Kajian Semantik Kata “Maut” dalam Al-Qur’an

Di era digital teknologi saat ini yang berkembang pesat menuju era 5.0, kehidupan manusia semakin tidak dapat ditebak. Hal itu dapat dilihat dari semakin banyaknya generasi yang hidupnya tidak tenang, beban pekerjaan yang menumpuk, masalah dengan teman atau keluarga membuat sebagian manusia mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya.

Pelampiasan terhadap masalah tersebut sangat beragam caranya, mulai dari cara yang biasa sampai cara yang tidak biasa. Salah satu cara yang tidak biasa tersebut ialah dengan cara bunuh diri. Banyak faktor yang melatarbelakangi maraknya kasus bunuh diri ini, diantaranya; depresi, bullying, gangguan mental, masalah ekonomi, bahkan bisa juga masalah asmara. Mereka mengakhiri hidupnya karena putus asa akan masalah yang dihadapinya dan merasa setelah mereka mati maka tidak ada lagi kehidupan setelah kematian. Padahal Islam mengajarkan dalam rukun Iman yang wajib diyakini oleh setiap Muslim adalah Iman kepada hari akhir, setiap hamba Allah wajib untuk percaya akan adanya kehidupan setelah kematian.

Pengertian Maut
Kematian adalah terputusnya ruh dengan jasad dan merupakan jalan menuju alam akhirat. Sidi Gazalba menyatakan kematian ialah terhentinya fungsi jasmani, yakni nafas, jalan darah, gerak, perasaan dan tenaga. Dalam kitab Dizkr al-Maut, Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali mengungkapkan, “akal sehat, ayat-ayat al-Qur’an dan banyak Hadis bersaksi bahwa kematian berarti perubahan keadaan, dan bahwa setelah kematian jasad, ruh manusia tetap hidup dan merasakan siksaan ataupun kebahagiaan. Maka, perpisahan ruh dengan jasad adalah bahwa ruh sama sekali tidak lagi efektif bagi jasad. Karena itu, jasad pun tak lagii tunduk pada perintah-perintahnya”.

Ibnu Mandzur dalam kamus Lisan al-Arab (2003) menyatakan bahwa maut berasal dari kata maata-yamutu-mautun yang bermakna kematian atau lawan dari kehidupan. Sedangkan dalam kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-‘Alam, kata maata dan bentuk masdarnya mautun bermakna terpisahnya ruh dari badan. Adapun dalam bentuk mawwatun dan aamatun maka ia berarti mematikan atau menjadikan sesuatu menjadi mati. Kata al-mayyit bermakna sesuatu yang sudah mengalami kematian. Dalam konteks fiqh kata al-mayyit digunakan untuk menunjukkan hewan yang mati tanpa disembelih secara syariat.

Identifikasi ayat maut dalam al-Qur’an
Kata maut dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 161 kali dalam 53 surat dengan berbagai bentuk derivasinya, yakni dalam bentuk Masdar, fi’il Madi, Fi’il Mudari’, Isim Mufrad, Jamak Taksir dan juga Isim Maqsur. Kata maut dalam fi’il Madi menunjukkan kejadian Allah mematikan makhluk di masa lampau dan sudah terjadi. Sedangkan pada kata fi’il mudari’, kata maut menunjukkan kematian yang belum terjadi atau akan terjadi tetapi di masa depan atau di masa yang sudah ditentukan waktunya.

Kata maut dalam isim mufrad menunjukkan bahwa maut itu bersifat ketunggalan benda atau penyebutan kata maut itu sendiri. Kata maut dalam bentuk masdar menunjukkan sumber kata dari maut dan berarti mati. Sedangkan dalam bentuk Jamak Taksir, kata maut digunakan untuk menyebut kata kerja mati untuk orang banyak. Menurut kitab al-Mu’jam al-Mufarras alFaz al-Qur’an al-Karim, karya Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi’, lafaz maut terdiri dari 26 kata. Fi’il madi disebutkan sebanyak 4 kali, Fi’il Mudari’ disebutkan sebanyak 22 kali, dan Isim Maqsur disebutkan sebanyak 8 kali dalam ayat al-Qur’an.

Makna maut dalam al-Qur’an
Kematian tidak selamanya harus diartikan sebagai berpisahnya ruh dari jasad, seperti yang terdapat pada Q.S Taha: 55, Allah berfirman,

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain“, akan tetapi dapat pula bermakna majazi, al-Asfahani (2008) memaknai kematian menjadi beberapa bagian, yaitu maut dalam arti bumi yang mati (kering), seperti dalam Qur’an Surat Ar-Rum ayat 19, Allah berfirman,

يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَيُحْىِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, mati pada ayat ini bermakna menghidupkan bumi yang telah mati (kering), yang di perumpamakan dengan mengeluarkan manusia dari kubur. Makna yang lainnya, ialah maut dalam arti tidur. Seperti dalam Qur’an Surat Az-Zumar ayat 42, Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ فِي
ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi mengatakan, “Allah menggenggam jiwa yang ajalnya belum tiba, jiwa itu digenggam dalam mengendalikan tubuh, sedangkan ruh masih tetap berhubungan dengannya, Allah lepaskan kembali kepada tubuh ketika bangun sampai saat yang ditentukan, yaitu saat kematian.

Makna maut yang selanjutnya ialah, maut dalam arti hilangnya akal (tidak mengetahui), seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surah al-An’am ayat 122, Allah berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. Ayat ini senada dengan Q.S al-Naml: 80, mati dalam ayat ini bermakna orang yang mati (hatinya) karena kekafiran dan kebodohan yang terperdaya dengan bisikan indah dari sekutu mereka hingga mereka menganggap bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang
baik.

Selanjutnya makna maut dalam arti hilangnya kekuatan al-Hassah (pengetahuan). Seperti dalam al-Qur’an surah Maryam: 23, Allah berfirman,

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan“. Ayat diatas senada dengan QS. Maryam: 66, menjelaskan tentang kisah ketika Maryam menjelang kelahiran anaknya serta malu dan takut akan mendapatkan cemoohan dari orang banyak sehingga dia berfikir mengapa ia tidak mati saja sebelum kejadian itu. Ayat ini menjadi pelajaran bagi manusia bahwa rencana Allah itu indah dan Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya, maka senantiasa bersyukurlah atas segala karunia Allah. Ternyata penyebutan kata maut tidak hanya diartikan pada ranah terlepasnya ruh dari jasad, tetapi dapat juga bermakna majazi, yaitu maut yang berarti bumi yang kering, maut yang berarti tidur, maut yang berarti hilangnya nalar (tidak menerima kebenaran), dan maut yang berarti hilangnya kekuatan pengetahuan.

Dalam kasus bunuh diri yang marak dilakukan pada masa sekarang menunjukkan matinya nalar atau hilangnya kekuatan pengetahuannya sehingga ia dengan mudah merasa putus asa dan mencoba mengakhiri hidupnya guna untuk menyelesaikan masalah. Adapun hikmah dari kematian adalah didalam kematian terdapat tanda kekuasaan Allah dan keagungan-Nya dalam mengatur fase-fase kehidupan para makhluk-Nya, Allah menciptakan kematian untuk menguji hamba-Nya, Allah tidak menciptakan manusia dalam wujud yang kekal, kematian membebaskan orang beriman dari kesulitan dan kesusahan di dunia, dan dengan adanya kematian, jiwa yang meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal kecuali Allah akan menjadikan itu semua sebagai pengingat untuk senantiasa mempersiapkan diri menghadapi kematian yang diridhoi oleh Allah.

Luluk Aulia

Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta prodi Ilmu Quran dan tafsir

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *