Membedakan Cara Berpakaian: Antara Budaya dan Agama

Pada dasawarsa terakir ini, usaha-usaha Islamisasi, atau lebih tepatnya Arabisasi budaya lokal Indonesia terlihat semakin menjamur. Hal inipun menjadi kegelisahan banyak cendekiawan muslim dan beberapa budayawan yang merasakan melunturnya budaya bangsa yang mengalami pergeseran sedikit demi sedikit.

Fenomena Arabisasi budaya ini semakin menjadi tak karuan ketika mencampuradukkan antara budaya bangsa lain dan mengklaim hal tersebut sebagai ajaran agama. Pada umumnya hal ini terjadi kepada remaja yang sedang menggebu-gebu dalam berhijrah, hingga lupa membedakan yang mana budaya yang mana syariat agama.

Di antara dalil yang sering digunakan sebagai hujjah adalah ayat al-Quran dalam surat al-hasyir ayat 7:

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”

Sekilas ayat ini memerintahkan umat muslim untuk mengikuti semua yang diberikan Rasulullah, baik dari agama dan syariat, atau dalam urusan dunia berupa budaya berpakaian dan muamalah. Hal ini disebabkan lafaz مَا “ma” dalam ayat tersebut yang mengandung arti umum, maka dapat diartikan sebagai wajib mengambil dan menaatinya.



Sebenarnya tidak selamanya status ayat ini bersifat umum, karena terdapat juga riwayat Nabi yang mentakhsis (mengerucutkan) keumuman ayat ini. Di antaranya adalah hadis Nabi Ketika melihat penduduk Madinah yang sedang mengawinkan pohon kurma. Waktu itu Nabi datang dan melarang mereka melakukan penyerbukan dengan cara mengawinkannya, namun setelah beberapa kurun waktu, alih-alih menjadi subur, ternyata pohon tersebut menjadi tidak berbuah.

Setelah kejadian tersebut, mengadulah sahabat kepada Nabi, Nabipun menjawab:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kaian lebih mengerti dengan urusan dunia (pertanian) kalian” (HR. Muslim, No. 4358)

Dalam redaksi hadis lain,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ

Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, oleh karenanya apabila aku memerintahkan sesuatu dari urusan agama kalian, maka ambillah (laksanakanlah) dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian berdasar pendapatku (al-ra’yi) semata, maka ketahuilah bahwa sungguh aku hanyalah manusia biasa.” (HR. Muslim, No. 4357)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan, bahwa ayat sebelumnya tidak dipahami secara umum, karena terdapat hadis yang mengkhususkannya. Menurut Imam al-Nawawi, kata “al-ra’yi” dalam hadis di atas adalah urusan dunia dan kehidupannya, bukan tentang syariat Islam. Maka, yang wajib diambil dari Rasulluah adalah urusan agama saja, sedangkan di luar itu, yang berupa budaya Arab atau tentang kehidupan dunia berdasarkan pendapat Nabi, boleh diambil atau ditinggalkan.



Kemudian, bagaimana dengan tren anak muda yang suka menggunakan budaya Arab seperti surban dan gamis seolah-olah hal itu adalah syariat Islam yang wajib dilakukan? Jawabannya boleh-boleh saja, tidak ada masalah, yang salah adalah mengatakan budaya berpakaian seperti itu adalah syariat yang wajib dilaksanakan.

Budaya pakaian Arab seperti surban, gamis dan sebagainya ini semakin meyakinkan bukan bagian dari syariat Islam dengan adanya fatwa ulama Saudi Arabia. Seperti fatwa Syaikh bin Baaz dan Syaikh Salih al-Ustaimin tehadap pakaian. (Fatawa al-Lajnah al-Da’imah.., XXIV/42)

Hal ini kemudian menjadi aneh jika ada mengatakan surban dan gamislah sunah Nabi, sementara banyak lagi budaya yang dilakukan oleh Nabi waktu itu seperti kolansuah (peci atau penutup kepala), burnus (sejenis mantel bertudung kepala), rida (kain atasan sejenis selendang) dan sebagainya. Bahkan, Sebagian orang hanya memakai surban dengan bawahan celana jean, seolah pakaian nabi hanya surbannya saja. Apakah tebang pilih mempraktikkan hal yang dianggap sebagai sunnah itu hal yang lazim?



Prof. Ali Mustafa Yakub, pakar hadis Indonesia yang juga lulusan Madinah mengatakan, surban bukan bagian dari agama, namun termasuk dari budaya arab yang boleh diabaikan atau diikuti. Pakaian gamis, sorban dan aksesorisnya adalah pakaian kemuliaan bangsa Arab yang tentu berbeda dengan pakaian bangsa-bangsa lain. Bahkan, jika diperhatikan, pakaian itu sendiri mengalami perubahan dari zaman Nabi hingga saat ini.

Gamis, surban dan aksesorisnya merupakan pakaian kemuliaan budaya Arab. Dalam konteks Indonesia sendiri, pakaian kemuliaan bangsa ini adalah Batik dan songkok hitam. Dalam dunia pesantren, pakaian kemuliaan santri adalah sarung, sama seperti budaya topi turbus di Turki, Maroko dan sekitarnya.

Oleh karena itu, hakikatnya, orang yang menggunakan pakaian kemuliaan bangsanya masing-masing itu telah melaksanakan sunah Nabi Muhammad, selama tidak menyalahi aturan berpakaian yang disepakati ahli fikih. Orang Indonesia yang berpakaian dengan batik dan bertutup kepala menggunakan songkok hitam, atau menggunakan pakaian ada kemuliaan daerahnya, maka ia telah mengikuti Rasulullah.

Dari hal ini kita dapat melihat nilai universalitas agama Islam. Setiap bangsa dan negara memiliki cara berpakaian dan ciri khasnya masing-masing. Hal ini juga yang menunjukkan bahwa Islam tidak hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk rahmat bagi alam semesta. Wallahu a’lam.



Nanda Ahmad Basuki

http://santritulen.com

Penulis adalah Redaktur website santritulen.com. Penulis juga merupakan alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2019 dan Mahasiswa YTB Magister di Necmettin Erbakan University Konya hingga saat ini.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *