Press "Enter" to skip to content

Imam al-Ghazali dan Kebenaran sebagai Proses Refleksi Ngaji Al-Munqidz Min al-Dhalal

Waktu Baca:3 Menit, 1 Detik

Bisa dibilang, perbincangan tentang kebenaran sudah sama tuanya dengan sejarah umat manusia itu sendiri. Apa itu kebenaran? Dari mana ia dapat diketahui? dan seabrek pertanyaan lain tidak pernah absen dari generasi ke generasi.

Al-Qur’an menceritakan kebenaran paling awal yang diajarkan Tuhan kepada Adam adalah perihal al-asma (nama-nama) (QS. al-Baqarah: 31). Di era modern sekarang pun, diskusi tentang kebenaran tidak kalah seru khususnya sejak scientism mendeklarasikan kebenaran hanya bisa dicapai dengan penalaran rasional dan empiris, selain itu, termasuk konsep Tuhan yang metafisik, hanyalah fiktif.

Tulisan ini tidak akan masuk ke dalam diskusi pelik di atas, tapi mencoba memotret pengembaraan seorang pencari kebenaran sejati, Imam al-Ghazali. Dalam autobiografinya, al-Munqidz, dikisahkan bahwa Imam Ghazali menapaki jalan dari satu firqah ke firqah yang lain, dari menggeluti ilmu kalam, bathiniyah, filsafat, dan akhirnya memutuskan pilihan ke ajaran tasawuf.

Beliau melihat kebenaran bukan sebagai produk yang harus diambil begitu saja (taken for granted), tapi sebagai proses yang harus dilalui.

Baca juga: Esensi Lailatul Kadar Menurut Imam Fakhru al-Razi

Setidaknya, ada tiga poin penting yang bisa digarisbawahi dari pengembaraan Imam al-Ghazali.

Pertama, keberanian intelektual dalam menyelami lautan kebenaran.
Hal ini diceritakan, misalnya, ketika bertemu pengikut bathiniyah, al-Ghazali akan mencari tau pokok ajaran kebatinannya sedalam-dalamnya, begitu pula ketika bertemu pengikut zhahiriah, filsafat, dan tasawuf. Ia tuliskan:

وأخوض غمرته خوض الجسور, لاخوض الجبان الحذور


“Aku menyelami kedalaman (kelompok di atas) seperti menyelamnya sang pemberani, bukan seperti menyelamnya seorang penakut.” (al-Munqidz hlm. 47)

Benar saja, orang yang inginkan mutiara haruslah menyelam ke dasar lautan, bukan berenang di tepian pantai.

Kedua, kebenaran dilihat dari kebenaran itu sendiri, bukan siapa yang mengatakannya.

Termasuk ciri orang yang lemah kapasitas akalnya (dhu’afa al-‘uqul), menurut al-Ghazali, adalah mereka yang menilai kebenaran berdasarkan siapa yang mengatakannya. Al-Ghazali lantas mengutip perkataan imam Ali bin Abi Thalib:

لاتعرف الحق بالرجال , اعرف الحق تعرف أهله

“Janganlah mengidentifikasi kebenaran berdasarkan orang yang membawanya, tapi ketahuilah kebenaran itu sendiri maka engkau akan tau ahlinya.” (al-Munqidz hlm. 79).

Orang bijak mengatakan, telur ayam tetap berharga meski keluar dari duburnya.

Ketiga, adanya potensi kebenaran dalam kelompok yang dicap salah.
Lazim diketahui bahwa al-Ghazali melancarkan kritiknya terhadap para filosof melalui karyanya Tahafut al-Falasifah. Sampai-sampai para sarjana, termasuk Prof. Fazlur Rahman, menyebut al-Ghazali lah biang kerok matinya filsafat dalam Sunni. Kalau kita lebih fair – sebagaimana yang sering disampaikan Gus Ulil – al-Ghazali sudah sangat adil dalam menilai filsafat. Memang ada poin-poin yang beliau salahkan, khususnya terkait filsafat ketuhanan.

Meski filosof salah dalam hal di atas, tetapi juga ada kebenaran dalam pengetahuan mereka yang lain, seperti dalam riyadhiyah (aritmatika), manthiqiyah (logika), thabi’iyyah (fisika) dan lain-lain. Dalam hal ini, al-Ghazali menulis:

وليس فى هذا ماينبغي أن ينكر

“Dan tidak ada dalam urusan ini keterangan yang harus ditolak”. (al-Munqidz hlm. 72)

Baca juga: Kontekstualisasi Kata “Jahl” dalam Hadis tentang Ramadhan

Bahkan dalam Tahafut al-Falasifah pun, setelah mendiskusikan pandangan para filosof mengenai gerhana matahari dan bulan, al-Ghazali menyatakan:


وهذا الفن أيضا لسنا نخوض في إبطاله ……… ومن ظن أن المناظرة في إبطال هذا من الدين فقد جنى على الدين

“Dan bidang ilmu ini tidaklah kita tolak…. dan (bahkan) barangsiapa yang menganggap bahwa menolak ilmu ini merupakan bagian dari agama maka sungguh ia telah berbuat kriminal terhadap agama.” (Tahafut al-Falasifah hlm. 80)

Demikianlah paparan dari ngaji al-Munqidz bahwa diperlukan keberanian intelektual untuk mencari kebenaran. Bahwa kebenaran jangan dinilai dari siapa yang mengatakan. Kebenaran tidak harus selalu diucapkan oleh tokoh dari kelompok atau peradaban sendiri. Serta, di balik kelompok yang dilabeli salah barangkali memiliki potensi-potensi kebenaran yang lain. Untuk itu, jangan lelah belajar.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *