Meminimalisir Hoax dengan Menjadi Konsumen Cerdas, Kritis dan Selektif


Meminimalisir Hoax dengan Menjadi Konsumen Cerdas, Kritis dan Selektif

Seiring berkembangnya zaman dan canggihnya teknologi, segala informasi yang tersebar di media sosial semakin mudah untuk diakses. Informasi pun semakin mudah didapatkan dan juga tersebar hanya dengan hitungan detik. Adanya media sosial memang memudahkan penggunanya untuk saling bertukar informasi, baik informasi dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun, tak sedikit dari pengguna media sosial yang mempergunakannya untuk menyebar kebencian, provokasi dan hoax.

Kata hoax  dalam KBBI memiliki arti kabar, informasi, berita palsu atau bohong. Di era digital, kata-kata ini sering bermunculan dan menimbulkan keresahan di tengah kehidupan masyarakat. Terlebih di masa yang semua serba online seperti saat ini, yang menuntut orang untuk lebih sering mengakses internet. Sebagian besar pengguna media sosial cenderung bersifat konsumtif, dengan mudah akan mendapatkan kabar up to date dan akan dengan mudah pula menyebarluaskan tanpa tahu kebenaran dari informasi tersebut.  

Jika kita menelisik sejarah 1400 tahun yang lalu, tepatnya di masa Rasulullah penyebaran berita hoax pernah terjadi, atau yang lebih dikenal dengan istilah hadis al-ifki. Yaitu ketika Rasulullah akan kembali ke Madinah setelah perang Bani Mushtaliq, yang saat itu di temani dua istri beliau bernama Sayyidah Aisyah dan Ummu Salamah di tengah- tengah perjalanan menuju Madinah, Sayyidah Aisyah bermaksud untuk buang hajat. 

Namun ketika ingin kembali ke rombongan, ternyata kalung beliau hilang, hingga akhirnya beliau berusaha mencarinya. Singkat cerita, Sayyidah Aisyah tertinggal rombongan, dan rombongan yang bersama Sayyidah Aisyah mengira bahwa beliau sudah berada di dalam sekedup (pelana atau tempat duduk dari kayu yang di pasang di punggung unta). Ketika beliau kembali kerombongannya ternyata rombongan telah pergi. Akhirnya beliau duduk termenung sampai tertidur. Sayyidah Aisyah ditemukan oleh sahabat Shafwan bin Mu’athal yang tertinggal di belakang rombongan karena mencari sesuatu yang hilang. 

Sayyidah Aisyah kemudian menaiki unta yang dibawa Shafwan, sedangkan Shafwan berjalan dengan menuntun unta yang dinaiki Sayyidah Aisyah tanpa ada percakapan di antara mereka walau sepatah katapun. Ketika sampai di Madinah, Sayyidah Aisyah jatuh sakit selama satu bulan. Sehingga beliau tidak keluar rumah, sementara di luar orang-orang ramai menyebarkan berita bohong tentang dirinya dan Shafwan. Orang dibalik penyebaran berita bohong itu bernama Abdullah bin Ubay. 

Ketika Sayyidah Aisyah tahu tentang kabar tersebut, sakit beliau bertambah parah.  Beliau lalu meminta izin pada Rasulullah untuk tinggal di rumah ayahnya dan Rasul pun mengizinkannya. Rasulullah mendatangi beliau dan menanyakan yang sebenarnya terjadi. Sehingga Allah menurunkan wahyu-Nya dalam Surah An-Nur ayat 11-21 sebagai klarifikasi atas berita bohong tersebut. Setelah turunnya wahyu, Rasulullah merasa bahagia dan menjadi yakin bahwa berita itu bohong. Kemudian Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut pada umatnya dan memerintahkan untuk menjilid orang yang berbohong (menuduh zina) dengan 80 kali jilidan (Umar  Abdul Jabbar, Khulasoh Nurul Yaqin, juz 2. Hal 32-34 ).  

Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang berkaitan dengan kasus hoax, yang dari beberapa ayat-ayat tersebut jika dilihat kesimpulan penafsirannya menjelaskan bahwa Allah telah menyediakan solusi untuk permasalahn yang ada (memberikan tips untuk menanggulangi tersebarnya hoax).

Seperti dalam Kalam-Nya yang Agung yaitu, surah Al-Hujurat ayat 6. Allah berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Dan juga dalam redaksi lain yaitu, surah An-Nisa ayat 83, Allah berfirman:

وَاِ ذَا جَآءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَ مْنِ اَوِ الْخَـوْفِ اَذَا عُوْا بِهٖ ۚ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِ لٰۤى اُولِى الْاَ مْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِۢطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 83)

Dari ayat-ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hoax yang dalam Al-Qur’an direpresentasikan dengan kata-kata ifk, fasiq, dan munafiq dapat dicegah dengan cara berfikir kritis, tabayyun dan juga memperluas wawasan. Sebagai seorang konsumen ketika mendapatkan sebuah informasi jangan mudah untuk menyebarluaskan dan kita harus berusaha  memastikan kebenaran informasi tersebut (ber-tabayyun kepada orang yang bersangkutan atau bertanya kepada ahlinya) agar tidak terjadi kesalahpahaman dan menjadi jelas kebenarannya.

Sebagai konsumen, kita hendaknya harus cerdas, kritis dan juga selektif dalam mempercayai sebuah berita. Kita harus pintar dalam memilah dan memilih sebuah informasi, sebab pemutusan mata rantai penyebaran berita hoax itu dimulai dari diri sendiri. 


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.