Press "Enter" to skip to content

Larangan Menggugurkan Kandungan (Aborsi)

Waktu Baca:2 Menit, 16 Detik

Aborsi dikenal sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang sudah dibuahi dalam rahim (uterus) sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu. Aborsi juga dapat didefinisikan sebagai keguguran janin, yaitu dengan melakukan pengguguran dengan disengaja karena tidak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu tumbuh dan berkembang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa melakukan aborsi hukumnya adalah haram, kecuali ada kepentingan lain yang bertujuan untuk menghilangkan kemudharatan atau hajat tertentu yang sesuai dengan syariat Islam. Penguguran kandungan (aborsi) sesudah nafkh al-ruh, baik itu dilakukan dengan cara penyedotan, pengurasan kandungan, atau dengan cara lainnya, hukumnya adalah haram. Hal itu dapat dikecualikan jika seorang dokter yang amanah mengatakan bahwa aborsi adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwa sang ibu yang sedang mengandung.

Dalam Islam, pengguguran kandungan disebut juga dengan isqoth al-hamli atau ijhadh. Ulama menyepakati keharaman tindakan menggugurkan kandungan tanpa adanya sebab yang mengharuskan. Namun, ulama berbeda pendapat terkait kebolehan atau keharaman pengguguran kandungan yang ada sebab syar’i-nya.

Buku Fikih Keluarga (Nasruddin Umar dan Sugiri Syarief, 2009) menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan haramnya aborsi sesudah nafkh al-ruh (ditiupkannya nyawa pada janin sesudah usia empat bulan kehamilan), diantaranya ialah:

Pertama, janin yang telah berusia empat bulan yang harus dihormati kehidupannya.  Aborsi sesudah nafkh al-ruh merupakan sebuah tindak kejahatan karena berusaha melakukan pembunuhan terhadap manusia (anak dalam kandungan) yang diharamkan Allah swt. Allah berfirman dalam Qs. Al-Isra’ [17] : 33:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

Kedua, aborsi sesudah nafkh al-ruh sangat membahayakan keselamatan jiwa wanita yang melakukannya. Agama Islam melarang tindakan itu agar tidak membahayakan diri mereka sendiri atau membahayakan nyawa orang lain.

Ketiga, aborsi yang dilakukan dengan cara penyedotan ataupun pengurasan kandungan (menstrual regulation) dengan memasukkan alat penyedot ke dalam rahim wanita maupun cara lainnnya yang dikhawatirkan akan mendorong manusia lebih berani melakukannya karena merasa lebih aman jika hamil dapat digugurkan kandungannya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa aborsi adalah tindakan yang sama sekali terlarang untuk dilakukan kecuali ada alsan (‘illah) yang mengharuskan ia dilakukan demi terhindarnya kemudharatan dan tercapainya kemaslahatan.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *