Menakar Efektivitas KKN dari Rumah

Potret pandemi COVID-19 di Indonesia hingga saat ini masih belum berakhir. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menyampaikan bahwa data terus bergerak dan bertambah setiap harinya. Sejak Juli 2020, dilansir dari https://covid19.go.id/ menyebutkan bahwa data penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 lebih dari 1000 orang setiap harinya. Keadaan darurat itulah yang akhirnya memaksa semua pihak melakukan beragam penyesuaian agar aktivitas tetap bisa dilaksanakan. Kampus sebagai salah satu pihak yang terdampak COVID-19 juga dituntut melakukan penyesuaian tertentu agar aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat bisa terus berjalan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Perubahan Regulasi Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Pendis No. 697/03/2020 tentang Upaya Pencegahan Penyebaran COVID-19 dari Lingkungan PTKIN. Edaran ini selanjutnya ditindaklajuti oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia dengan mengeluarkan Surat Direktur Diktis No. B-713/DJ.I/Dt.I.III/TL.00/04/2020 dalam bidang LITAPDIMAS. Mengacu pada kebijakan tersebut, beberapa PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) memutuskan untuk melaksanakan KKN-DR dan KKN-KS.

Dilansir dari https://nasional.tempo.co/, Kepala Sub Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suwendi, menjelaskan bahwa KKN-DR (Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah) dapat dilakukan dengan memanfaatkan media sosial dan melakukan produktivitas keilmuan. Mahasiswa diminta untuk aktif membangun kesadaran dan kepedulian kepada masyarakat terhadap penyakit COVID-19. Mahasiswa juga bisa membuat konten publikasi terkait relasi agama dan kesehatan (sains) dengan tepat, moderasi beragama, pendidikan serta dakwah keagamaan Islam. Sementara terkait produktivitas keilmuan, mahasiswa diminta menulis buku, karya tulis ilmiah, opini, dan lain-lain yang disesuaikan dengan program studi masing-masing.

Sedangkan KKN-KS (Kuliah Kerja Nyata Kerja Sosial) menurut beliau dapat dilakukan dengan cara terlibat aktif dalam pencegahan dan penanganan penyebaran COVID-19 di masyarakat. Hal tersebut diaktualisasikan melalui kerja sama dengan kementerian ataupun lembaga dan/atau gugus tugas pada PTKI masing-masing di bawah pengendalian dan pengawasan pihak berwenang serta memenuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Model KKN-KS ini hanya dapat diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari program studi rumpun kedokteran dan sains teknologi yang diseleksi secara ketat dan memenuhi syarat yang ditentukan oleh masing-masing PTKI.

Problematika dan Solusi

Model baru KKN ini sebenarnya memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan model KKN pada umumnya. Pertama, kampus dapat menjangkau daerah yang lebih luas. Jangkauan KKN-DR dan KKN-KS ini bisa dua kali lipat atau bahkan bisa menjangkau seluruh penjuru negeri. Kedua, mahasiswa akan lebih kenal dan peduli dengan masyarakat di daerah asal masing-masing. Sehingga akses dan intervensi juga akan lebih mudah untuk dilakukan. Mahasiswa adalah agent of change, di mana perubahan itu harus dimulai dari lingkungan terdekat mereka sendiri. Dengan melakukan KKN di daerah asal masing-masing, mahasiswa dapat memberi kebermanfaatan bagi desa dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Ketiga, biaya yang diperlukan cenderung lebih murah. Mahasiswa tidak perlu menyewa rumah, gedung, atau tempat tinggal lain untuk melaksakan KKN dari rumah ini.

Kendati demikian, kebijakan baru tentang KKN ini juga memiliki banyak problem yang akan dihadapi oleh mahasiswa. Misalnya, program akan cenderung monoton karena hanya dilakukan secara mandiri atau sendiri-sendiri. Bagi mahasiswa yang tempat asalnya masih dalam zona merah akan lebih sulit untuk melaksakan KKN ini karena semua program bahkan perizinan, survei, dan tahap-tahap persiapan lainnya harus dilakukan secara daring. Sehingga mahasiswa yang merasa kesulitan karena banyaknya tuntutan cenderung akan melaksanakan KKN secara formalitas saja.

Problematika tersebut sebisa mungkin dikurangi atau bahkan dihilangkan agar esensi KKN dapat dirasakan oleh masyarakat. Problem monotonnya program KKN dapat diatasi dengan menambah intensitas sharing melalui daring dengan teman-teman lainnya. Hal ini bertujuan agar ide, gagasan, dan pemikiran baru muncul untuk kemudian diimplementasikan. Walaupun KKN dilaksanakan secara mandiri, namun merumuskan ide dan perencanaan dapat dilakukan secara bersama-sama. Mahasiswa yang memang masih dalam zona merah dapat menjalankan KKN dengan membuat konten digital yang sesuai dengan kebutuhan, video tentang moderasi beragama, dan karya lain yang bermafaat bagi masyarakat. Kampus sebagai institusi yang menyelenggarakan KKN harus menyiapkan langkah-langkah, teknis, dan SOP yang jelas agar KKN tidak hanya sebagai pemenuhan kewajiban namun memiliki nilai kemanfaatan.

“KKN bukan sekedar formalitas belaka melainkan harus dilakukan dengan tepat guna. KKN tidak hanya perihal pengabdian di desa, tetapi juga kebermanfaatan bagi sesama. Oleh sebab itu, setiap prosesnya harus diiringi kesungguhan dan keikhlasan, bukan sekedar mencari angka di lembar nilai perkuliahan.”



Syifa’ Nurda Mu’affa

Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan merupakan Duta Santri Nasional 2018

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *