Maqashid al-Syariah: Hifzu al-Nafs (Menjaga Jiwa), Perlindungan Nyawa Lebih Diutamakan

“Kiyai, mohon maaf,  belakangan ada istilah keagamaan Islam yg makin populer di dunia intelektual/sarjana Islam progresif, yaitu “Maqashid al-Syari’ah” (tujuan hukum agama). Ini dipopulerkan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya “Al-Mustahfa min ‘Ilm al-Ushul”.

Al-Imam menyebutnya “Al-Kulliyat al-Khams” (Lima hak dasar manusia). Yaitu “Hifzh al-Din” , perlindungan keyakinan), “Hifzh al-Nafs” , Perlindungan jiwa/hidup), “Hifzh al-‘Aql” (perlindungan hak berpikir), “Hifzh al-Nasl” (perlindungan berketurunan) dan “Hifzh al-Mal” (perlindungan hak milik). Begitu menurut urutan Imam al-Ghazali. Bagaimana urutan ini menurut kiyai?.

“Hifzh al-Nafs (hak hidup) itu urutan pertama”, jawab beliau spontan. Aku  terperangah, sambil senang, krn aku pikir sama degan yang aku pikirkan, meski tak populer.”Mengapa “Hifzh al-Din” tdk didahulukan? bukankah ini sangat mendasar?”, “Ya karen orang bergama itu harus orang hidup”, Aku tertawa senang lagi.

Jadi “Hifzh al-Din” diletakkan di mana kiyai?, aku mengejar
“Terakhir”. Wouw, Subhanallah. Aku kaget lagi. Mengapa, Kiyai?

“Agama melindungi semua hak itu”, kata beliau. Aku terpana. Tak bisa bicara. Luar biasa progresif beliau ini, kata hatiku. Menempatkan “Hifzh al-Din” di urutan terakhir ini jarang dikemukakan orang lain. Mungkin Kiyai Sahal atau Gus Dur. Paling tidak itulah yang aku ketahui sesudah membaca sejumlah literatur tentang Maqashid al-Syari’ah.

Imam al-Ghazali sendiri tidak mnjelaskan apakah urutan itu atas logika berpikir prioritas atau sekedar dikumpulkan saja, sehingga pilihan prioritas diserahkan kepada/tergantung konteksnya sendiri2. Maka aku tanya lagi. “Mengapa al-Ghazali menempatkn perlindungan agama ini di urutan pertama”, tanyaku. “Konteksnya menghendaki demikian”, jawabnya.

Aku dan teman-teman yang mendengar jawaban itu berdecak kagum. Itulah dialogku dengan Kiyai kharismatik yang meski sudah 93 tahun, tapi masih sangat cerdas dan jernih. Orang lain boleh berbeda. Begitu juga berbeda dalam memaknai butir-butir hak dasar yang lima itu. Juga boleh menambah untuk memperkaya wawasan, misalnya “hifzh al-‘Irdh” perlindungan atas kehormatan, dan “hifzh al-Biah” (perlindungan lingkungan hidup). Yg penting tidak marah saja. Gak ada gunanya. (HM)

Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.