Press "Enter" to skip to content

Memahami Hadis Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Mengajak kebaikan merupakan kewajiban bagi seluruh umat manusia. Apapun agamanya, ajaran dan tujuannya adalah untuk menciptakan kebaikan. Dalam Islam kita mengenal istilah amar ma’ruf nahi munkar. Sederhananya, amar ma’ruf nahi munkar adalah perintah untuk mengenal Allah, yang kemudian diikuti larangan untuk mengingkari pengenalannya tersebut.

Mengenal Allah adalah mencintai ajaran-ajaran Allah, melaksanakan ajaran karena Allah, beribadah karena Allah, meminta pertolongan kepada Allah, takut kepada Allah, berharap dari Allah, memberi karena Allah, membenci karena Allah dan mencegah pun karena Allah. Semua itu dapat dilakukan dengan memahami hakekat diciptakannya manusia yaitu untuk belajar dan memiliki ilmu. Banyak sekali ayat al-Qur’an yang menunjukkan betapa pentingnya memiliki ilmu karena salah satu keutamaan orang berilmu adalah mampu membedakan yang haq dan yang batil, yang manfa’at dan yang mafsadat. Melakukan perbuatan disertai dengan ilmu menunjukkan kehati-hatian seseorang terhadap sempurnanya beramal.

Mengajak kepada perkara yang ma’ruf dan mencegah dari perkara yang munkar hukumnya adalah fardu kifayah. Jika amar ma’ruf nahi munkar telah ditegakkan oleh sebagian orang yang mencukupinya, gugurlah kewajiban bagi sebagian lainnya. Tapi apabila tidak ada segolongan umat yang mengajak dan menyeru pada kebaikan maka berdosalah seluruh umat di lingkungan tersebut.

Pandemi COVID-19 yang tak kunjung reda, pilkada serentak di tengah aturan social distance, ujaran kebencian dari tokoh ternama atas kelompok yang tak sepaham, kasus penembakan anak bangsa dan kartu merahnya dua menteri ole KPK yang baru-baru ini turut menambah duka dan luka bagi bumi pertiwi. Rentetan kejadian tersebut tentunya memaksa kita untuk turut berkomentar. Menggunakan dalih amar ma’ruf nahi munkar banyak sekali orang-orang yang ‘tidak khatam mengaji’ salah menafsirkannya.

Saat ini banyak sekali kekeliruan yang tersebar terkait semangat ber-amar ma’ruf nahi munkar, di mana banyak orang yang ingin melakukan kebaikan akhirnya melakukan konsep ini secara sembarangan tanpa modal ilmu yang mumpuni. Sangat tidak dibenarkan sikap atau cara yang demikian. Karena mengajak kebaikan itu harus sesuai dengan tuntunan syari’at dan memperhatikan adab-adabnya.

“Man ro’a minkum munkaron fal yugoyyirhu biyadihi fainlam yastati’ fabilisanihi fainlam yastati’ fabiqolbihi,, wadzalika add ‘aful imann” merupakan sebuah hadis yang mana di dalamnya nabi mengajarkan tahapan-tahapan dalam melihat sebuah kemunkaran yaitu menggunakan tangan terlebih dahulu jiika mampu, kemudian menggunakan lisan dan yang terakhir adalah dengan hati.

Tidak sedikit dari mereka tak memahami bahwa maksud kata biyadih (dengan tangan) di hadis tersebut hanya boleh dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang saja, seperti pemerintah melalui aparat negera, tentara, polisi, pamong praja dan lain-lainnya yang lebih tau tentang keadaan negara saat ini.

Adapun fabilisanih (dengan lisan) hanya dapat dilakukan oleh tokoh agama yang tahu dan paham inti ajaran dan syariat Islam serta mengetahui kondisi masyarakat yang dihadapinya. Tahapan ini dilakukan melalui dakwah atau ceramah siraman rohani, tentunya bil hikmah dan mauidloh hasanah, bukan mencaci maki, menghujat, menghina, mengolok-olok bahkan menghakimi dengan penuh emosi dan ambisi tanpa melihat latar belakang orang yang melakukan kesalahan itu.

Menafsirkan konteks amar ma’ruf nahi munkar tahapan biyadihi dan fabilisanihi dengan cara turun ke lapangan kemudian marah-marah, geram, menghujat serta saling tuding menuding pihak lain adalah tafsiran yang tidak mencerminkan islam yang rahmah.

Kemudian bagaimana sikap orang awam? Bagi orang awam serahkanlah dua tahapan tersebut pada ahlinya. Menyadari kemampuan dan memposisikan diri pada tahapan terakhir di tengah hiruk pikuk menjadi altrenatif terbaik, yakni fabiqolbih (dengan hati). Tahapan ini memang lemahnya iman, tetapi menjadi lebih baik untuk tidak memperkeruh keadaan, ketimbang bermaksud melarang kemunkaran tetapi tidak dengan cara dan solusi yang baik.

Jika kita tidak suka dengan suatu pihak, cukupkanlah membenci dan menggerutu dengan hati atau lebih memilih untuk diam. Bukankah Rasulullah SAW bersabda ‘barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam’. Mengetahui tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah hal penting. Juga memahami perintah Allah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar hanyalah sebatas usaha untuk menghilangkan kemunkaran. Sebab, hilangnya kemunkaran itu bukan kawasan manusia tetapi merupakan hak prerogratif Allah. Karena, hidayah diberikan oleh Allah hanya pada orang yang Dia kehendaki.

Latest posts by Rikza Anung Andita Putra (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *