Imam Fakrul Razi Berbicara Esensi Dirahasiakannya Malam Lailatul Kadar

Dirahasiakannya malam lailatul qadar selalu menjadi kajian yang tidak ada habisnya. Momentum malam mulia ini selalu diharap-harapkan setiap muslim di bulan Ramadhan. Di saat yang sama selalu timbul pertanyaan, “Kapan malam lailatul kadar turun?”. Cara pandang ulama dalam menjawab pertanyaan inipun selalu menarik untuk dibincangkan hingga saat ini. Mari kita lihat.

Banyak sekali pendapat tentang kapan sebenarnya malam lailatul qadar itu turun, apakah di awal bulan Ramadhan sebagaimana kata Ibnu Rozin? atau di malam ke 17 sebagaimana kata Hasan al-Bashri? Di malam 21 menurut Imam al-Ghazali? di malam 23 sebagaimana kata Ibnu Abbas? Atau pada malam ke 24 menurut Ibnu Mas’ud? Atau bahkan, mungkinkah malam lailatul Qadar itu terjadi di luar Ramadhan seperti kata al-Khalil?

Bagaimanapun juga, itu semua adalah prediksi para ulama. Sampai saat ini, kapan malam lailatul kadar akan turun masih mendatangkan misteri. Tidak ada siapapun yang tahu persis, kapan, siapa dan seperti apakah orang yang akan mendapatkan malam lailatul kadar.

Daripada berdebat dan mempermasalahkan “kapan” lailatul kadar terjadi, lebih baik kita membaca fenomena ini dari prespektif lain. Bukan “kapan”-nya, tetapi, “kenapa” dan “apa” hikmah dirahasiakannya momentum lailatul kadar.

Baca Juga: Berburu Jackpot di Bulan Ramadhan

Mari kita lihat pendapat menarik Imam Fakhrul Razi tentang “kenapa Allah merahasiakan malam lailatul qadar”. Hal ini diungkapan dalam kitab tafsir monumentalnya, Mafatihul Ghaib. Ia mengatakan bahwa setidaknya ada 4 hikmah yang bisa kita refleksikan dari dirahasiakannya malam mulia ini. Imam Fakhru al-Razi mengatakan:

Pertama.

أَحَدُهَا: أَنَّهُ تَعَالَى أَخْفَاهَا، كَمَا أَخْفَى سَائِرَ الْأَشْيَاءِ، فَإِنَّهُ أَخْفَى رِضَاهُ فِي الطَّاعَاتِ، حَتَّى يَرْغَبُوا فِي الْكُلِّ، وَأَخْفَى غَضَبَهُ فِي الْمَعَاصِي لِيَحْتَرِزُوا عَنِ الْكُلِّ، وَأَخْفَى وَلِيَّهُ فِيمَا بَيْنَ النَّاسِ حَتَّى يُعَظِّمُوا الْكُلَّ، وَأَخْفَى الْإِجَابَةَ فِي الدُّعَاءِ لِيُبَالِغُوا فِي كُلِّ الدَّعَوَاتِ، وَأَخْفَى الِاسْمَ الْأَعْظَمَ لِيُعَظِّمُوا كُلَّ الْأَسْمَاءِ، وأخفى في الصَّلَاةَ الْوُسْطَى لِيُحَافِظُوا عَلَى الْكُلِّ، وَأَخْفَى قَبُولَ التَّوْبَةِ لِيُوَاظِبَ الْمُكَلَّفُ عَلَى جَمِيعِ أَقْسَامِ التَّوْبَةِ، وَأَخْفَى وَقْتَ الْمَوْتِ لِيَخَافَ الْمُكَلَّفُ، فَكَذَا أَخْفَى هَذِهِ اللَّيْلَةَ لِيُعَظِّمُوا جَمِيعَ لَيَالِي رَمَضَانَ

Imam Fakhru al-Razi menjelaskan, bahwa hal-hal yang Allah rahasiakan dari manusia mesti memiliki memiliki tujuan atau ghayah. Sebagaimana juga kenapa Allah merahasiakan walinya di antara manusia? Kenapa Allah merahasiakan doa mana yang dikabulkan dan ditolak? Merahasisakan namanya yang mana yang paling agung? Merahasiakan yang maksud dari “shalat wustha” dalam al-Quran? Dan sebagainya. Itu semua memiliki tujuan.

Allah merahasiakan walinya di bumi, agar semua kita menghargai setiap orang tanpa memandang rupa, suku, ras dan agama. Allah merahasiakan doa mana yang terkabul atau ditolak, agar manusia selalu berdoa kepada-Nya. Allah merahasiakan namanya yang paling agung, agar semua nama-Nya diagungkan. Allah merahasiakan “shalat wustha”, agar manusia senantiasa melaksanakan shalat setiap hari.

Begitu juga dengan malam lailatul kadar. Allah merahasiakannya agar setiap malam di bulan Ramadhan dimuliakan dan digunakan untuk beribadah dan beramal baik. Baik amal tansendental kepada Allah (hablum minallah) atupun horizontal kepada manusia (hablum minannas).

Kedua.

وَثَانِيهَا: كَأَنَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: لَوْ عَيَّنْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَأَنَا عَالِمٌ بِتَجَاسُرِكُمْ عَلَى الْمَعْصِيَةِ، فَرُبَّمَا دَعَتْكَ الشَّهْوَةُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ إِلَى الْمَعْصِيَةِ، فَوَقَعْتَ فِي الذَّنْبِ، فَكَانَتْ مَعْصِيَتُكَ مَعَ عِلْمِكَ أَشَدَّ مِنْ مَعْصِيَتِكَ لَا مَعَ عِلْمِكَ، فَلِهَذَا السَّبَبِ أَخْفَيْتُهَا عَلَيْكَ، رُوِيَ أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَرَأَى نَائِمًا، فَقَالَ: يَا عَلِيُّ نَبِّهْهُ لِيَتَوَضَّأَ، فَأَيْقَظَهُ عَلِيٌّ، ثُمَّ قَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَبَّاقٌ إِلَى الْخَيْرَاتِ، فَلِمَ لَمْ تُنَبِّهْهُ؟ قَالَ: لِأَنَّ رَدَّهُ عَلَيْكَ لَيْسَ بِكُفْرٍ،فَفَعَلْتُ ذَلِكَ لِتَخِفَّ جِنَايَتُهُ لَوْ أَبَى، فَإِذَا كَانَ هَذَا رَحْمَةَ الرَّسُولِ، فَقِسْ عَلَيْهِ رَحْمَةَ الرَّبِّ تَعَالَى، فَكَأَنَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: إِذَا عَلِمْتَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ أَطَعْتَ فِيهَا اكْتَسَبْتَ ثواب ألف شهر، وإن عصيت فيها اكتسب عِقَابَ أَلْفِ شَهْرٍ، وَدَفْعُ الْعِقَابِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الثَّوَابِ

Selanjutnya Imam Fakrul Razi mengungkapkan, kalaulah malam lailatul qadar itu sudah pasti tanggalnya, dikhawatirkan orang lalai dan jatuh dalam maksiat di malam itu. Karena Allah tahu bahwa manusia itu, meskipun sudah tau perbuatan itu dosa, mereka tetap memilih menuruti hawa nafsunya. Dan dosanya orang yang tahu itu lebih besar daripada orang yang tidak tahu.

Kemudian ia menambahkan satu hadis ketika Nabi menyuruh Ali untuk membangunkan orang yang sedang tidur di masjid. Padahal Nabi ada di masjid itu. Kemudian Ali bertanya, “wahai nabi kenapa engkau menyuruhku, kenapa tidak engkau sendiri yang membangunkannya, padahal engkau adalah orang yang paling bersegera dalam kebaikan?”. Nabi menjawab, “Aku menyuruhmu melakukannya, agar meringankan dosanya jika ia menolak ajakanmu”.

Baca Juga: Pentingnya Ilmu Bahasa Asing

Dan diyakini bahwa ketika pada waktu itu malam lailatul kadar sedang berlangsung. Jika orang yang tidur di masjid tadi tadi menolak ajakan Nabi, ia akan berdosa, dan dosanya akan dilipat gandakan seribu kali. Dan jika ia menolak ajakan Ali, maka dosanya tidak akan sebesar menolak ajakan Nabi. Luar biasa sekali apa yang dilakukan Nabi Muhammad waktu itu.

Dari hadis ini, Nabi ingin menyampaikan bahwa cintanya kepada sahabat saja sebesar itu, apalagi cinta Allah kepada hamba-Nya. Hadis ini juga menyebutkan bahwa pada malam lailatul kadar, semua perbuatan baik yang dilakukan pada malam itu akan dilipat gandakan seribu kali pahalanya. Begitu juga dengan perbuatan maksiat, dosa itu juga akan dilipatgandakan seribu kali.

Ketiga.

وَثَالِثُهَا: أَنِّي أَخْفَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ حَتَّى يَجْتَهِدَ الْمُكَلَّفُ فِي طَلَبِهَا، فَيَكْتَسِبَ ثَوَابَ الِاجْتِهَادِ

Selanjutnya Imam Fakrul Razi mengatakan bahwa lailatul kadar dirahasiakan Allah agar semua orang yang berusaha mendapatkan momentum ini mendapatkan pahala “usaha”-nya. Allah menginginkan agar setiap hari di bulan Ramadhan untuk berjuang tanpa henti. Yaitu dengan selalu beribadah dan berbuat baik. Sehingga, kalaupun ia tidak mendapati momentum lailatul kadar, ia akan tetap mendapatkan ganjaran, yaitu pahala perjuangannya untuk menggapai malam lailatul kadar.

Keempat:

وَرَابِعُهَا: أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَمْ يَتَيَقَّنْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، فَإِنَّهُ يَجْتَهِدُ فِي الطَّاعَةِ فِي جميع ليالي مَضَانَ، عَلَى رَجَاءِ أَنَّهُ رُبَّمَا كَانَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةُ هِيَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ.

Dan yang terakhir, Imam Fakhrul Razi menambahkan, kenapa Allah tidak menentukan kepastian malam lailatul kadar adalah agar semua umat muslim dalam keadaan taat setiap hari di bulan Ramadhan. Agar semua orang berharap di setiap malam adalah malam lailatul kadar. Sehingga tidak berani berbuat maksiat dan senantiasa berlomba-lomba dalam beribadah.

Inilah hikmah dibalik kenapa Allah merahasiakan malam lailatur kadar yang tertulis dalam kitab tafsir ini. Dengan tidak diketahui kepastian momentum malam lailatul kadar, maka semua orang akan berlomba-lomba dalam beribadah setiap hari.

Dan kita bisa melihat sendiri realita yang terjadi di bulan mulia ini. Betapa semua orang memuliakan setiap malam di bulan Ramadhan. Selalu diisi dengan shalat tarawih berjamaah, tadarusan al-quran, kajian Islam dan sebagainya. Bahkan, ada yang berijtihad dengan menargetkan membaca al-Quran sampai khatam. Ini dilakukan karena mereka tahu mulianya bulan ini. Dan ini juga merupakan hikmah dibalik rahasianya momentum lailatul kadar.

Kita bisa melihat betapa indah dan rapinya semua ini ditata Allah. Andai kata malam lailatul kadar itu dipastikan waktunya, malam-malam Ramadhan mungkin tidak akan seramai ini. Dan bisa jadi orang-orang hanya akan mencukupkan ibadah pada malam itu saja di bulan Ramadhan. Sehingga dengan dirahasiakannya malam mulia ini, semua orang akan senantia berusaha beramal baik di setiap malam bulan Ramadhan. Semoga kita termasuk orang yang menadapatkan momentum malam mulia ini, amin.

Nanda Ahmad Basuki

http://santritulen.com

Penulis adalah Redaktur website santritulen.com. Penulis juga merupakan alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2019 dan Mahasiswa YTB Magister di Necmettin Erbakan University Konya hingga saat ini.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *