Ilusi Kebaruan dalam wacana “New Normal”

Berbicara kenormalan baru, berarti harus merombak hal-hal yang telah terstruktur sedemikian rupa sebelumnya. Mulai dari tata krama, sopan santun, cara beribadah, cara berinteraksi, cara belanja, atau bahkan cara membayar, semuanya memerlukan metode-metode yang perlu didiskusikan. Tidak sebegitu ringannya membangun sebuah kenormalan baru, bahkan di salah satu babakan sejarah, ada yang sampai berkorban jiwa dan darah. Dari kehidupan normal monarki Feodal, sampai kehidupan normal demokrasi liberal yang dijembatani oleh revolusi, entah sistem atau mental.

Normal adalah rentang waktu tertentu yang menandai suatu zaman yang dilingkupi hukum-hukum serta peraturan tak tertulis lainnya, yang rentan berubah oleh “kenormalan” lainnya. Maka dari itu, apakah ada kebaruan dari dinamisnya “Normal”? entahlah. Tapi yang pasti dinamisnya perubahan makna “Normal” sendiri bukan suatu hal yang baru. Ia berubah sebagaimana “potensi kemungkinan”, Pandemi Covid-19 misalnya, menghendakinya berubah. Dari hal terkecil seperti mode, menuju hal penting seperti Interaksi, tata bahasa, cara dan krama, sampai perubahan model negara.

Baca juga: Didong Gayo sebagai Mediasi Dakwak

Adakah hal yang tak lekang oleh suatu perubahan zaman, berubahnya sebuah kebiasaan? perubahan apa yang esensial dari Normal to the new Normal seperti yang diwacanakan ini? apa yang tersisa, kira-kira, dari normal yang dahulu, pada saat nanti ketika new normal benar-benar terealisasi?

Pertanyaan yang bergelayut di kepala ini bukannya membutuhkan jawaban, melainkan memang karena jawabannya belum ditemukan. Tapi yang pasti, tidak ada yang benar-benar berubah. New Normal hanya slogan belaka, isi dan tabiatnya sama. Ia hanya ilusi kebaruan yang akan tertimpa ilusi-ilusi lainnya tentang masa depan, suatu kebaruan yang hakiki.

Perbedaannya hanya terletak bagaimana manusia nanti nya memprogram individunya untuk beradaptasi atas, suatu yang sebelumnya pernah terjadi, kebaruan tadi. Karena menghendaki kebaruan hanya berujung pada kecewa jika ternyata, dunia yang kita kehendaki sebagai kebaruan, sebuah lompatan, tak sepenuhnya berubah, tak sepenuhnya baru. Ia hanya melompat ke anak tangga lain di tangga yang sama.

Raflidila Azhar

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Inggris  di UIN Malang

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *