KB dalam Perspektif Islam di Masa Pandemi Covid-19

Di dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit menjelaskan bahwa mengatur jarak kelahiran adalah haram, akan tetapi membunuh bayi khususnya bayi perempuan yang telah terjadi setelah masa konsepsi seperti halnya aborsi adalah haram, sebab jelas membunuh anak manusia yang sempurna sebagaimana tercatat dalam surah Al-Nahl ayat 58.

Bermula dari pandangan bahwa “banyak anak, banyak rizki” inilah yang kemudian banyak kelompok masyarakat khususnya kepala keluarga telah puas dengan hasil dari buah pikiran yang belum tentu benar ini. Ditambah dengan adanya tafsiran Al-Qur’an Surah Hud, ayat 6 yang berbunyi “Dan Tidak ada satu makhluk bergerak di bumi yang tidak Aku jamin atas Rizkinya”.

Tidak cukup dari sumber al-Qur’an hal tersebut juga diperkuat dengan hadits Nabi yang artinya dari Anas Ibnu Malik berkata “Menikahlah dengan wanita yang penuh cinta dan banyak melahirkan keturunan, karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian diantara para Nabi pada hari kiamat” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Baca Juga: Puasa Ramadhan Sebagai Alternatif Obat Kanker

Berangkat dari keyakinan pandangan inilah banyak pasangan suami istri memiliki banyak anak tanpa pertimbangan dan perencanaan yang jelas. Tidakkah mereka berfikir apakah anak yang dilahirkan hanya akan menjadi beban berat yang harus dipikul oleh negara? Tidak juga kah mereka berfikir atas kelahiran anak lebih dari tiga terlebih dengan jarak kurang dari dua tahun dan terlebih lagi ibu mengandung diatas usia 35 tahun akan mendatangkan banyak risiko? Maka janganlah heran bahwa Angka Kematian Ibu di Indonesia hingga saat ini masih juga tinggi.

Penjelasan dari Profil Kesehatan Indonesia terakhir menyebutkan bahwa sebanyak 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup terjadi akibat komplikasi terkait kehamilan atau persalinan di Indonesia sedangkan Millenium Development Goals (MDGs) mentargetkan angka kematian ibu maksimal suatu negara tidak lebih besar dari  102 per 100.000 kelahiran hidup.

Bukankah Islam lebih mengutamakan pada keturunan yang baik, shalih dan berguna bagi umat manusia dan mampu menjadi suri tauladan untuk membawa manusia kepada taqwa. Sebagaimana doa Nabi “Aku berlindung kepada Allah dari juhd al-bala, ketika ditanyakan, apa juhd al-bala itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: banyak anak tapi sedikit materi ”.

Berarti setiap orang tua harus memiliki rasa tanggung jawab kepada mutu keluarga dan anak keturunannya, jangan meninggalkan keturunan yang lemah baik jasmani, ekonomi, ilmu dan agama. Oleh karennya dibutuhkan perencanaan yang matang dan dipastikan dapat  hamil dalam kondisi sehat.

Tujuan ber-KB (Keluarga Berencana) adalah untuk menjarangkan jarak kehamilan. Secara fiqhiyah, pada dasarnya KB dikiyaskan dengan apa yang dinamakan ‘azl yaitu mengeluarkan air mani di luar farji (vagina). Pada zaman dulu, ‘azl dijadikan sarana untuk mencegah kehamilan. Maka keduanya dipertemukan karena memiliki tujuan yang sama.

Sebagaimana Imam Nawawi mengatakan bahwa “Azl adalah menggaulinya suami terhadap istri kemudian ketika suami akan mengeluarkan mani ia melepaskan dzakarnya dan mengeluarkannya di luar farji. Hukum ‘azl menurut kami adalah makruh dalam kondisi apa saja dan pada setiap perempuan baik ia rela maupun tidak, karena ‘azl adalah sarana untuk memutuskan keturunan”. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Bairut-Dar Ihya` at-Turats, cet ke-2, 1329 H, juz 10, h. 9).

Baca Juga: Imunisasi di Masa Pandemi Covid-19

Terdapat berbagai jenis alat kontrasepsi di Indonesia baik yang hormonal maupun yang non-hormonal. Dan hingga saat ini KB suntik hormonal masih menjadi favorit di Indonesia. Namun sejak adanya wabah Covid-19 ini minat masyarakat pengguna KB menurun  dan akibatnya terjadi tingginya angka kehamilan di beberapa wilayah Indonesia.

Di masa pandemi Covid-19 ini pemerintah telah mensosialisasikan tentang prinsip-prinsip pencegahan Covid-19  dari masa kehamilan, nifas, bayi baru lahir dan KB di masarakat. Hal tersebut meliputi universal precaution dengan selalu cuci tangan menggunakan sabun selama 20 detik atau hand sanitizer, pemakaian alat pelindung diri termasuk pemakaian masker ketika perjalanan menuju fasilitas pelayanan kesehatan, menjaga kondisi tubuh dengan rajin olah raga dan istirahat cukup, makan dengan gizi yang seimbang dan mempraktikkan etika batuk.

Sedangkan prinsip-prinsip manajemen Covid-19 di fasilitas kesehatan memiliki ketetapan yang berbeda seperti halnya isolasi awal, prosedur penjegahan infeksi sesuai dengan standar, terapi oksigen, pendekatan berbasis tim dengan multidisiplin dan lain sebagainya. Sehingga kedua belah pihak baik dari petugas pelayanan kesehatan maupun pasien telah memiliki prinsip pencegahan Covid-19  masing-masing demi berjalannya kelancaran pelayanan kesehatan termasuk dalam hal ini adalah jenis pelayanan KB.

Hal tersebut tentu sudah tidak menjadi alasan untuk tidak ber-KB walau di masa pandemi Covid-19. Ditambah saat ini beberapa apotik juga swalayan telah menyediakan beberapa jenis alat kontrasepsi seperti halnya pil progestin maupun pil kombinasi.

Aunana Finnajakh

Penulis adalah santriwati PP. Al-Hamra, Yogyakarta

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *