Press "Enter" to skip to content

Meneladani Semangat Juang Rahmah el-Yunusiyyah: Pelopor Sekolah Islam Putri Pertama di Indonesia

Waktu Baca:5 Menit, 10 Detik

“Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?” –Rahmah, 1923

Rahmah el-Yunusiyyah merupakan ulama asal minangkabau yang berkiprah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia. Perempuan yang akrab disapa ‘tek Amah’ ini lahir pada tanggal 20 Desember 1900 M di kenegerian Bukit Surungan, Padangpanjang, Sumatera Barat. Ibunya bernama Rafi’ah berasal dari kabupaten Langkat Bukittinggi dan masih berdarah keturunan ulama. Empat tingkat diatasnya memiliki hubungan dengan mamak Haji Miskin, tokoh pembaharu gerakan Paderi. Ayahnya seorang ulama besar bernama Muhammad Yunus yang juga dikenal sebagai hakim/qadhi di daerah Pandai Sikat. Kakeknya bernama Syeikh Imaduddin juga dikenal sebagai ulama ahli ilmu falak dan tokoh tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Tanah Minang.

Pada masa kecilnya Rahmah dikenal sebagai anak yang berkemauan kuat dan bercita-cita tinggi. Hal ini dibuktikan dengan kegigihannya dalam menimba ilmu secara mandiri. Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal yang tinggi, Rahmah banyak belajar kepada sang kakak Zainuddin Labay el-Yunusi dan Muhammad Rasyad. Rahmah juga ikut bersekolah di Diniyyah School –sebuah perguruan Islam berbasis modern- yang didirikan kakaknya Zainuddin Labay pada tahun 1915. Keahlian dalam menguasai bahasa asing seperti Inggris, Arab, dan Belanda oleh kakaknya Zainuddin, membantu Rahmah dalam mengakses sejumlah literatur asing. Hal ini memudahkan Rahmah untuk menguasai berbagai macam keilmuwan. Ia sangat tekun dan rajin serta dikenal sebagai perempuan yang cerdas.

Tidak sampai setahun bersekolah Rahmah dijodohkan dengan seorang ulama muda bernama Baharuddin Lathif dari Sumpur, Padangpanjang. Pernikahan ini hanya bertahan 6 tahun. Rahmah bercerai dan tetap berhubungan baik dengan mertua dan mantan suaminya itu. Setelah bercerai, Rahmah tidak menikah lagi dan mendedikasikan diri sepenuhnya pada sekolah putri yang didirikannya.



Sembari mengikuti pembelajaran di Diniyyah School yang sifatnya ko-edukasi, timbulah beberapa kegelisahan di dalam diri Rahmah. Ketika bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan menjadi tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam proses pembelajaran. Ia mengamati berbagai persoalan dalam perspektif fiqh yang tidak dijelaskan secara rinci oleh guru laki-laki. Untuk itu, ia mengajak beberapa temannya Rasuna Said, Nanisah, dan Jawana Basyir untuk membuat kelompok belajar yang membahas seputar permasalahan agama dan persoalan perempuan kepada Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyiak Haji Rasul) ayah dari Alm. Buya Hamka di Surau jembatan besi. Melalui proses pembelajaran inilah Rahmah terinspirasi untuk membuat sekolah khusus putri. Menurutnya, perempuan harus mengetahui lebih dalam pembahasan fiqh ataupun pembelajaran seputar persoalan perempuan. Perempuan juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan seperti laki-laki.

Niat baik Rahmah ini diutarakan kepada sang kakak, guna mendapat restu dan dukungan. Sang kakak menyetujui dan mendukung penuh cita-cita Rahmah ini begitupun rekan-rekannya yang tergabung dalam PMDS (Persatuan Murid Diniyyah School). Didirikanlah sekolah khusus putri pertama pada tanggal 1 November 1923 dengan nama Madarasah Diniyyah li al-Banat yang berlokasi di Mesjid Pasar Usang. Tujuan akhir Rahmah adalah meningkatkan kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat melalui pendidikan modern yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Ia percaya bahwa perbaikan posisi kaum perempuan dalam masyarakat tidak dapat diserahkan kepada pihak lain, hal ini harus dilakukan oleh kaum perempuan sendiri

Pada tahun 1924, sang kakak Zainuddin menghembuskan nafas terakhirnya. Hal ini tentu meninggalkan luka yang mendalam bagi Rahmah. Ia berupaya untuk mempertahankan pondok pesantren yang telah dibangunnya sendiri tanpa dukungan dari sang kakak. Ketika datang bencana gempa hebat yang meluluhlantakkan gedung sekolah yang dibangunnya, Rahmah mendapat banyak tawaran bantuan salah satunya oleh pemerintah Belanda. Sekolah akan disubsidi penuh dengan syarat Diniyyah Puteri menjadi lembaga dibawah pengawasan pemerintahan Belanda. Dengan tegas Rahmah menolak bantuan tersebut. Ia tidak ingin ada campur tangan Belanda yang akan membelokkan sistem pendidikan yang susah payah ia rancang. Rahmah mengumpulkan uang dari hasil ceramah di daerah Sumatera untuk perbaikan gedung yang rusak. Seiring berjalannya waktu gedung sekolah selesai dibangun dan semakin berkembang.

Pada masa revolusi, Rahmah pernah ditangkap oleh tentara Belanda karena kehadirannya dapat mengobarkan perlawanan. Ia ditangkap ditempat persembunyiannya di Gunung Singgalang dan ditahan selama 9 bulan. Rahmah juga memperjuangkan dan mempertahankan para gadis serta janda Indonesia dari keinginan tentara Jepang untuk dijadikan penghibur dan pemuas nafsu mereka, kemudian mendesak rumah bordil yang ada disekitar kota di Minangkabau untuk segera ditutup. Kegiatan ini dilakukan bersama sebuah badan bernama ADI (Anggota Daerah Ibu).



Selain berkemauan kuat, Rahmah juga dikenal sebagai anak yang tekun menuntut ilmu apa saja. Sekitar tahun 1931-1935 Rahmah mengikuti kursus Ilmu kebidanan di rumah sakit Umum Kayu Tanam dan mendapat izin praktek dari dokter. Rahmah juga mempelajari olahraga dan senam dari Mej Oliver seorang guru Normal School di Guguak Malintang, kemudian mempelajari dan menekuni berbagai keterampilan yang mestinya dimiliki oleh kaum perempuan seperti memasak, menenun, dan menjahit.

Sebagai seorang perempuan, Rahmah ingin pendidikan bisa diakses oleh kaumnya untuk mengangkat derjat kaum perempuan tersebut. Wacana yang digagas oleh Rahmah bukanlah upaya ‘membebaskan’ atau ‘memerdekakan’ seperti konsep emansipasi Barat. Hakikatnya, perempuan dalam tatanan adat minang memang tidak sedang terjajah oleh kaum pria. Ia hanya menginginkan kaum perempuan mendapatkan posisi sebagaimana ajaran Islam menempatkan posisinya dalam bidang pendidikan. Perempuan bisa meningkatkan mutu pendidikannya tanpa mengabaikan fitrah dan perannya sebagai seorang perempuan. Visi Rahmah tentang peran perempuan adalah peran dengan beberapa segi: sebagai pendidik, pekerja sosial demi kesejahteraan masyarakat, teladan moral, muslim yang baik dan juru bicara untuk mendakwahkan pesan-pesan Islam.

Semangat Rahmah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan perlu kita teladani. Ia tidak menginginkan kaumnya hanya berdiam diri di rumah menunggu dijemput untuk dijodohkan seperti tradisi yang sudah ada sebelumnya. Ia ingin kaum perempuan dapat mempersiapkan dirinya untuk menjadi Ibu cerdas dan terampil, yang  nantinya akan melahirkan generasi terbaik penerus bangsa. 

Langkah kongkrit Rahmah untuk memajukan pendidikan perempuan ini mendapat apresiasi dari banyak kalangan, salah satunya dari Rektor Al-Azhar University, Syekh Abdur Rahman. Pada tahun 1955 ia mengunjungi Diniyyah Puteri dan menyatakan kekagumannya. Hal tersebut menjadi acuan bagi kampus Internasional sekelas al-Azhar Mesir untuk mendirikan pendidikan khusus perempuan pula. Dalam kunjungan tersebut, Rahmah diberi gelar kehormatan ‘Syaikhah’. Rahmah adalah ulama perempuan yang pertama kali mendapatkan gelar istimewa yang diperuntukkan bagi orang-orang yang menguasai bidang tertentu tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwasanya perjuangan Rahmah dalam memajukan pendidikan perempuan tidak diakui secara nasional saja namun dunia Internasional juga.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *