Kolaborasi Implementasi Konsep Zuhud Zaman ‘Before’ dan ‘Now’ Perspektif Ihya ‘Ulumuddin

Tasawuf merupakan rangkaian eksperimen jiwa dalam menempuh jalan penyucian diri (Thariq At-Tazkiyah) dan penempaan ruhani yang dituntun oleh kerinduan kepada Allah, ia memiliki corak yang berbeda antara seorang mutashawwif  yang satu dengan mutashawwif  yang lain. Sementara kompilasi berbagai eksperimen dan pengalaman yang telah terhimpun dan kemudian dijalani oleh para sufi secara turun-temurun melewati beberapa abad, telah berubah menjadi suatu ilmu yang memiliki akar, kaidah, dan idiom-idiom tersendiri. 

Setelah itu, langkah-langkah berikutnya akan terjadi secara berurut dalam bentuk yang serupa antar satu dengan yang lainnya; dimulai dari takhalliyah (pengosongan), tahalliyah (pengisian), lalu tazkiyah (penyucian). Atau boleh juga dikatakan; dimulai dari Islam, Iman, lalu Ihsan. Atau boleh juga dengan mengatakan; bahwa semua itu adalah membenamkan diri secara keseluruhan di dalam cinta, mabuk-kepayang kepada Allah, serta kerinduan yang terkadang orang yang mengalaminya dapat mencapai batas maksimal.

Dalam menjalani proses ini, hati adalah sumber utamanya, hati harus selalu berada pada ketinggian dan terus naik ke ujung pencapaiannya, sampai akhirnya tiba di mata air anugerah Rabbaniyah dalam cinta yang kian berkobar dalam hatinya dan semakin kuat dari hari ke hari. Namun jika jendela hati ini tertutup dari Al-Quran dan As-Sunnah maka ia menjadi campur-aduk dengan kekuatan buta yang membuatnya saling bertabrakan dan centang-perenang.

Bahkan kehidupan sendiri, jika berjalan tanpa al-Quran dan al-Sunnah pasti akan gersang, kering, dan sulit diterima. Mungkin saja siksaan yang menimpa manusia dalam kehidupan ini akan berujung pada satu bentuk bunuh diri intelektual dan material. Begitu banyak manusia yang berpaling dalam ketakutan terhadap kehidupan karena mereka tidak mampu memahami serta mengetahui tujuan dari kehidupan. Begitu banyak jiwa yang terguncang disebabkan tak ada sedikitpun semburan cahaya al-Quran apalagi sentuhan tasawuf mengenai hidupnya.

Inilah yang terjadi pada abad sekarang, yakni abad milenial manusia materialisme. Syahwat nafsu duniawi menjadi landasan utama mereka dalam menjalani kehidupan untuk mencapai kebahagiaan versi mereka. Tidak lagi pandang bulu melihat mana sesuatu yang dianggap terpuji dan mana sesuatu yang dianggap keji, semuanya disamaratakan berdasarkan kemauan mereka sendiri. Di sinilah tasawuf berperan aktif dalam menerapi kembali paradigma manusia modern tentang menjalani kehidupan bahagia dunia akhirat tanpa sedikitpun menghalalkan segala cara.  

Tasawuf adalah istilah yang digunakan untuk menyebut jalan yang menghubungkan  kepada Sang Mahabenar, Allah Ta’ala. Sebagian dari para penempuh kebenaran berpendapat bahwa tasawuf adalah tindakan Allah mematikan aspek kejiwaan dan ego manusia untuk kemudian membawanya naik menuju kehidupan lain dengan cahaya-Nya. Dari pendekatan lain tasawuf diartikan sebagai usaha keras yang terus menerus dan adanya kesadaran akan pengawasan Allah yang berkesinambungan, demi menghilangkan semua bentuk akhlak tercela dari seseorang dan mengosongkan dirinya dari semua itu, untuk kemudian mengisi dirinya dengan berbagai sifat terpuji yang luhur.

Dasar dari tasawuf adalah menjaga adab-adab syariat secara lahiriah dan berdiri diatas adab-adab tersebut secara bathiniah. Yang dimaksud dengan adab syariat di sini mengamalkan dan memelihara setiap ibadah fisikal (lahiriah) sesuai dengan tuntunan fiqih. Sedangkan adab secara bathiniah adalah seluruh ibadah yang berhubungan dengan intuisi atau rasa, inilah yang disebut tasawuf. Maka, antara fisikal dan intuisi harus bisa berkolaborasi secara imbang untuk mendapatkan puncak dari ibadah tersebut. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi setiap orang, dibutuhkan kesungguhan dan keistiqamahan yang nyata untuk bisa merealisasikannya. Namun tidak juga menjadi sesuatu yang mustahil, karena pada hakikatnya Allah sudah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk bisa memadukan kedua hal ini.

Puncak dari tasawuf adalah Ma’rifat kepada Allah, artinya pencapaian tertinggi tasawuf yaitu kembali pada asal-usulnya dan tersingkapnya seluruh gerbang rahasia manusia dengan Tuhannya, serta menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan untuk berusaha hidup abadi dalam diri Tuhan. Untuk bisa sampai kepada tahapan tertinggi ini, maka para penempuh jalan kebenaran (sufi) harus melalui Maqamat-maqamat dalam tasawuf. Salah satunya adalah Zuhud.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘ulumuddin berkata bahwa zuhud pada hakikatnya adalah tidak suka kepada sesuatu dan beralih kepada sesuatu yang lain. Tidak suka kepada sesuatu di sini diibaratkan sebagai pernak-pernik duniawi, dan beralih kepada sesuatu yang lain diartikan dengan kehidupan akhirat. Sehingga beliau berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan kelebihan duniawi dan tidak menyukainya, lalu dia menyukai apa yang ada di akhirat, maka dia adalah orang yang zuhud terhadap dunia.”

Jadi, bisa diartikan zuhud itu adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan melawan kecenderungan jasmani. Di kalangan sufi, zuhud dikenal sebagai usaha untuk menjauhi kenikmatan dunia, menghabiskan umur dengan menjalani kehidupan yang semirip mungkin dengan orang yang diet sembari menjadikan takwa sebagai landasan menempuh jalan kebenaran, meneguhkan hati untuk menolak kehidupan dunia yang dihadapi, dan menolak keinginan hawa nafsu.



Zuhud tidak bisa dilakukan begitu saja, tetapi harus diiringi oleh ilmu pengetahuan terhadap perkara halal dan haram serta mengetahui bahwa dunia ini pada hakikatnya adalah bangkai, dan semua orang tidak ada yang suka dengan sesuatu yang najis ini, namun bisa terlihat menakjubkan karena bangkai dilumuri oleh perhiasa-perhiasan dunia yang bisa menghipnotis penikmatnya jika ia lalai. Dan selalu ingat bahwa akhirat itu lebih baik dari dunia, disertai dengan pengamalan-pengamalan yang membuktikan kecintaannya pada akhirat. Ini menjadi salah satu faktor kenapa dalam ilmu tasawuf zuhud termasuk ke dalam maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan ketika Haritsah berkata kepada Rasulullah SAW, “Aku adalah orang mukmin yang sesungguhnya.” Rasul bertanya, “ bagaimanakah hakikat imanmu?” Haritsah menjawab, “Aku telah menjauhkan diriku dari duniawi, sehingga sama saja bagiku antara antara bebatuan dan emasnya, seakan-akan aku melihat surga dan neraka, dan melihat ‘Arsy Tuhanku dengan jelas.” Lalu Nabi bersabda, ”Engkau telah mengetahui, maka tetaplah kamu (pada pendirianmu).”

Sejatinya zuhud itu mempunyai tanda yang bisa diidentifikasi, pertama, tidak bergembira dengan dunia atas apa yang ada, dan tidak bersedih atas apa yang hilang. Kedua, tidak senang dengan pujian, dan tidak bersedih dengan celaan. Ketiga, selalu mengutamakan penghambaan diri kepada Allah dan gemar berkhalwat bersama-Nya ketika menghadapi sesuatu selain Dia.

Pada zaman dahulu, banyak para sufi yang mampu melalui tahapan maqamat zuhud ini karena tantangan pada saat itu tidak seberat masa abad milenium ini, ditambah dengan iman mereka yang terus naik, selalu bergaul bersama orang-orang shaleh yang sudah ma’rifah kepada Allah, dan hidup dalam kesederhanaan jiwa dan harta benda. Karena pada dasarnya musuh terberat manusia adalah memerangi hawa nafsunya sendiri. Hal inilah yang membedakan generasi zaman dahulu dan zaman sekarang atau populer dengan istilah zaman ‘Now’. Secara sederhana Imam Al-Ghazali merumuskan zuhud dengan janganlah kamu mengambil segala sesuatu yang kamu perlukan kecuali sebatas keperluanmu saja guna mempertahankan hidupmu. Inilah yang dinamakan zuhud sesungguhnya yang merupakan konsep zuhud yang dibicarakan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin.

Jika kita ulas kembali konsep zuhud zaman ‘Before’ kepada zaman ‘Now’, maka akan terdapat banyak perbedaan dalam pengimplementasiannya, namun dengan konsep yang sama. Hal ini disebabkan karena perubahan zaman yang selalu berkembang yang berdampak pada berubah pula paradigma umat. Apalagi generasi zaman milenium ini dikenal dengan pengguna teknologi canggih serba aktif dan manusia yang hidup dalam kubang materialisme, yang mana konsep zuhud sangat penting untuk diterapkan saat ini, tidak hanya untuk mereka yang sedang menempuh jalan menjadi seorang sufi saja, justru harus dilakukan oleh manusia tanpa terkecuali.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa manusia abad ini kebanyakan bertahan hidup hanya untuk berlomba-lomba mengumpulkan harta, mencari popularitas, dan menjunjung tinggi jabatan tanpa berpikir bahwa suatu saat nanti semua itu akan lenyap. Namun jangan sampai salah paradigma bahwa hidup di dunia tidak boleh sama sekali menikmati segala fasilitas alam semesta yang ada, justru kita harus mengambil bagian yang sudah Tuhan tetapkan untuk makhluknya. Di sinilah kolaborasi implementasi konsep zuhud harus dipahami dan direalisasikan dengan benar sesuai tuntutan syariat dan tasawuf.



Sejatinya menjadi orang yang kaya harta benda pada dunia, mempunyai eksistensi yang baik di tengah masyarakat, dan menjabat pada posisi tertinggi bukanlah sesuatu yang dapat menghalangi zuhud. Akan tetapi ini adalah suatu kesempatan untuk bisa mencapai zuhud yang sesungguhnya. Karena kembali lagi pada konsep zuhud bahwa hanya boleh mengambil bagian dunia sekedar keperluan saja. Meskipun memiliki kekayaan harta namun tidak menjadikan harta itu segalanya dan tidak menanamkan dalam hati. Ditilik dari riwayat kisah para ulama sufi terdahulu ini sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang,  hal ini disebabkan karena pada zaman ini sufi harus kaya harta benda, karena dari sini banyak ibadah-ibadah lain yang dipancarkan oleh zuhud, seperti berdakwah melalui media sosial, ringan tangan dalam bersedekah dan membantu sesama, dan lain-lain.

Di sini terjadilah kolaborasi yang sepadan antara implementasi konsep zuhud zaman ‘Before’ dan ‘Now’, tanpa menghilangkan konsep zuhud itu sendiri. Karena zuhud sejatinya adalah menggenggam dunia tapi tidak menancapkannya dalam hati. Cukuplah manusia yang menjadi penguasa dunia, namun tidak diperbudak oleh dunia.

Siti Aisyah

Penulis adalah Mahasantri CSSMoRA UIN Bandung Jurusan Tasawuf Psikoterapi

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *