Press "Enter" to skip to content

Kesehatan Mental dalam Literatur Klasik Islam

Memperbincangkan kesehatan pada saat sekarang ini menjadi sesuatu yang sangat krusial sekali. Tulisan ini bermaksud mengetengahkan beberapa pandangan ulama dan filosof Islam zaman klasik tentang kesehatan. Tentu tidak semua terangkum dalam tulisan yang terbatas ini. Namun beberapa karya yang akan dijelaskan di bawah ini sangat beririsan terutama masalah kesehatan rohani.

Pada dasarnya, Kesehatan yang baik adalah kesehatan yang seimbang antara kesehatan jasamani maupun rohani. Orang yang secara fisik sehat, namun mentalnya bermasalah, maka belumlah dapat dikatakan sehat seutuhnya. Dalam dunia medis dikenal dua istilah berkaitan dengan merawat kesehatan, pertama disebut upaya preventif (pencegahan) yaitu upaya yang dilakukan di saat kita dalam keadaan sehat. Upaya ini dilakukan untuk menjaga agar kesehatan kita tetap stabil dan terhindar dari penyakit. Yang kedua disebut upaya kuratif (penyembuhan), yaitu sebuah upaya yang dilakukan di saat kondisi kesehatan kita sedang ada masalah. Upaya yang kedua ini dilakukan sebagai sebuah usaha penyembuhan agar kesehatan kita kembali normal seperti sediakala. Dan seyogyanya kedua prinsip tersebut dapat diimplementasikan baik dalam konteks menjaga kesehatan jasmani maupun kesehatan mental atau rohani.

Jika melihat ulang terhadap karya ulama klasik, terdapat beberapa karya yang menjelaskan berkenaan tentang kesehatan. Filosof muslim seperti Abu Bakr Al-Razi (w. 935 M)menulis kitab berjudul Al-Tibb Al-Ruhani. Begitu pula Al-Kindi juga menulis sebuah kitab dengan judul Al-Hilah li Daf’ Al-Ahzan, kitab tentang seni menepis kesedihan. menurut Al-Kindi, kesedihan adalah termasuk penyakit mental yang perlu diobati. Maka terlebih dahulu perlu dicari penyebab dari kesedihan tersebut. Penyebab kesedihan menurut Al-Kindi adalah karena hilangnya yang dicinta dan luputnya yang didamba. Maka untuk mengobatinya Al-Kindi menyarankan agar jangan berharap sesuatu yang tidak munkin karena hanya akan mendatangkan kesedihan. Kesedihan akan berdampak negatif kalau kita tetap tidak bisa menerima kehilangan yang dicintai. Maka oleh karena itu kita harus berlatih untuk bersikap qana’ah. Menerima dan mensyukuri apa yang telah menjadi keputusan taqdir Ilahi, setelah kita berusaha maksimal. Langkah ini termasuk pengobatan kuratif, karena seseorang tersebut telah terjangkit kesedihan sehingga harus diobati.

Baca Juga: Ijazah Doa Kecerdasan Kh. Ali Maksum

Selain itu, kita juga dapat melakukan langkah preventif untuk menjaga kesehatan mental. Menurut Ibn Miskawaih, setidaknya ada lima cara untuk hal tersebut, seperti yang diuraikannya dalam kitab Tahdzibul Akhlaq (Mulyadhi Kartanegara, 2002). Pertama, memilih teman yang cocok. Lingkungan kita bergaul sedikit banyak akan berpengaruh terhadap tabiat kita. Jika kita berteman dengan lingkungan orang-orang baik, maka akan membawa pada perangai yang baik untuk kita, begitu pula sebaliknya. Singkat kata, tabiat kita akan dipengaruhi oleh orang di lingkaran kita. Sehingga muncul sebuah istilah “jika kita ingin mengetahui seseorang, maka ketahuilah siapa teman-temannya”.

Kedua, berolah pikir dengan merenung, membaca atau menulis. Melatih pikiran agar tidak tumpul. Seperti halnya dengan olahraga, olah pikir juga penting untuk kesehatan mental agar tidak timbul rasa malas untuk berpikir dan belajar. Jika kita jarang berolahraga, maka kita akan cenderung lamban dan tidak energik. Maka demikian pula dengan pikiran kita, ia harus dibiasakan untuk diberi aktivitas sehingga terjaga performanya.

Ketiga, konsisten dengan rencana yang telah diputuskan. Menjaga konsistensi memang gampang-gampang susah. Sepertinya gampang ketika direncanakan, tetapi lumayan susah ketika dilaksanakan. Menurut Ibn Miskawaih, kita seringkali gagal dalam melaksanakan sebuah rencana karena kita dikalahkan oleh kebiasaan buruk kita yang menyimpangkan kita dari rencana semula. Ibarat kita hendak mengerjakan suatu tugas di laptop, namun sejenak lihat-lihat Youtube, mengecek story Whatsapp, Instagram dan sebagainya dengan maksud hanya sebentar saja. Namun pada akhirnya ia terlena sehinga kehilangan waktu untuk melakukan yang semula menjadi prioritas. Oleh karena itu Ibn Miskawaih mengajak kita untuk konsisten dan tahan godaan, dengan begitu kebiasaan buruk sedikit demi sedikit dapat ditinggalkan.

Keempat, jangan membangkitkan nafsu ketika ia sedang reda. Hasrat nafsu kadang sangat begitu kuat mencengkram saat ia aktif mempengaruhi diri kita. Bahkan saat demikian, akal seringkali tidak kuasa untuk mengimbangi ataupun meredamnya. Maka sebisa munkin kita harus menghindari mengusiknya-baik nafsu syahwat maupun amarah- saat kondisi mental sedang stabil.

Kelima, mencoba menemukan kelemahan diri. Tujuannya adalah untuk memperbaiki diri sendiri secara efektif. Untuk mengetahui hal tersebut bisa dengan muhasabah secara terus menerus. Bisa juga dengan meminta sahabat yang kita percaya untuk secara jujur menunjukkan kelemahan kita. Kita dapat juga memperoleh informasi tentang kekurangan diri kita dari seorang musuh. Karena musuhlah yang paling tahu tentang kekurangan-kekurangan kita.

Baca Juga: Menyemai Nilai Positif dibalik Corona

Kiat dari Ibn Miskawaih di atas tentu saja hanya sedikit dari sekian banyak kiat yang ada. Yang menjadi penting, momentum seperti sekarang ini menyadarkan kita betapa menjaga kesehatan mental sangat penting untuk diperhatikan. Menghadapi wabah tidak cukup kita sehat fisik saja, kita juga harus menyiapkan kondisi mental yang prima. Tidak baik jika kita terlalu larut dalam kesedihan dalam menghadapi situasi ini, karena seperti yang di katakan oleh Al-Kindi kesedihan pada akhirnya akan membawa pada efek buruk jika tidak segera diperbaiki. Maka kita harus segera beralih pada metode penyembuhannya yaitu menerima kondisi ini dengan ikhlas dan sabar karena yang demikian sudah menjadi takdir yang ditetapkan oleh Allah SWT, sembari tetap berusaha untuk melewatinya dengan langkah yang sebaik-baiknya.

Momentum puasa Ramadhan di tengah wabah saat ini dapat menjadi ajang training baik fisik maupun mental bagi umat Islam yang menjalankan. Puasa selain sebagai ritual ibadah, juga dapat menjadi “obat” yang mampu menjangkau dimensi jasmani serta rohani. Jika pada bulan-bulan selain Ramadhan kita sudah memberi makan tubuh jasmani kita dengan cukup baik, maka ada baiknya jika saat ini kita memberi nutrisi bagi tubuh rohani kita, memenuhi kebutuhan jiwa dengan latihan-latihan yang membawa kita kembali menjadi manusia yang sehat seutuhnya. Terbebas dari penyakit mental seperti dengki, iri, sombong dan semacamnya. Manusia yang memiliki kesehatan yang menyeluruh yang tidak sehat fisik saja, namun juga sehat mental juga sehat spiritual.

Latest posts by Amin Ja'far Shadiq (see all)

Be First to Comment

  1. Ida Sekar Maulina Ida Sekar Maulina

    Bagus, ditunggu karya selanjutnya Ust Amin👏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *