Press "Enter" to skip to content

Konsep “al-Istigrāb `aqlan” dan “al-Istihālah `aqlan” dalam Memahami Hadis

Waktu Baca:4 Menit, 43 Detik

Beberapa waktu yang lalu penulis tak sengaja melihat satu konten ceramah guru Udin Samarinda di YouTube, dan tergeraklah hati untuk mendengarkan. Inti dari ceramah itu adalah bagaimana nash, Al-Qur’an dan hadis, seharusnya dipahami. Ceramah itu pun ditujukan untuk mengkritik metode yang digunakan oleh orang-orang Barat (orientalis) dalam memahami nash, khususnya hadis. Dan seketika ingatlah penulis pada satu sub-tema dalam sebuah karya yang menjadi kajian skripsi penulis.

Memang, kajian hadis menjadi sangat masif setelah orang-orang Barat mulai ikut berkecimpung. Secara garis besar hadis dipandang dengan skeptis oleh para orientalis, dengan pandangan yang paling skeptis adalah bahwa hadis dibuat 150 tahun setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat. Dan memang, dalam internal Islam sendiri, hadis didudukkan pada tingkat zhanni tsubut, yaitu teks yang ketetapan sumbernya bersifat dugaan kuat, berbeda dengan al-Qur’an yang merupakan qath`i tsubut atau pasti sumber ketetapannya.

Ini berimplikasi kepada pandangan bahwa kajian hadis lebih berat dibanding dengan kajian al-Qur’an. Sebelum memasuki fase memahami hadis, para pengkaji harus memastikan terlebih dahulu apakah hadis tersebut otentik, baik sanad maupun matannya. Kajian sanad dan matan hadis dalam sejarahnya tidak berkembang bersamaan. Sanad hadis lebih menjadi fokus perhatian di era klasik hingga pertengahan. Sedangkan era modern hingga sekarang lebih memperhatikan hadis di aspek matannya.

Aspek matan menjadi kajian yang lebih mendominasi di era kini dikarenakan berbagai faktor, termasuk sudut pandang yang dibawa para peneliti, khususnya orientalis. Dengan pandangan positivis, yaitu suatu yang bernilai hanyalah yang dapat diukur dengan akal sehat dengan sesuai dengan rasionalitas modern, maka mayoritas orientalis menolak hadis yang ‘ganjil’. Seperti James Robson, sebagaimana disebutkan oleh Haman Faizin, yang menolak hadis-hadis tentang ramalan dan mukjizat karena dianggap tidak masuk akal, meskipun telah dinyatakan sahih oleh ulama sebelumnya.

Dalam men-counter pandangan-pandangan skeptis seperti ini, maka Marwan al-Kurdi, dalam satu satu sub-tema karyanya yang berjudul Al-Jināyah `Alā al-Bukhārī: Qirā’ah Naqdiyyah Li al-Kitāb Jināyah al-Bukhārī (2017) mengajak para pembaca untuk membedakan antara “al-Istigrāb `aqlan/ganjil secara akal” dan “al-Istihālah `aqlan/mustahil secara akal” dalam hadis.

Untuk memahami kedua konsep di atas, marilah kita sertakan contoh:

Terdapat sebuah hadis ‘ganjil’ yang berbunyi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، قَالَ: ارْجِعْ إِلَيْهِ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِمَا غَطَّتْ يَدُهُ بِكُلِّ شَعَرَةٍ سَنَةٌ، قَالَ: أَيْ رَبِّ ثُمَّ مَاذَا، قَالَ: ثُمَّ الْمَوْتُ….. الحديث

Abu Hurairah berkata, “Suatu hari malaikat maut diutus kepada Nabi Musa `alaih al-salām. Ketika mendatanginya, Nabi Musa memukul matanya. Maka, malaikat itu kembali kepada Rabbnya dan berkata, “Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian.” Allah berfirman: “Kembalilah dan ketakan kepadanya agar meletakkan tangannya di atas punggung lembu jantan, di mana setiap bulu yang ditutupi tangannya berarti satu tahun umurnya.” Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhan, setelah itu apa?” Allah berfirman: “Kematian.”….. al-hadits (H.R al-Bukhari, no. 1339 dan 3408; Muslim, no. 2372; dan al-Nasa`i, no. 2089)

Kurang sahih apa jika hadis di atas telah diriwayatkan oleh syaikhān, al-Bukhari dan Muslim?

Baca juga: Mainkan Agama dengan Tentram

Hadis di atas disinggung oleh Zakaria Ouzon, seorang yang menulis kesalahan-kesalahan Imam al-Bukhari dalam sebuah karya yang berjudul Jināyah al-Bukhārī: Inqāż al-Dīn min Imām al-Muhaddiīn (2004). Di mana letak keganjilannya? Al-Kurdi berasumsi bahwa Ouzon menolak hadis di atas karena merasa aneh ketika ada seorang malaikat maut dipukul matanya oleh manusia, bahkan sampai merusak matanya.

Al-Kurdi membantah sikap skeptis Ouzon dengan analogi sederhana, di mana menurutnya tidak akan ada seorang pun yang akan diam ketika datang seseorang yang mau mencabut nyawanya. Menurutnya, malaikat maut datang dalam wujud manusia, dan Nabi Musa tidak mengetahuinya karena tidak diberi tahu sebelumnya waktu usianya di dunia telah habis, padahal tidak ada seorang nabi pun yang tidak diberi tahu akan kematiannya.

Selain itu, jika kita melihat Q.S al-Qashshash: 15, yang bercerita tentang bagaimana nabi Musa membuat seorang laki-laki kehilangan nyawa dalam satu pukulan, maka rusaknya mata malaikat maut karena dipukul nabi Musa bukanlah hal yang mustahil. Sebab, malaikat itu datang dalam wujud manusia. Dan jika kita bandingkan dengan al-Qur’an, banyak juga kejadian ‘ganjil’ tapi nyata terjadi, seperti isra dan mikrajnya Nabi Muhammad ﷺ.

Contoh di atas merupakan contoh dari “al-istigrāb `aqlan”. Sedangkan contoh “al-istihālah `aqlan”, dalam Islam, telah kita ketahui bagaimana Allah memiliki sifat mustahil yang tidak mungkin terjadi.

Maka, sebagaimana guru Udin Samarinda yang menjelaskan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat banyak hal ‘aneh’ namun terjadi, penulis setuju dengan al-Kurdi bahwa hadis-hadis yang tidak sesuai dengan akal tidak seharusnya ditolak mentah-mentah. Dan penulis juga setuju pada kritik yang dilontarkan oleh Bahrudin Zamawi, bahwa daripada menolak hadis yang tidak sesuai dengan rasionalitas, yang dikhawatirkan akan mereduksi jumlah hadis sahih, lebih baik melakukan reinterpretasi hadis yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Juga, penulis setuju pada salah satu teman diskusi, bahwa memahami teks yang paling benar adalah sesuai dengan rasionalitas di mana dan kapan teks tersebut muncul.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *