Memahami Secara Umum Apa Itu Tafsir Kontemporer

Hadirnya al-Quran di tengah-tengah umat manusia memunculkan banyak ilmu baru yang dikembangkan, terlebih bidang tafsir yang terus dituntut untuk bisa menjawab berbagai persoalan umat supaya tetap sesuai dengan ajaran Islam. Di sisi lain, realitas kehidupan yang semakin kompleks membuat tafsir yang telah ada dianggap belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Oleh karenanya, muncullah pemikiran baru untuk merekonstruksi metodologi tafsir al-Quran supaya menghasilkan produk tafsir yang bisa menjawab problematika kehidupan masyarakat.

Tafsir tersebut dinamakan dengan tafsir kontemporer, yaitu suatu ilmu, aliran atau madzhab tafsir yang muncul di era kontemporer yang disesuaikan dengan kondisi kekinian dengan menggunakan ide dan metode-metode baru agar dapat menjawab problem umat yang semakin kompleks. Menurut Dr. H. Abdul Mustaqim dalam bukunya yang berjudul Dinamika Sejarah Tafisr Al-Quran, istilah kontemporer itu sendiri dimulai pada tahun 1967 ketika dunia Arab mengalami kekalahan pesang dengan Israel, yang kemudian memunculkan kritik diri lalu bangkit memperbaharui kekurangan-kekurangan model pemahaman Islam yang lebih kekinian.

Paradigma tafsir kontemporer ini berbeda dengan tafsir pada masa klasik maupun pertengahan. Ia lebih mengedepankan ide-ide rasional kritis dan lebih fungsional untuk menyelesaikan dan menjawab tantangan modernitas. Sebagai contoh ayat-ayat tentang multikultural, pluralisme, perbudakan, warisan, poligami, dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan masalah sosial keagamaan masyarakat akhir-akhir ini. Inilah tantangan tafsir kontemporer dalam menghadapi masalah baru yang melanda umat Islam. 

Di masa kontemporer ini, metodologi penafsiran tidak hanya fokus pada satu metode saja, tapi mulai berani memadukan dua atau lebih metode penafsiran. Pendekatan yang digunakan bersifat interdisipliner. Tambah penulis, tafsir kontemporer merupakan tafsir yang terbuka dalam pemikirannya karena mempunyai akses memadukan banyak ilmu di dalamnya seperti tematik, linguistik, hermeneutik, dan lain sebagainya. Sumber penafsiran tersebut berasal dari al-Quran, hadis, pemikiran (ijtihad) Ketiganya selalu saling berdialektik secara fungsional sehingga satu sama lain bisa dipadukan dengan baik.

Secara eksplisit, tafsir model kontemporer ini memiliki karakteristik yang menonjol. Di antaranya yaitu bersifat kritis, transformatif, solutif, dan non ideologis. Ia juga dinilai mampu menangkap ruh al-quran dan memosisikan al-quran sebagai kitab petunjuk, bernuansa hermeneutis yaitu meniscayakan bahwa setiap teks perlu dicurigai, ada kepentingan atau ideologi apa di balik penafsiran teks tersebut.

Menurut penulis, tafsir kontemporer ini tergolong ramah dikembangkan dalam masyarakat karena keterbukaan dan menganalisis masalah yang kontekstual dan berorientasi pada spirit al-Quran. Tak heran, dari berbagai kalangan seperti akademisi hingga organisasi kemasyarakatan berlomba-lomba merumuskan suatu pemahaman terbaru dalam menafsirkan al-Quran dengan tujuan memperluas ilmu dan menyebarkan dakwah islam, khususnya untuk menjawab berbagai permasalahan umat.

"Wala tamutunna illa wa antum katibun" - Janganlah engkau mati sebelum menjadi seorang penulis.

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.