Press "Enter" to skip to content

“Korelasi Antara Linguistik dan Filologi dalam Sebuah Kajian”

Waktu Baca:2 Menit, 44 Detik

Linguistik bisa disebut juga filologi. Pernyataan ini ada sebelum Ferdinand de Saussure, dan juga sesudahnya yang disunting oleh Verhaar. Menurut KBBI Linguistik adalah ilmu tentang bahasa, telaah bahasa secara ilmiah. Ferdinand de Saussure membagi linguistik menjadi tiga bagian. Pertama, Language adalah bahasa secara umum, semua makhluk hidup saling menyampaikan ide. Kedua, Langua adalah bahasa yang sudah terprogram/tergramatikal. Ketiga, Parole adalah bahasa yang diksinya beda. Kaitannya dengan penutur, isinya sama hanya saja respon terhadap isi tersebut yang berbeda. Orang yang ahli dalam bidang ini disebut Linguis.

Filologi berasal dari bahasa Yunani, Philologia. Philos ‘Teman’ dan Logos ‘pembicaraan’ atau ‘Ilmu’. Filologi sebagai istilah, baru digunakan pada abad ke-3 SM oleh sekelompok ahli di Iskandariyah. Menurut para ahli filologi adalah keahlian yang diperlukan untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun yang lalu. Singkatnya, filologi adalah ilmu yang mempelajari tentang naskah. Orang yang ahli dalam bidang ini disebut Filolog.

Untuk menjadi filolog, seseorang cukup mengetahui bahasa darimana naskah itu berasal tanpa harus menjadi Linguis. Adapun objek kajian filolog adalah naskah-naskah kuno. Untuk memahami isi atau naskah tersebut perlu adanya bantuan dari ilmu bahasa. Mengapa demikian? Linguistik sendiri merupakan ilmu tentang bahasa, baik lisan maupun tulisan. Sedangkan filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah kuno yang di dalamnya terkandung bahasa tulisan, maka untuk mengetahui kandungan sebuah naskah sangatlah perlu mempertimbangkan bentuk-bentuk linguistiknya.

Peran linguistik dalam membantu filologi dalam pengkajian naskah yaitu pertama,  pengetahuan etimologi yang berfungsi mempelajari sejarah asal usul kata. Misal pada kata mungkir harus dipahami oleh pemakai bahasa Indonesia. Saat ini bahas Indonesia terdapat kata ungkir, pungkir, ingkar yang semuanya dapat dikembalikan pada kata Arab nakara yang kemudian secara derivatif dapat dibentuk kata inkar, munkir(mungkir). Kata ungkir dan pungkir secara derivatif tidak dapat dipertanggung jawabkan karena kata-kata tersebut merupakan bentukan baru dalam bahasa Indonesia yang secara etimologis tidak dapat dibenarkan. Dalam suatu naskah tentu terdapat banyak kata yang sudah berubah, maksudnya bukan lagi dalam bentuk asalnya. Lafadz mu’minah untuk mengetahui arti lafadz tersebut harus mengetahui kata dasarnya terlebih dahulu, baru nanti bisa memaknai lafadz tersebut secara bahasa.

Kedua, dari aspek sosiolinguistik yang merupapakan cabang linguistik yang menelaah korelasi serta saling berpengaruh antara berperilaku berbahasa dan berperilaku sosial. Kata caos dhahar masyarakat Jogja dan Surakarta memaknainya dengan memberi makan kepada pusaka, keris dan benda-benda keramat. Akan tetapi bagi masyarakat di luar kota tersebut kata caos dhahar dipakai sebagaimana adanya misalnya untuk menjamu tamu dengan menghidangkan makanan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meneliti suatu teks harus memahami betul bahasa yang digunakan dalam teks tersebut, karena terkadang dalam suatu daerah memiliki banyak pemaknaan pada satu kata dan tentunya memiliki fungsi dan maksud masing-masing.

Ketiga, dari aspek stilistika merupakan ilmu yang berhubungan dengan mencermati gaya bahasa sastra sehingga filologi akan terbantu untuk mengetahui berapa usia teks tersebut. Memahami suatu teks tidak cukup hanya dengan makna mufrod  tetapi diperlukan makna murod. Dalam bahasa Arab terdapat ilmu balaghah yang mempelajari gaya bahasa, sangat cocok jika digunakan untuk memahami manuskrip Arab.

Dengan demikian untuk mengkaji suatu teks tidak cukup dengan hanya menetahui bahasanya saja. Memang sangat bisa mengetahui suatu teks dengan melihat fisik luarnya saja, namun akan lebih valid jika naskah tersebut dibaca dengan kacamata filologi. Selain meyuarakan isi naskah tersebut juga dapat menunjukkan keaslian atau otentitas daripada naskah tersebut.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *