Press "Enter" to skip to content

Istilah-Istilah Dasar dalam Ilmu Hadis

Waktu Baca:3 Menit, 15 Detik

Ada ungkapan dalam bahasa Turki yang berbunyi “usulsuz wusul olmaz”, artinya; ‘segala sesuatu yang dilakukan tanpa dasar, tidak akan pernah sampai pada tujuan utamanya’. Jika diperhatikan, 3 kata ungkapan ini memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam konteks keilmuan, seorang penuntut ilmu tidak akan pernah bisa mencapai derajat “ahli” dalam keilmuannya sebelum tahu dasar ilmu yang dipelajarinya.

Sederhanya seperti menghafal al-Quran. Seorang santri tidak akan pernah bisa menjadi penghafal al-Quran tanpa tahu dasar ilmunya. Harus ada proses terlebih dahulu. Pertama, memulai belajar huruf hijaiyah, kemudiam naik tingkat membaca kitab Iqra’, memahami tajwid, belajar membaca surat-surat pendek al-Quran, baru kemudian bisa membaca surat panjang lain dengan ayat yang lebih kompleks dan baru sampai pada tingkatan bisa menghafal al-Quran dengan baik dan benar.

Tanpa proses di atas, santri tidak akan bisa menjadi penghafal al-Quran dengan kaidah bacaan quran dengan baik dan benar. Anggaplah bisa menghafal al-Quran. Namun tidak akan bisa sempurna atau bahkan bisa cacat keilmuannya. Tidak tahu dasar membaca quran seperti tajwid dan tanda baca al-Quran akan mempengaruhi kualitas hafalan dan bacaan quran. Begitulah pentingnya memahami dasar sebelum melangkah pada jenjang yang lebih tinggi.



Istilah “usulsuz wusul olmaz” ini berlaku untuk semua ilmu. Seorang tidak bisa menjadi hafiz, ahli komputer, ahli bahasa, ahli mesin dan sebagainya tanpa tahu dasar ilmunya. Sama halnya dengan muhaddis. Ilmunya dalam belajar hadis akan cacat tanpa tahu dasar-dasar ilmu hadis seperti ulumul hadis yang mencakup istilah-istilah hadis, dasar takhrij hadis dan metode dalam memahami hadis terlebih dahulu.

Dalam kajian ilmu hadis, setidaknya ada 6 istilah dasar dalam ilmu hadis yang perlu diketahui sebelum mulai mengkajinya. Istilah-istilah tersebut adalah;

Pertama, Sanad.

Sanad dapat diartikan sebagai pegangan, dinamakan sanad karena perawinya menyandarkan (sanad) hadis kepada sumbernya. Secara defenisi; Sanad adalah jalan menuju matan atau silsilah para perawi hadis yang sampai kepada matan.

Kedua, Matan.

Sementara itu, matan adalah isi yang dituju oleh sanad. Ia juga dapat didefenisikan sebagai kalam atau perkataan dari Nabi Muhammad yang terletak di akhir sanad. Matan juga dapat disebut juga sebagai substansi dari suatu hadis.

Ketiga, Musnid dan al-Isnad.

Musnid dapat diartikan sebagai perawi hadis, yaitu orang yang meriwayatkan hadis dengan sanad. Istilah Musnid atau dengan nama lain Isnad memiliki arti yang berbeda dengan istilah Musnad. Musnid diartikan sebagai perawi hadis, sementara Musnad diartikan secara umum sebagai kitab yang merangkum hadis-hadis dari klasifikasi sahabat. Contohnya kitab Musnad Imam Ahmad, Musnad Imam al-Syafi’u atau Musnad al-Firdaus dan sebagainya.

Keempat, Hadis, Khabar dan Atsar.

Tiga istilah ini sering digunakan dalam diskursus keilmuan hadis. Hadis merupakan semua ucapan, perbuatan, sifat dan ketetapan yang disandarkan kepada Nabi serta dispesifikkan khusus untuk Nabi Muhammad. Berbeda dengan atsar yang memasukkan sahabat sebagai penyandaran. Atsar bisa saja dari sahabat, namun juga terkadang bisa dari Nabi. Sedangkan untuk istilah khabar secara umum merupakan istilah yang digunakan untuk perkataan yang disandarkan kepada selain Nabi.

Kelima, Muhaddis.

Muhaddis merupakan orang yang menguasai hadis secara riwayat dan dirayat. Muhaddis juga dapat disebut sebagai mujtahid. Dan seorang muhaddis memiliki level yang berbeda-beda. Terkadang seseorang disebut sebagai muhaddis jika memiliki kapabilitas untuk meneliti hadis, mengetahui suatu rawi itu kredibel atau tidak hingga bisa meneliti porfil seorang perawi hadis. Ada juga muhaddis yang disebut sebagai orang bisa mengetahui jika suatu hadis disebutm, ia tahu posisi hadis di kitab apa dan posisinya. Level muhaddis sendiri banyak, namun secara umum muhaddis diartikan sebagai orang yang bisa meneliti hadis dan paham dasar-dasar hadis.

Keenam, Hafiz.

Istilah hafiz dahulunya digunakan untuk orang yang hafal lebih dari 100.000 hadis, baik sanad maupun matannya. Contohnya adalah al-Hafiz Imam Ibnu Hajar, al-Hafiz Imam as-Suyuthi dan imam-imam lainnya. Namun, isitlah hafiz untuk saat ini sudah mengalami perubahan makna, meskipun makna hafiz pada umumnya dalam bahasa Arab berarti penghafal hadis. Misalnya, istilah hafiz di Indonesia sendiri identik dengan orang yang hafal quran, bukan orang yang hafal hadis.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *