Ketika Harapan Tak Sesuai Takdir

Setiap manusia memiliki keinginan dan tujuan di dalam kehidupannya. Mengapa demikian? Karena Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Dia memberikan anugerah akal dan nafsu, yang dimana ketika manusia dapat menggunakan akalnya dengan baik, ia akan menjadi lebih mulia daripada malaikat. Sebaliknya, ketika nafsu yang lebih dikedepankan, maka manusia  tidak lebih baik daripada binatang.

Fase kehidupan manusia selalu dinamis dan mengalami perkembangan maupun perubahan. Ketika manusia mampu menerima perkembangan dan melakukan perubahan dalam hidupnya, maka dia tidak akan tergilas oleh perkembangan itu dan dia akan menjadi manusia yang bermanfaat dan sukses. Dengan adanya fenomena seperti ini, manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan keinginan yang dianggapnya baik dan mengesampingkan peran Allah dalam mewujudkannya, sehingga kebanyakan dari mereka akan mudah berputus asa ketika suatu keinginan dan tujuan yang diinginkan tidak sesuai harapan atupun mengalami kegagalan. Di sini penulis ingin mengajak pembaca untuk lebih bersikap bijaksana dalam menghadapi persoalan yang semacam ini.

Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 216 dikatakan, “diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa semua keinginan yang kita sukai belum tentu baik untuk kita. Ketika manusia menggunakan konsep ini dalam kehidupannya, maka mereka akan terhindar dari sifat berputus asa dan berperasangka buruk terhadap Allah.

eperti yang dijelaskan dalam ayat di atas, pasukan muslim kala itu memiliki anggapan bahwa berperang adalah suatu hal yang sangat berat karena harus mengorbankan harta dan jiwa mereka. Lebih-lebih saat permulaan hijrah ke Madinah. Jumlah kaum muslimin masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kaum musyirikin yang jauh lebih banyak. Berperang pada saat itu dirasa sangat berat. Namun karena perintah berperang sudah datang untuk membela kesucian agama Allah dan juga meninggikan kalimatullah, maka Allah menjelaskan bahwa tidak selamanya segala yang dirasakan berat dan sulit itu membawa penderitaan, bahkan justru dapat membawa kebaikan.  

Baca juga: Wujud Akulturasi Budaya di Kudus

Sejatinya, sunnatullah kehidupan di dunia ini telah diatur oleh Tuhan dengan sedemikian rupa sesuai porsi dan manfaatnya masing-masing. Allah menciptakan tumbuhan sebagai sumber oksigen untuk proses pernafasan manusia lalu manusia mengeluarkan karbon dioksida untuk kepentingan proses fotosintesis tumbuhan. Itu semua bukan hal yang kebetulan, namun sudah diciptakan oleh Allah seperti itu. Sama ketika Allah belum mengabulkan doa dan keinginan kita, itu semua karena Allah lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Namun sebagai hamba seringkali kita selalu berperasangka buruk kepada-Nya tanpa berfikir terlebih dahulu.

Seperti halnya seorang pasien yang akan melakukan operasi, dia menganggap operasi adalah sesuatu yang sangat sulit dan menyakitkan. Namun dengan perintah dokter yang menyarankan tindakan tersebut untuk kesembuhan pasien, maka operasi yang dianggap menyakitkan itu akan berdampak baik untuk kesembuhannya. 

Akhir-akhir ini Allah menunjukkan kebesarannya dengan adanya virus korona (COVID-19) yang mengguncang dunia. Namun sebagai hamba yang baik kita harus selalu berperasangka baik kepada Allah. Barangkali wabah ini diturunkan karena banyak dari kita telah melalaikan keberadaan Allah sebagai pengatur alam semesta. Kita semua hanya disibukkan oleh kepentinagan duniawi yang hanya bersifat fana. Akhirnya Allah menampakkan kebesaran-Nya agar kita ingat dan bertaubat kepada-Nya.

Maka dari itu sudah selayaknya kita sebagai hamba harus selalu berperasangka baik atas takdir yang sudah Allah tetapkan. Apalagi kita mengetahui bahwa Allah memiliki sifat al-‘adlu yang artinya Maha Adil. Allah selalu berbuat adil kepada seluruh hamba-Nya, dan Allah tidak akan mengubah nasib seorang hamba, yang hambanya itu tidak ada keinginan untuk mengubah nasibnya sendiri. Oleh karena itu kita harus menyerahkan setiap doa dan keinginan kita kepada Allah dan yakin atas takdir yang Allah berikan kepada kita semua merupakan hal yang terbaik untuk kita.

Pradika Yoga Pratama

Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *