doamu dan keringat dalal ikhtiarmu. Yakinlah, Allah akan mengabulkan doa dan semua hajatmu.

Disamping itu, perbanyak juga membaca riwayat hidup orang-orang besar, seperti Imam Syafii, Imam Ghazali dan tokoh-tokoh besar lainnya. Pelajari pola-pola belajar yang mereka lakukan untuk memperdalam ilmu. Baca kutipan motivasi dari mereka, tanamkan di hati dengan niat dan pupuk dengan usaha.

Imam Syafii berkata; “Jika kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau akan menanggung perihnya kebodohan”. Syaikh Ali al-Marghibany juga pernah berkata; “Orang bodoh itu sudah mati sebelum mati dan orang alim itu tetap hidup meskipun sudah mati”.

Admin Santri Tulen

Admin Website santritulen.com

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *