Press "Enter" to skip to content

Kontekstualisasi “Jahl” dalam Hadis tentang Ramadhan

Waktu Baca:2 Menit, 55 Detik

Judul: “Kontekstualisasi “Jahl” dalam Hadis tentang Ramadhan. 3 Hal yang Ditekankan untuk Ditinggalkan di Bulan Ramadhan: Sebuah Refleksi di Tengah Pandemi”

Judulnya panjang sekali bukan? Ya begitulah akademisi, kadang sering ribet dalam hal pembuatan judul sekalipun.

Tulisan kali ini akan membahas sebuah hadis yang masyhur diperdengarkan oleh para da’i khususnya di bulan Ramadhan. Begini hadisnya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من لم يدع قول الزور والعمل به، والجهل، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه رواه البخاري و أبو داود.

Dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang tidak men berkata dusta serta aktivitas dusta itu sendiri dan perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum. (HR. Bukhari dan Abu Daud)

Inti dari hadis ini ialah penekanan kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa agar meninggalkan segala bentuk kemaksiatan baik yang berdampak negatif secara individu (dirinya sendiri) apalagi secara sosial. Sebagaimana disimbolkan dengan tiga bentuk perbuatan di atas.

Dari tiga bentuk perbuatan negatif tersebut ada salah satu yang akan dibahas dengan pendekatan kontekstual yakni الجهل (bertindak bodoh). Khususnya jika dimaknai dengan melihat situasi di tengah pandemi ini.

Baca Juga: Makna Dibelenggunya Syaitan di Bulan Ramadhan

Dalam kajian hadis Bulughul Maram melalui status WhatsApp, saya pernah menuliskan bahwa bertindak bodoh dapat dijelaskan sebagai tindakan yang tidak dilandasi atau didasarkan atas pengetahuan (ilmu) maupun pemikiran/pertimbangan yang matang (memikirkan mashlahat dan mafsadat), sehingga justru menimbulkan kerugian dan bahkan kerusakan.

Pada kasus pandemi Covid-19 di Indonesia yang masih terjadi hingga saat ini (penghujung akhir Ramadhan), salah satu bentuk kontekstual dari bertindak bodoh ini adalah melanggar protokol penyebaran Covid-19. Seperti membuat kerumunan apalagi di daerah yang sedang melaksanakan PSBB.

Hari ini, saya mendapati dua video valid yang menunjukkan aktivitas masyarakat yang melanggar protokol penyebaran Covid-19, yakni di Bogor (Pasar Anyar) dan Jember (Roxy Mall). Ini jelas dapat dikategorikan sebagai tindakan bodoh yang berakibat pada kerugian atas diri sendiri dan orang lain.

Apapun alasan yang mendasarinya, tentu tindakan masyarakat ini tidak dilandasi atas pemikiran maupun pertimbangan atas maslahat dan mafsadat yang matang. Apa yang mereka telah lakukan itu dapat berimbas pada munculnya kluster baru dalam penularan Covid-19 ini, serta memperparah kondisi yang ada saat ini.

Lantas tidak heran jika di Twitter misalnya sedang ramai tagar #TerserahIndonesia yang menjadi simbol perwakilan kekecewaan garda depan pejuang Covid-19 (paramedis) atas berbagai tindakan bodoh masyarakat yang abai akan protokol yang telah diberlakukan.

Jadi kira-kira konsekuensi yang harus mereka tanggung secara teologis dan sosial apa? Secara teologis, tentu berdasarkan pada hadis di atas, maka umat Islam yang terlibat dalam tindakan bodoh ini telah mencederai ibadah puasa yang mereka jalankan sebab salah satu bentuk tindakan negatif yang mereka lakukan.

Baca Juga: Perawi Hadis Terbanyak dalam Sejarah

Adapun secara sosial, mereka telah mencederai usaha masyarakat yang peduli akan percepatan penyelesaian pandemi ini di Indonesia. Khususnya para dokter dan tenaga medis yang tiada hentinya bekerja (apalagi jika kasus bertambah banyak bahkan membludak) dan menghimbau agar masyarakat patuh agar pandemi segera mereda.

Masyarakat yang tidak peduli ini juga tidak lepas dari konsekuensi bahwa mereka bisa saja telah menjadi carrier virus (pembawa virus) dan memungkinkan kembali mencederai lingkup sosialnya baik keluarga maupun orang-orang yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Mari kita renungkan kembali hadis yang terlihat sederhana namun begitu berat dilakukan ini. Mari kita patuhi protokol yang ada dan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan bodoh yang terjadi di luar sana, yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang yang ada di sekitar kita.

Facebook Comments
Latest posts by Alif Jabal Kurdi (see all)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *