Press "Enter" to skip to content

Kisah KKN : Petilasan Kyai Raden Santri di Desa Ngawen, Muntilan

Waktu Baca:3 Menit, 17 Detik

Kanjeng  Gusti Pangeran Singosari atau yang lebih dikenal dengan sebutan Simbah Kyai Raden Santri, memiliki nama asli Raden Mas Wuryah. Ia merupakan salah satu putra Kyai Ageng Pemanahan dan saudara dari Raden Sutawijaya yang masih trah atau keturunan Maha Prabu Brawijaya Majapahit.

Suatu hari Kyai Raden Santri yang bergelar Pangeran Singosari ini ditugasi sebagai panglima oleh Panembahan Senopati untuk menaklukkan beberapa kadipaten yang mbalelo (ingin memisahkan diri dari kerajaan). Singkatnya beliau berhasil melakukan misi tersebut dan mendapat hadiah dari Panembahan Senopati berupa tanah perdikan Kedu pada tahun 1596 M.

Menurut cerita tokoh sesepuh, ketika kerajaan Mataram berdiri dan dipimping oleh Raja Panembahan Senopati, sang raja menawarkan Pangeran Singosari untuk menjadi Adipati pada sebuah kadipaten. Namun, Pangeran Singosari tidak tertarik pada kekuasaan dan lebih memilih untuk pergi dari Kraton guna menyebarkan agama  Islam di sekitar  gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan sepanjang Kali Progo (wilayah Kedu). Dalam pengembaraannya Pangeran Singosari memakai nama samaran “Raden Santri” dengan maksud agar keberadaan beliau tidak diketahui oleh pihak Kerajaan Mataram yang masih baru itu.

Raden Santri sempat berpindah-pindah tempat dalam menyebarkan agama Islam. Dari dusun satu ke dusun lain. Ketika dirasa cukup, barulah beliau memutuskan untuk menetap di suatu tempat di tepian Sungai Lamat dan Sungai Blongkeng yang kemudian bernama Dusun Santren di Desa  Gunungpring. Dan dikabarkan pula, dalam menyebarkan agama Islam, banyak kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi. Ini merupakan wujud kebesaran Allah atau yang biasa kita sebut “karomah” (keramat), sebagai bukti kewalian Mbah Raden Santri.

Dikisahkan, konon Kyai Raden Santri pernah bertemu penduduk di sebuah dusun yang belum mengerjakan shalat. Kebetulan saat itu penduduk tersebut tidak menemukan air untuk berwudhu karena dusun itu sangat kering dan tandus. Kemudian Kyai Raden Santri berdo’a memohon kepada Allah agar diberi air. Dengan menancapkan tongkatnya, seketika keluarlah semburan air dari bawah tanah hingga membentuk sendang. Puji syukur sendang ini sampai sekarang tetap mengeluarkan air dan tidak pernah kering walaupun musim kemarau, masih terawat dengan baik, sakral, airnya jernih, terasa manis dan segar. Itu lah mengapa sendang ini dinamai dengan Sendang Manis Jurug Kolokendang.

Ada pula kisah menarik tentang karomah Kyai Raden Santri mengenai sebuah petilasan berupa Mushollah yang berada di Dusun Kesaran. Dikisahkan bahwa dahulu Kyai Raden Santri pernah membangun sebuah Mushollah yang ditujukan untuk sentra dakwah beliau. Sebelum Musholla tersebut dibangun, menurut cerita para sesepuh, Desa Kesaran selalu dilanda banjir ketika air sungai menguap saat hujan dikarenakan lokasi Desa Kesaran yang tepat berada di pinggir sungai Blongkeng. Namun uniknya, ketika Kyai Raden Santri membangun mushollah di sana, Desa Kesaran tidak pernah lagi dilanda banjir. Bahkan, ketika terjadi banjir besar dari letusan Gunung Merapi yang konon meluap sampai kawasan Candi Borobudur, atas kebesaran Allah, Mushollah dan Dusun Kesaran tetap aman dan sama sekali tidak terkena banjir.

Kisah karomah selanjutnya ialah keberadaan petilasan Dusun “Watu Congol”. Dikisahkan, setelah menetap  di Dusun  Santren pada tahun 1600 M, Kyai Raden Santri sering berkholwat menyepi untuk mujahadah, taqorruban Ilallah di Bukit Gunungpring. Suatu hari ketika beliau pulang dari Bukti Gunungpring menuju dusun Santren, di perjalanan melewati sungai tiba-tiba terjadi banjir yang sangat besar. Kemudian Kyai  Raden Santri berkata “Air berhentilah kamu, aku ingin lewat”. Maka seketika banjir itu berhenti dan mengeras hingga menjadi  batu-batu cadas dan banyak batu-batu yang menonjol hingga sampai sekarang terkenal dengan nama Dusun Watu Congol  (batu yang menonjol).

Demikian sejarah singkat keberadaan Sendang Manis Jurug Kolokendang, Mushollah di Dusun Kesaran dan Asal Muasal Watu Congol. Adapun untuk menuju lokasi Sendang Manis Jurug Kolokendang, pengunjung dari arah wisata Ziarah Makam Gunungpring dapat naik Andong, dan melewati wisata Candi  Ngawen (sebuah candi yang berlatar belakang agama Budha). Sendang ini tepatnya berada di sebelah Timur Dusun  Kemiriombo Desa Ngawen Kecamatan Muntilan.

Cerita karomah ini penulis dapat dari wawancara langsung dengan tokoh sesepuh dan Abdi Ndalem Kraton ketika tengah menjalankan proker KKN pembuatan buku sejarah waliyullah Gunungpring. Silahkan berkunjung! Insyaallah akan mendapatkan berkah dan barokah. Wallahu’alammubisshowab



Facebook Comments
Latest posts by Dini Astriani (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *