Integrasi Agama Dan Sains Dalam Pemikiran Ian G. Barbour

Gap atau keterpisahan antara ilmu pengetahuan dan agama disebabkan adanya pengelompokan di antara kedua hal tersebut. Di Barat ilmu pengetahuan digunakan sebagai power, sedangkan agamawan menggunakan pengetahuan untuk kehidupan. Kedua paradigma itu menjadikan agama dan pengetahuan (sains) terpisah. Pada titik ini ilmu menjadi problem kehidupan, bukan solusi. Sebab, pengelompokkan ini menjadikan agama dan sains saling bertentangan. Bukti konkret dari gap antara agama dan sains adalah adanya kecaman dari pihak gereja terhadap teori Galileo tentang sistem tata surya. Padahal, pihak gereja bukanlah orang-orang yang paham mengenai sains. Kecaman yang dilakukan oleh gereja didasarkan pada perbedaan teori yang digunakan.

Berkaca pada kejadian di atas, Barbour memberikan tawaran metodologis yang akan mengintegrasikan antara agama dan sains, sehingga tidak akan ada lagi orang yang terjebak pada satu pemikiran beku. Sebab, sains dan agama merupakan satu kesatuan yang saling mengisi. Sains bisa jadi merupakan bagian dari agama, dan dalam beberapa hal sains menjadi bukti kebenaran agama. Sehingga sangat penting untuk mendialogkan antara agama dan sains, bukan justru memisahkan keduuanya. 

Tipologi Hubungan Sains dan Agama

Terdapat empat tipologi mengenai hal ini, yaitu konflik, independensi, dialog dan integrasi. Pada tipologi konflik, kaum agamawan dan para ilmuwan menempatkan posisi mereka saling berseberangan. Keduanya hanya mengakui eksistensi masing-masing ilmu. Pada tipologi kedua, independensi, agama dan sains masih dipisahkan. Perbedaannya adalah bahwa keduanya dianggap memiliki kebenaran masing-masing. Sains dapat membuktikan kebenaran-kebenaran ilmiah (alam). Sedangkan agama hanya bisa memberikan jalan hidup dan mengarahkan pengalaman spiritual personal dengan praktik ritual dan tradisi keagamaan. 

Antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, atau bahkan saling mendukung satu sama lain. Hal ini mengantarkan asumsi bahwa agama dan sains bisa saling berinteraksi, sehingga lahirlah tipologi ketiga, dialog. Sains dan agama tidaklah sesubyektif yang dikira. Ada persamaan karakteristik dan metodologis antara keduanya. Holmes Roston berpendapat bahwa keyakinan dan keagamaan menafsirkan dan menyatakan pengalaman. Sama halnya dengan teori ilmiah yang menafsirkan dan mengaitkan data percobaan. 

Tipologi terakhir, integrasi, mendudukkan pandangan agama dan penemuan sains sebagai hal yang sama-sama valid. Penemuan sains diharapkan mampu memperkuat keyakinan terhadap agama. Pendekatan ini, menurut Barbour, bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, data ilmiah bisa menjadi bukti bagi keyakinan agama akan eksistensi Tuhan. Kedua, doktrin-doktrin keagamaan harus ditelaah ulang dengan hasil temuan-temuan ilmiah. Ada beberapa tindakan yang bisa digunakan untuk mengintegrasikan agama dan sains. Pertama semipermeable, yaitu perilaku saling interaksi dan evaluasi untuk menghindari sikap arogansi keilmuan. Kedua intersubjective testibility, yang digunakan untuk mengukur kebenaran keduanya, agama dan sains. Dan terakhir adalah creative imagination, yang dilakukan untuk melihat sisi-sisi objektifitas keduanya. 

Metode dalam Sains dan Agama

Disebutkan sebelumnya bahwa pemisahan antara agama dan sains disebabkan karena pengelompokkan yang memisahkan antara keduanya. Pemisahan ini juga dikarenakan metode sains dan agama yang berbeda. Menurut beberapa teolog, pengetahuan agama berasal dari Tuhan secara langsung. Tuhan menyingkap pengetahuan kepada individu-individu manusia, yang mana pengalaman penyingkapan Tuhan ini bisa berbeda antara satu individu dengan lainnya. Oleh karena itu, pengetahuan keagamaan bersifat subyektif. Di sisi lain, pengetahuan sains didapat dari observasi manusia terhadap fenomena alam, sehingga bersifat objektif. Sains juga dianggap hanya menyingkap hal-hal yang bersifat teknis. Sains tidak bisa dan tidak boleh merambah ke dalam bidang pengetahuan agama. 

Dialog dan integrasi antara agama dan sains bisa dilihat dari fungsi keduanya. Agama berperan terhadap ibadah dan komitmen hidup manusia, dan sains berguna sebagai kontrol sosial atas fenomena yang bisa dilihat secara fisik dan berulang. Oleh karenanya, agama dan sains sebenarnya saling mengisi kekosongan dalam hidup manusia. Dengan perbedaan yang saling mengisi tersebut, sudah seharusnya agama dan sains melakukan integrasi. Berikut beberapa pertimbangan mengapa keduanya harus berintegrasi:

Pertama, terdapat kesejajaran signifikan pada metode kedua bidang tersebut; kesamaan interaksi pengalaman dan penafsiran, model dan analogi, serta peran komunitas pada keduanya. Kedua, keyakinan akan sains dan agama harus terpisah harus diubah, yaitu dengan melakukan integrasi antara kedunya. Ketiga, teologi seharusnya tidak berhenti pada wahyu Tuhan dalam sejarah, tetapi juga menambah keyakinan terhadap Tuhan melalui alam. Keempat, temuan dan pandangan baru terhadap alam memaksa kita untuk mengkaji kembali ide-ide tentang hubungan Tuhan dan alam. Secara sederhana, usaha ini dilakukan agar manusia tidak terjebak pada satu bidang pengetahuan.

Implikasi dalam Studi Keislaman; Pertautan melalui SemipermiableIntersubjective Testibility, dan Creative Imagination

Albert Einstein pernah berkata, “Religion without science is blind, science without religion is lame”. Pendapat yang sejalan dengan ini menyatakan bahwa jika hal-hal ilmiah berjalan linier, maka hanya akan menghasilkan hal yang bertentangan dengan prinsip humanisme, etika sosial dan agama. Oleh karena itu, sains harus diintegrasikan dengan keilmuan lainnya, khususnya agama.

Dalam studi Islam, integrasi agama bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, integrasi antara nash dengan masalah yang sedang dibahas. Kedua, integrasi nash dengan ilmu lain yang terkait dengan masalah yang dibahas. Semipermeable berfungsi untuk mempertemukan dan mengisi kekosongan-kekosongan antara agama dan sains. Intersubjective testibility digunakan untuk menguji kebenaran antara keduanya, agama dan sains. Sedangkan creative imagination digunakan sebagai landasan agar akal dan daya imajinasi bisa menautkan antara agama dan sains. 

Note: Tulisan ini merupakan resume (ringkasan) penulis terhadap artikel jurnal elTarbawi volume 9 (1), 2016 yang berjudul “Hubungan antara Agama dan Sains dalam Pemikiran IAN G. Barbour dan Implikasinya terhadap Studi Islam” yang ditulis oleh Moh. Mizan Habibi. Artikel dapat didownload di journal.uii.ac.id/Tarbawi/issue/download/1037/121  

Taufik Kurahman

Penulis adalah alumni Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag 2016

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *