Ketika K.H. Agus Salim Mengkritik Ir. Soekarno

Dalam sebuah rapat terbuka PNI, Sukarno mengkampanyekan gagasan nasionalisme Indonesia. Ia mengatakan,

“Ibumu Indonesia teramat cantik. Cantik langitnya dan buminya, cantik gunungnya dan rimbanya, cantik lautnya dan sungainya, cantik sawah dan ladangnya, cantik gurunnya dan padangnya. Hawanya yang terlebih baik, terlebih sehat dan terlebih sejuk bagi kamu.

“Ibumu Indonesia teramat baik. Airnya kamu minum, nasinya yang kamu makan.

“Ibumu Indonesia teramat kaya. Buminya hanya minta ditegur, maka menghasilkan ia macam-macam kekayaan dan keperluan dunia, hanya minta diasuh, dipelihara sedikit, akan menimbulkan dan menumbuhkan pelbagai hasil keperluan hidup.

“Ibumu Indonesia teramat kuat dan sentosa. Dari dulu ia melahirkan pujangga, pahlawan dan pendekar. Dan sekarang ini pun dalam zaman susah dan sukar serta sempit hidupnya ia tak berhenti juga melahirkan putra-putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.”

Menyimpulkan kampanyenya, Sukarno berkata, “Maka tidak lebih dari wajibmu apabila kamu memperhambakan, membudakkan dirimu kepada Ibumu Indonesia, menjadi putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.”

Pidato Bung Karno itu ditanggapi oleh Haji Agus Salim dalam tulisannya di Harian Fadjar Asia, 29 Juli 1928. Bagi Salim, segala pujian Sukarno kepada “Ibu Indonesia”, alasannya benar, tujuannya tidak. Menurutnya, dalam cinta Tanah Air kita mesti menunjukkan cita-cita kepada yg lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batas dan ukurannya telah ditentukan Allah.

Mencintai “Ibu Indonesia” atas dasar Lillahi Ta’ala, tidak tergantung kepada cantik, sehat, atau kayanya sang “Ibu Indonesia.”

Sebagaimana Nabi Ibrahim mencintai Negeri Mekkah yang ditanahairkan bagi keturunannya, padahal ia hanyalah tanah kering. Tidak cantik. Tidak kaya. Tidak subur tanahnya. Kecintaan Ibrahim kepada Tanah Air adalah contoh kecintaan yang tidak berdasarkan paham kebendaan, melainkan semata-mata karena Allah Ta’ala.

Dirgahayu Ibu kami Indonesia Ke-75.
Kami mencintaimu karena Allah.

Zeyn Ruslan

Zeyn Ruslan, Buku Biografi Mohammad Natsir, Penyusun Lukman Hakiem, Cet. Pustaka Al-Kautsar.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *