Press "Enter" to skip to content

Kontribusi Orientalis, A.J. Weinsinck, Terhadap Keilmuan Hadis di Dunia Internasional

Waktu Baca:5 Menit, 13 Detik

Keilmuan tentang dunia timur mencakup berbagai hal yang berasal dari benua Asia. Dalam hal ini, agama adalah salah satu ruang yang luas bagi para ilmuwan untuk menguak sisi-sisi ilmiah, sosial hingga filsafat teologis dari suatu agama, tak terlepas yakni agama Islam. Di dalam Islampun, para ilmuwan barat yang hendak meneliti dan mengkaji pada bidang-bidang tertentu seperti hadis, sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Terbukti dengan karya-karya para pengkaji barat yang mulai bangkit dari masa Renaissance, masa kolonialisme, hingga saat ini.

Kajian terhadap keilmuan Islam, terutama hadis di masa ini tidak hanya diminati oleh kalangan agamawan Islam atau ilmuwan yang berasal dari umat Islam saja, melainkan minat ini sudah dibawa oleh para pengkaji barat yang sering kita sebut sebagai Orientalis. Orientalisme adalah suatu lingkup kajian bagi para ilmuwan barat (secara umum) atau siapapun yang menggunakan sistem berpikir dan konsep paradigma barat yang digunakan untuk meneliti dan mengkaji dunia ketimuran (Islam) yang mencakup kebudayaan, perkembangan peradaban hingga kewahyuan (teologis). Sedangkan subjek yang melakukan penelitian terhadap dunia ketimuran disebut dengan Orientalis.

Umumnya, para orientalis menggunakan pandangan yang terkesan negatif terhadap hadis. Ini dibuktikan dengan pelbagai argumentasi yang dicetuskan para orientalis dalam memandang status hadis sebagai sumber kedua bagi umat Islam. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyak sebab, seperti kepentingan tertentu yang dibawa oleh orientalis untuk melemahkan potensi keilmuan Islam dalam rangka penaklukan wilayah saat masa kolonialisme hingga kepentingan teologis yang didasari sudut pandang dari mereka sendiri (eropasentris). Tentu muara kajian seperti ini akan memunculkan hasil yang cenderung koservatif dalam menjaga nama baik mereka dan berdampak negatif untuk agama Islam sendiri.



Menariknya, konsep yang orientalis usung adalah kajian yang sarat dengan alur metodologis akurat dan ilmiah, sehingga teori-teori yang mereka cetuskan dapat diklaim sebagai hasil penelitian yang sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian. Tentu ini membawa pengakuan yang akan dipertimbangkan oleh banyak sarjana yang juga ingin meneliti hadis.

Namun, memang tidak semua orientalis cenderung negatif dalam melihat hadis. Hal ini karena terjadi banyak pergeseran yang awalnya berada pada penjara kelembagaan oleh banyak universitas di barat, menjadi organisasi independen yang khusus menjadikan hadis sebagai sebuah studi ilmiah. Selain itu, para pengkaji yang tidak lagi berasal dari golongan agamawan, turut menjadikan hadis sebagai objek kajian yang netral untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Sejak inilah, muncul banyak karya yang memberikan kontribusi positif terhadap kajian hadis berupa buku, indeks, kamus, leksikon dan ensiklopedi baik secara kolektif maupun personal.

Salah satunya orientalis yang berjasa adalah Aarent Jan Weinsinck. Ilmuwan yang lahir di Aarlanderveen, Belanda pada tahun 1882 ini menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda sejak tahun 2917. Ia terpikat pada bidang kajian mistisisme Kristen maupun Islam, yang di kemudian hari menulis karya akbar yang bermanfaat bagi keilmuan Islam secara umum, dan hadis secara khusus. Di tahun 1927 pun ia menggantikan seniornya yang lebih dulu terfokus pada kajian keislaman, Snouck Hurgronje, untuk menjadi Ketua Studi Bahasa Arab di Universitas Leiden.



A.J. Weinsinck berhasil memberikan pengaruh serta kontribusi bagi keilmuan hadis, diantaranya ia menyusun buku indeks yang berjudul A Handbook of Early Muhammadan Tradition : Alphabetically Arranged yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab oleh Muhammad Fuad al-Baqi menjadi Miftah Kunuz as Sunnah. Dalam indeks ini, kita dapat mencari periwayat hadis, kutipan mengenai teks (matan) hadis tanpa perlu mencari satu persatu di kitab-kitab hadis. Dengan mencari kata kunci atau inti kalimat pada suatu teks (matan) hadis, kita bisa mudah menemukannya serta mengetahui letak hadis tersebut dan dilanjutkan dengan klarifikasi pada kitab yang dituju.

Memang suatu produk tidak terlepas dari kekurangan, ini pun menyertai karya A.J. Weinsinck tersebut. Dikarenakan dalam kitab indeks ini memuat kitab-kitab (turats) cetakan sebelum tahun 1939, sementara kitab-kitab tersebut sudah mengalami reproduksi massal dengan berbagai edisi, yang memungkinkan pula terjadi perubahan dari aspek halaman, jilid dan sebagainya, sehingga terkadang petunjuk yang kita temukan dalam kitab karya Weinsinck tersebut tidak lagi sama persis dengan kitab-kitab yang telah di terbit ulang tersebut.

Selain itu, karya A.J. Weinsinck yang fenomenal adalah al-Mu’jam al-Mufahraz li Alfaz al-Hadis al-Nabawi. Kitab ini berisi tentang kamus hadis yang merujuk pada kitab hadis primer yang masyhur seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at Tirmidzi, Sunan an Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Muwattha’ Imam Malik yang terdiri dari tujuh jilid. Dengan menggunakan kitab Mu’jam ini, pengkaji hadis tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan hadis (takhrij) yang diinginkan, karena di dalamnya memuat letak hadis-hadis yang dicari.

Bila dilacak dari aspek historis, gagasan untuk penyusunan kitab Mu’jam ini sudah ada sejak tahun 1916. Latar belakang disusunnya Mu’jam ini pun adalah dampak dari kesulitan-kesulitan yang ditemui oleh para pengkaji hadis, terkhusus di Barat, dalam menemukan dan menghimpun hadis-hadis yang ingin dikaji yang tersebar dalam koleksi kitab-kitab hadis. Walaupun pada kenyataannya, hadis-hadis dalam kitab-kitab hadis telah disusuk sedemikian rupa dalam sub bahsan yang khusus, namun tetap saja para pengkajinya sulit untuk mengumpulkan hadis-hadis tersebut secara kolektif.



Dalam penyusunannya, A.J. Weinsinck pun melakukan berbagai usaha untuk merealisasikan megaproyek nya ini. Pertama, ia memperkenalkan gagasan melalui sosialisasi massal kepada dunia akademik internasional. Kedua, ia mengundang para akademisi internasional, sarjana-sarjana barat untuk turut andil dalam penyusunan kitab ini. Ketiga, mengorganisir kerja dalam tim yang ia dapatkan dan ia bentuk untuk mendapatkan sebuah karya yang sistematis. Keempat, melakukan penggalangan dana untuk proyeknya tersebut.

Dapat dibilang, karya yang bermula dari gagasan Weinsinck ini adalah prestasi yang gemilang bagi kesarjanaan barat secara umum. Dikarenakan hal ini terjadi pada saat masa-masa Perang Dunia ke-I yang mana saat itu kajian ketimuran sedang mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya para orientalis maupun calon sarjana oriental saat itu, kurangnya dana penelitian, hingga problem dalam negeri (domestik) yang dialami negara-negara eropa.

Dalam hal ini, hendaknya kita pun sebagai peneliti dan pengkaji terhadap keilmuan hadis, dapat berkontribusi dalam keilmuan hadis yang masih banyak belum dikenal dan dimasifkan kepada dunia dengan meniru misi A.J. Weinsinck diatas. Tentunya dapat diakui secara metodologis ilmiah akan menjadikan hadis menjadi objek yang cukup vital untuk dikaji, sehingga hasil dari penelitian tersebut dapat bermanfaat untuk keilmuan hadis itu sendiri, maupun keilmuan internasional secara umum. Dari titik inilah, akan muncul secara berkelanjutan potensi dan eksistensi Islam di kancah keilmuan dunia.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *