Press "Enter" to skip to content

Kakek Bantal, Si Penolong Fakir Miskin yang Dihormati Para Sultan dan Pangeran

Waktu Baca:4 Menit, 1 Detik

Jauh sebelum Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai Utara. Termasuk di desa Leran. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun yang meninggal pada tahun 1082 M.

Kemudian pada abad pertama Hijriyyah, menurut K.H. Sirajuddin Abbas di Pulau Jawa sudah ada raja yang beragama Islam bernama Ratu Sima (dalam literatur disebut Ratu Simon) disebut penguasa kerajaan Kalingga di Jepara, Jawa Timur (sekarang Jawa Tengah). Jadi, sebelum jaman Walisongo, Islam sudah ada di Pulau Jawa yaitu di daerah Jawa dan Leres. Tetapi Islam pada masa itu belum berkembang secara besar-besaran.

Syekh Maulana Malik Ibrahim diperkirkan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Ada yang menyebut bahwa beliau berasal dari Turki dan pernah mengembara di Gujarat sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu, sebab Gujarat adalah wilayah negeri Hindia yang kebanyakan beragama Hindu.

Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagaian rakyat Gresik sudah ada yang beragama Islam tapi banyak pula yang beragama Hindu bahkan ada pula yang tidak beragama.

Dalam berdakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran al-Quran yaitu

“Hendaklah engkau ajak orang kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan dengan petunjuk-petunjuk yang baik serta ajakanlah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nahl 125)

Di Jawa, Syekh Maulana Malik Ibrahim bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu, melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tidak beragama, ataupun mereka yang sudah terlanjur mengikuti aliran sesat. Ia juga berjuang meluruskan iman umat Islam yang bercampur dengan kegiatan musyrik. Cara beliau adalah beliau tidak langsung menentang kepercayaan mereka yang salah itu, melainkan mendekati mereka dengan penuh hikmah, beliau tunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak Islami sebagaimana ajaran Nabi Muhammad.



Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki sebutan Si Kake Bantal yang menolong fakir miskin dan dihormati oleh kalangan atas seperti para Sultan dan Pangeran. Hal itu menunjukkan betapa hebatnya perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya pada kalangan atas melainkan juga pada golongan rakyat bawah yaitu kaum fakir miskin.

Menurut literature yang ada, beliau juga ahli dalam bidang pertanian dan pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam dan orang-orang sakit banyak yang disembuhkan menggunakan daun-daun tertentu.

Sifatnya yang lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang baik sesama muslim dan non muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela.

Dikalangan rakyat jelata Syekh Maulana Malik Ibrahim sangat terkenal, terutama di kalangan kasta rendah. Sebagaimana dapat kita ketahui agama Hindu membagi masyarakat menjadi empat kasta; kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Dari keempat kasta tersebut, kasta paling rendah adaalah kasta Sudra dan sering ditindas oleh kasta-kasta yang jauh lebih tinggi.

Maka ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim menerangkan kedudukan seorang  di dalam Islam, orang-orang Sudra dan Waisya banyak yang tertarik. Beliau menjelaskan bahwa dalam agama Islam semua manusia sama sederajat. Orang Sudra boleh saja bergaul dengan kalangan atas, tidak dibeda-bedakan. Karena dihadapan Allah semua manusia adalah sama, yang paling mulia di antara mereka hanyalah yang paling taqwa kepada-Nya.

Taqwa itu letaknya di hati, hati yang mengendalikan segala gerak kehidupan manusia untuk berusaha sekuat-kuatnya mengajak segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dengan taqwa itulah manusia akan hidup berbahagia di dunia hingga di akhirat kelak, orang yang bertaqwa, sekalipun ia dikalangan Sudra bisa jadi lebih mulia daripada yang berkasta Ksatria dan Brahmana.

Mendengar keterangan ini, mereka yang berasal dari kasta Sudra dan Waisya mesara lega,mereka merasa dibela dan dikembalikan haknya sebagai manusia utuh sehingga wajarlah bila mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka cita.

Setelah pengikutnya semakin banyak, beliau kemudian, mendirikan masjid untuk beribadah bersama-sama dan mengaji. Dalam pembangunan masjid ini beliau mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Raja Cermain. Raja Cermain merupakan sahabat dari beliau Syekh Maulana Malik Ibrahim.  

Beliau juga kemudian mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam, tempat mendidik dan menggembleng para santri sebagai calon mubaligh. Pendirian pesatren pertama kali diilhami oleh kebiasaan masyarakat Hindu yaitu para Bikhu dan Pendeta Brahmana yang mendidik cantrik dan calon pemimpin agama di mandala-mandala mereka.

Inilah salah satu usaha para Wali yang cukup jitu, dengan mendirikan sebuah pondok pesantren maka akan ada persiapan untuk menyiapkan kader umat yang nantinya dapat meneruskan perjuangan menyebarkan Islam ke seluruh tanah Jawa dan seluruh Nusantara dan hasilnya sungguh memuaskan, dari pesantren Gresik kemudian muncul para mubaligh yang menyebar keseluruh Nusantara.

Demikian sekilas tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim, seorang Wali yang di anggap sebagai ayah dari Walisongo. Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *