Memahami Hadis Menggambar dan Memahat dalam Perspektif Sosiologi

Taswir (gambar) merupakan bentuk mashdar dari kata يصور – صور yang bermakna menggambar atau melukis. Pemahaman terkait taswir dibedakan menjadi 2: pertama, taṣwir yang bermakna lukisan di atas kertas, dinding, kanvas dan lain-lain; kedua, taṣwir yang bermakna seni rupa yang bervolume atau tiga dimensi, di mana kita sering menyebutnya sebagai arca atau patung. Kemudian mengenai gambar yang dilarang pada masa Nabi. merupakan gambar yang terdiri atas 3 hal, gambar makhluk yang memiliki nyawa (manusia atau hewan), ditujukan untuk penyembahan, serta gambar atau lukisan yang dihasilkan menyaingi ciptaan Allah. (Tirmizi, 2018)

Redaksi hadis larangan melukis yaitu:

”حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ“

“Telah mengatakan kepada kami Yunus telah mengatakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid dari Ayub dari Nafi’ dari Abdullah ia mengatakan, Rasulullah bersabda, “Para pelukis gambar diazab nanti pada hari kiamat, serta dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan.”(Abdullah Bin Umar, n.d.)

Apabila kita hanya memahami hadis di atas berdasarkan teks, maka pemahaman yang terjadi adalah pelarangan terkait melukis makhluk yang memiliki nyawa. Kesimpulan semacam ini dapat dimengerti disebabkan banyaknya riwayat terkait permasalahan menggambar atau melukis. Namun, larangan melukis pada hadis tersebut dapat bertentangan dengan keadaan masyarakat di era ini, sebab lukisan maupun hasil seni rupa lainnya banyak beredar dan sangat mudah ditemui di sekitar kita. Maka, sebaiknya kita tidak hanya memahami hadis tersebut secara tekstual, sudah semestinya kita memahami lebih dalam terkait kondisi sosial saat hadis tersebut disabdakan.

Di dalam sebagian hadis, Rasullah bersabda bahwa menggambar atau melukis maupun memahat patung adalah sesuatu yang dilarang. Ketika kita amati secara sosiologis pada saat hadis tersebut Nabi sampaikan, masyarakat Arab terdahulu sedang mengalami masa peralihan dari keyakinan animisme serta politeisme menuju keyakinan monoteisme, karena itu dilarangnya pembuatan lukisan dan patung adalah tindakan Nabi yang sangat tepat. Hadis-hadis terkait pelarangan itu sangatlah sesuai dengan rutinitas bangsa Arab terdahulu yang belum bisa meninggalkan kemusyrikan sepenuhnya, seperti kebiasaan untuk menyembah patung. (Imamah, 2019)

Nabi Muhammad bersungguh-sungguh menyampaikan sabdanya kepada umat Islam di masa itu agar berhenti selamanya dari kemusyrikan. Langkah yang digunakan yakni dengan memberikan larangan untuk melukis, menjual serta memasang lukisan ataupun patung. Terlebih lagi diikuti dengan ancaman siksaan di hari kiamat kelak, yakni mereka yang menghasilkan lukisan dan patung, ataupun yang memajangnya. Itulah kondisi sosial masyarakat Arab terdahulu pada saat hadis di atas disabdakan. Namun, apabila kita melihat keadaan masyarakat di era ini, tidak adanya aktivitas penyembahan maupun pengagungan atas hasil karya seni rupa, maka membuat dan memajang lukisan diperbolehkan. Masyarakat di era ini menjadikan lukisan sebagai hasil karya yang memiliki nilai artistik dan juga estetik.(Hamzah, 2019)

Pada perkembangannya, seni rupa tidak hanya dihasilkan melalui lukisan tangan, namun juga melalui aplikasi desain grafis yang memungkinkan kita untuk mendesain banyak hal. Desain grafis banyak dimanfaatkan sebagai media pengiklanan, media seni, bahkan media dakwah. Tidak hanya itu, desain grafis membuka banyak lapangan pekerjaan, misalnya type design, photography, illustrator dan lain- lain. Dengan ini dapat kita ketahui bahwa hal tersebut memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Selain itu, desain grafis juga bisa digunakan sebagai media dakwah Islam. Media tersebut dapat berupa komik Islami, video animasi, gambar berisi hadis ataupun kata-kata mutiara. Namun, bukan berarti tidak ada batasan dalam hal desain grafis ini, desain grafis maupun lukisan diperbolehkan selama gambar yang didesain bukanlah hal-hal yang memicu konflik seperti gambar para Nabi, sesuatu yang berpotensi untuk disembah, atau segala hal yang mengandung ke-madharat-an. (Haq, 2018)

Tidak bisa dipungkiri bahwa taswir memiki dampak positif yang cukup besar dalam kehidupan. Maka, uraian hadis Nabi tentang taswir butuh disosialisasikan agar kalangan umat Islam khususnya, sadar bahwasanya terdapat hal-hal penting yang kurang kita perhatikan  dalam memahami hadis, seperti hadis tentang taswir yang berujung pada pertentangan. (Sabri, 2016)

Perbedaan zaman serta kondisi saat ini dengan masa Rasulullah sangatlah jelas. Maka, sebagai seorang muslim yang bijak, hendaknya kita memperdalam pemahaman mengenai hadis-hadis yang Rasulullah sampaikan guna menjadi pedoman bagi kehidupan mendatang.

Trevina Wigianiska

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *