Mendidik Anak dari Kaca Mata Pemenuhan Aspek Psikologinya

Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan an perkembangan unik. Anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunkasi, yang tercakup dalam kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecedasan spriritual (SQ) atau kecerdasan agama atau religius (RQ), sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya. Hal itu meliputi pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh, agar anak dapat dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam mendidik anak-anaknya, setiap orang tua pasti memiliki cara yang beragam. Mulai dari orang tua yang otoriter hingga pola asuh orang tua yang cenderung demokratis. Apapun cara yang digunakan orang tua dalam mendidik anaknya tentu bermuara pada harapan kebaikan pada anaknya. Anak adalah milik orang tua atau institusi, sehingga orang tua mempunyai hak atas diri anak.

Hukum melindungi anak-anak dari hukum fisik dan perlakuan salah secara emosional. Orang tua seringkali menganggap bahwa anak adalah miliknya. Namun islam memandang bahwa anak adalah milik Allah., sedangkan orang tua adalah yang dipercaya dan diberi amanat oleh Allah untuk mendidiknya sehingga tidak boleh memperlakukan seenaknya sesuai kehendak dirinya, apalagi tidak sesuai dengan ajaran islam. Anak sebagai investasi masa depan sangat dekat hubungannya dengan anak sebagai milik orang tua yang berkaitan dengan kehidupan masa depan keluarga dan bangsa.

Diharapkan kesadaran orang tua bahwa anak memiliki aspek kebutuhan yang harus di penuhi untuk mencapai aktualisasi diri dalam mengembangkan potensi yang ada pada seorang anak. Dalam hal ini orang tua tidak bisa memaksakan pemikirannya untuk menarik seorang anak untuk menjadi irama ke egoisannya. Karena tidak sedikit orang tua yang masih memperlakukan seorang anak tanpa melihat terlebih dahulu apa yang sebenarnya diinginkan anak tersebut.

Peran orangtua sangatlah penting dalam membantu anak memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, salah satunya adalah kebutuhan psikologis. Faktanya, kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut memang mutlak diperlukan, bahkan memegang peranan penting untuk memberikan landasan dari mana pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dilanjutkan (Gunarsa, 2008).

Feist & Feist (2010) juga mengungkapkan jika tidak terpenuhinya salah satu dari kebutuhan-kebutuhan mendasar dapat mengarah pada beberapa macam penyakit. Maslow (dalam Feist & Feist, 2010) berasumsi bahwa semua orang dimanapun termotivasi oleh kebutuhan dasar yang sama, sehingga dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan faktor utama dalam mendorong individu untuk memenuhi kebutuhan dasar diri sendiri.

Pada dasarnya psikologi terbagi atas dua bagian, yaitu psikologi umum dan psikologi khusus. Psikologi umum adalah ilmu yang mempelajari konsep umum tentang perilaku individu, apa, mengapa dan bagaimana individu berperilaku. Sedangkan psikologi khusus adalah kelompok psikologi yang mempelajari perilaku individu secara khusus, baik kekhususan karena tahap perkembangannya, posisinya, aspek yang mendapatkan sorotan utamana atau karena kondisinya.

Yang termasuk dalam kelompok psikologi khusus adalah psikologi perkembangan yang terbagi atas psikologi anak, remaja, dewasa dan usia lanjut, psikologi pria dan wanita, psikologi abnormal, psikologi kepribadian, psikologi diferensial dan psikologi binatang.

Dalam konsepsi psikologi, Abraham Maslow memberikan cerminan bagi orang tua bagaimana agar memberikan aspek kebutuhan psikologi pada anak, sehingga anak tidak menjadi burung dalam sangkar. Teori Hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu  pertama, Kebutuhan Fisiologis, yang merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia, ke dua, Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, ke tiga, Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, ke empat, Kebutuhan akan harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain serta pengakuan dari orang lain.

Jika ke empat kebutuhan tersebut telah terpenuhi maka kebutuhan kelima akan terpenuhi pula yakni aktualisasi diri, ini merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, yang berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya

Memahami tentang teori hierarki kebutuhan psikologi yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, maka kita dapat mengambil pelajaran khususnya orang tua bagaimana pemenuhan kebutuhan seorang anak agar mencapai aktualisasi diri ditekankan pada keselarasan orang tua dalam menerima pemikiran anaknya seperti pada point ke empat yakni kebutuhan harga diri dan perasaan dihargai orang lain serta pengakuan dari orang lain.

Kesalahan pola asuh orang tua pada anaknya tanpa sadar seringkali terjadi. Anak adalah amanah dari Tuhan yang wajib kita jaga. Mendidik anak dengan sebaik-baiknya adalah salah satu wujud untuk menjalankan amanah tersebut. Dan langkah awal untuk mendidik anak dengan baik harus dimulai dari keluarga. Sebab keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak. Sebelum anak mengenal para tetangganya, teman-teman yang ada di sekitar rumahnya, dan bangku sekolah, anak lebih dulu dididik oleh keluarganya. Untuk itulah keluarga ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik anak

Pada point ke dua dan ke tiga terkadang masih banyak orang tua yang salah dalam menafsirkan. Sebagai orang tua tentu kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Pintar dan dapat dibanggakan. Untuk itulah kita akan menjaga dan mendidiknya dengan cara yang terbaik.

Namun sebagai orang tua sering tanpa menyadari apa yang dianggap yang terbaik itu justru meracuni anak sendiri. Kita berpikir itu sebagai cara untuk mengungkapkan kasih sayang. Sayangnya hal itu malahan membuat anak-anak tidak bertumbuh dan tentu saja dalam meng aktulisasikan dirinya akan terhambat sebab anak memperoleh kebutuhan psikologi pada point ke tiga dan ke empat secara berlebihan dan tidak terkontrol yang justru akan membuat anak malas untuk berfikir dan menggali potensi yang ada pada dirinya.

Hal yang paling umum dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anaknya seperti: terlalu memanjakan, terlalu melindungi, dan terlalu memuji. Yang akhirnya di kemudian hari akibatnya dapat meracuni hidup mereka. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang manja dan terlalu memuji dirinya sendiri sehingga hal tersebut membuat potensi yang ada pada diri anak akan tertutup.

Mendidik anak sesuai porsinya dengan tetap memperhatikan aspek kebutuhan psikologi dari seorang anak. Tidak terlalu berlebihan dan melampaui batas porsi karena hal tersebut justru akan menutup aktualisasi seorang anak. Berilah setengahnya jangan semuanya agar anak bisa berfikir untuk memenuhi setengahnya lagi dengan melihat potensi yang ada pada dirinya sehingga point kelima yakni aktualisasi diri juga akan terpenuhi oleh seorang anak.

Luluk Mukaromah

Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pemenang Duta Santri Nasional 2018

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *